Tampilkan postingan dengan label air terjun. Tampilkan semua postingan

Melepas Penat di Air Terjun Pelangi

No Comments »

Kabupaten Gowa boleh dibilang surganya wisata air terjun. Entah sudah ada berapa air terjun yang di sana. Tapi yang jelas semuanya indah dan menarik minat pengunjung. Melalui Air Terjun Pelangi, daerah Gowa ini lagi-lagi menunjukkan pesonanya.


Berwisata sudah menjadi tren. Bahkan seolah berubah menjadi life style anak muda atau bersama keluarga. Melakukan perjalanan mencari, menemukan, dan menikmati keindahan alam seakan kebutuhan; beristirahat dari kepenatan pekerjaan nyaris seminggu atau mencoba menghibur diri sendiri.

Air Terjun Pelangi bukanlah pilihan terburuk untuk mengentaskan stres yang anda alami. Destinasi wisata di Kabupaten Gowa ini menawarkan pemandangan alam yang masih asri dan alami. Wajar saja, lokasi ini baru dibuka dan diperkenalkan sekitar sebulan yang lalu. Destinasi wisata ini terletak di Desa Jonjo, Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa. Jika dari Makassar, jarak tempuh menuju lokasi ini sekitar 60 km atau sekitar 2 jam dengan berkendara motor atau mobil.

Setiba di Desa Jonjo, sebelum memasuki daerah Air Terjun Pelangi, kendaraan harus diparkir di pekarangan rumah yang dimanfaatkan warga. Biaya parkir sebesar Rp3.000. Itu belum termasuk biaya karcis masuk Rp5.000.

Meski tergolong destinasi wisata baru, akses jalan menuju Air Terjun Pelangi sudah agak baik. Berkat swakelola warga desa di sana. “Biasanya kan yang dikeluhkan pengunjung itu kalau ke tempat (wisata) baru jalan masuknya yang susah, makanya itu dulu yang kita perbaiki,” tutur salah seorang warga yang ditemui di sana.

Nama ‘pelangi’ untuk air terjun ini sendiri, menurut penuturan salah seorang warga asli di sana, sengaja diambil untuk menarik minat perhatian warga. Bisa jadi, keindahan pelangi juga menjadi representasi tempat wisata ini. “Sebenarnya biasa ada juga muncul pelangi di sekitar air terjun itu, makanya dinamakan Air Terjun Pelangi,” tuturnya.

Bahkan, pondok-pondok bambu tempat warga berjualan dan sebagai tempat peristirahatan pengunjung telah dibangun. Sesampai di sini, pondok sederhana sebagai tempat peristirahatan itu disewakan Rp20.000 setiap petaknya. Pun disediakan ban karet untuk berenang bagi dengan harga sewa Rp10.000.

Bagi anda yang ingin berenang diharapkan tetap hati-hati. Sebab ke dalaman air di dekat air terjun mencapai 6-7 meter. Papan peringatan di sekitar air terjun sengaja dipasang untuk mengingatkan warga maupun para wisatawan. (*)

Di lokasi Air Terjun Pelangi, sudah banyak berdiri kios/warung sederhana dan juga gazebo bagi para pengunjung yang ingin beristirihat.
Seusai makan siang, beristirahat dan menikmati aliran sungai yang berada di sekitar Air Terjun Pelangi.

Menggapai Air Terjun Massima’rangan

No Comments »

Ada begitu banyak destinasi wisata baru yang mulai terkenal di masyarakat karena dipromosikan lewat media sosial. Air Terjun Cinta adalah salah satu dari sekian banyak lokasi yang telah lebih dulu populer di kalangan wisatawan, terkhusus di Sulawesi Selatan.



Air Terjun Massima’rangan, namanya. Namun, para netizen sudah terlanjur mengenalnya sebagai Air Terjun Cinta. Destinasi wisata baru yang memang belakangan ini tengah masuk ke dalam “surga tersembunyi” yang sepertinya wajib dikunjungi para pejalan di Sulsel. Belum begitu banyak orang yang mengetahuinya. Dan, tentu saja, belum dikelola oleh pemerintah.
Merasa terpanggil mengunjungi destinasi wisata ini, memang karena cukup takjub dengan foto-foto yang diunggah para netizen di media sosial. Di facebook, banyak sekali orang yang berkomentar kagum dengan keindahan air terjun tersebut. Dinamakan Air Terjun Cinta karena lekukan di  kubangan air terjun terlihat berbentuk hati. Jika difoto dari atas air terjun itu, memperlihatkan bentuk hati. Walaupun sebenarnya tak berbentuk sempurna.
Saking penasarannya, saya terdorong untuk membuktikannya. Hingga pada suatu akhir pekan di hari Minggu, saya bersama teman akhirnya berangkat ke sana. Enam orang dengan mengendarai tiga motor. Berangkat dengan pengetahuan yang minim. Hanya bermodal pengetahuan nama desa dan kecamatannya saja. Tapi tak mengapa, soal rute nanti belakangan. Kami pikir, dengan bertanya sana-sini dalam perjalanan, para warga pasti bakal memberitahukan.
Seperti yang kami kira, belum setengah perjalanan, kami sudah mulai bertanya lagi. Pertanyaan terkait dimana Desa Tamalatea, Kecamatan Manuju itu. Saya sendiri tidak menghitungnya, tapi dipastikan kami harus beberapa kali singgah di tengah jalan hanya untuk bertanya kepada beberapa warga di sana.
Tidak mudah menjangkau lokasi Air Terjun Cinta. Ini seperti memberikan sebuah pengalaman hidup kalau yang namanya menggapai cinta itu...memang butuh perjuangan. Hehehe! Buktinya, medan yang kami lalui untuk ke sana cukup menguras energi meski berkendara motor.
Perjalanan menuju Air Terjun Massima’rangan boleh dikata menantang. Bukan hanya karena jarak tempuh yang begitu jauh dari Makassar, tapi juga akses jalan menuju lokasi yang masih belum baik. Jalan rusak, berbatu, menurun dan mendaki cukup menyiksa motor yang dipakai. Belum lagi jika anda memakai mobil.
Kami yang terus berkendara dengan kondisi cukup lelah karena terik matahari, masih harus singgah bertanya. Berjalan cukup jauh, sepertinya tidak membuat kami yakin apakah jalan yang dituju memang benar. Di antara kami pun mulai mengeluh. “Coba tanya berapa kilometer lagi jauhnya,” tanya seorang teman mengimbau kepada saya setiap kali singgah dan hendak mengajukan pertanyaan kepada warga.
Banyaknya kendaraan bermotor terparkir di depan rumah warga, akhirnya cukup membuat kami sedikit senang. Paling tidak itu sebagai tanda sudah tiba di kawasan Air Terjun Cinta. Tapi belum benar-benar melihat spot yang dituju. Hanya perlu memarkir kendaraan, lalu berjalan kaki lagi sejauh kurang lebih satu kilometer; melintasi sawah dan juga sungai. Ada banyak pengunjung lalu lalang berpapasan; hendak pulang dan juga baru berkunjung.
Bagi yang hendak masuk melihat dan menikmati Air Terjun Cinta atau Massima’rangan, para pengunjung mesti morogoh kocek sebesar Rp2.000 tiap orang. Pembayaran yang bukan masuk kas pemerintah daerah. Sebut saja, harga tersebut sebagai membayar upah warga yang telah membuka jalur dan membangun jembatan bambu yang ada di sana bagi para pengunjung.
Ramai. Kesan pertama kali saat melihat Air Terjun Cinta yang populer di media sosial itu. Ramai. Meski tergolong destinasi wisata baru, orang-orang nyaris memenuhi lokasi Air Terjun Cinta.
Orang-orang seakan-akan berebutan dan saling bergantian posisi yang pas untuk kebutuhan hasil foto terbaik di ponsel mereka. Ada pula yang melompat dari ketinggian lalu menceburkan diri di kubangan air terjun yang tidak begitu besar, namun membentuk seperti kolam. Saking ramainya, beberapa orang memilih beristirahat di pinggir sungai tidak jauh dari air terjun tersebut, bersantai dan menyantap perbekalan yang dibawanya.
Beberapa di antara kami yang juga tiba di sana memilih hanya melihat saja, seakan kehilangan “mood” melihat ramainya kunjungan di Air Terjun Cinta di akhir pekan itu. Saya pribadi pun merasa seperti itu. Seakan latar keindahan destinasi wisata itu tertutupi dengan ramainya wisatawan. Tapi tentu saja, saya tak bisa egois; menyalahkan para pengunjung atas hilangnya minat menikmati pesona alam di Air Terjun Cinta. Kamera tetap dikeluarkan untuk foto-foto seada dan sebisanya saja. Bukankah keramaian ini boleh dianggap betapa banyak orang yang menyukai tempat tersebut?
Sebagian teman kami yang lain lagi–yang wanita–memilih ikut meramaikan sesi foto selfie dan wefie dengan latar air terjun. Bersenang-senang memainkan tongsis dan kameranya. Seakan tak ingin merasa rugi. “Sudah jauh-jauh ke sini, masa’ tidak berfoto,” kata salah seorang teman wanita yang barangkali membaca garis muka kekecewaan kami yang lain. (*)

Menikmati Panorama Alam Air Terjun Wae Sai

No Comments »

Perjalanan pulang dari Soppeng ke Makassar sepertinya bakal merugikan jika tidak singgah ke tempat wisata. Lelah menjalankan tugas kantor seharian, sepertinya pas untuk menikmati keindahan alam di salah satu destinasi yang belum pernah dikunjungi sebelumnya.


Begitulah kira-kira pemikiran yang terlintas di dalam benak saya usai menjalankan tugas peliputan kantor di daerah berjuluk “Kota Kalong”. Kabupaten Soppeng. Dalam perjalanan pulang ke Makassar, saya dan seorang teman yang berboncengan motor memutuskan untuk pergi ke salah satu tempat wisata di kabupaten Barru. Air terjun Wae Sai, namanya. “Hitung-hitung itu menyegarkan diri dan menghilangkan stres usai bekerja,” pikirku. Sore itu, Selasa, 9 Juni lalu, kami berdua memutuskan pergi ke sana.
Destinasi wisata ini saya tahu, setelah sebelumnya memeroleh sedikit informasi di salah satu grup pejalan di media sosial bernama Makassar Backpacker. Sebuah grup di facebook. Baik saya maupun teman, sama-sama tidak pernah mengunjungi tempat itu. Namun air terjun Wae Sai terdengar begitu menarik untuk tidak dilewatkan. Apalagi, perjalanan pulang ke Makassar, melewati jalur menuju lokasi air terjun tersebut.

Pemandangan desa Libureng. Daerah di mana lokasi air terjun Wae Sai berada didukung pemandangan alam yang indah dan udara yang sejuk serta bersih.

Jujur saja, Saya kurang ahli memberikan petunjuk penjelasan mengenai lokasi keberadaan air terjun Wae Sai. Untuk bisa tiba di air terjun yang berjarak 40 km dari Kota Barru ini, perlu menempuh jalur pegunungan menuju Kabupaten Soppeng. Tapi berdasarkan informasi yang saya peroleh dari salah satu orang yang pernah ke air terjun Wae Sai menjelaskannya di grup FB Makassar Backpacker seperti ini;

Ikuti jalur trans Sulawesi sampai ketemu kota Barru di perempatan pertama. Dapat tugu adipura, belok kanan. Ikuti jalur itu sepanjang kurang lebih 20 km. Sebelum tanjakan ke Buludua, ada percabangan ke kanan. Ada plang (papan informasi, red) masuk ke lokasi air terjun sebelah kanan. Dari sini jalan mulai menanjak sampai sekitar 5-7 km. Ikuti jalan terus yang berganti dari aspal ke beton dan jalan berbatu. Sepanjang jalur ini kita disuguhkan pemandangan yang “wuiihh!”
Di ujung jalan, ada rumah sebelah kanan berwarna kuning. Nah, kendaraan bisa diparkir sekitar area situ. Trip dilanjutkan dengan jalan kaki melintasi sawah dan bamboo kurang lebih 10 menit. Setelah melewati sawah hutan bamboo akan tampak dua bangunan peristirahatan yang sudah tidak terurus.
Kita bisa menikmati indahnya air terjun Waisae dari sini atau turun menikmati hempasan airnya atau mencelupkan badan di area air terjun. Tergantung cara kita bermain,, main main main,, huraaa!


Informasi itulah kemudian yang saya jadikan petunjuk dan menjadi tertarik menuju tempat tersebut. Namun, petunjuk yang saya sadur dari grup Makassar Backpacker tersebut ternyata tidak semudah membacanya. Yah, perjalanan memasuki kawasan air terjun Wae Sai masih jauh.
“Masih ada sekitar 4-5 km masuk itu.” Begitu kata salah seorang perempuan paruh baya di sana yang kami temui saat hendak memarkir motor di salah satu rumah warga. Dikarenakan ada perbaikan jalan, motor harus diparkir dan mengharuskan kami berjalan kaki untuk melanjutkan perjalanan.
Usai melalui jalan yang menanjak dan berbatu, kami pun sudah memasuki sebuah daerah yang kelihatannya minim pemukiman warga. Di daerah di mana air terjun Wae Sai terletak. Tepatnya, di desa Libureng, kelurahan Lamporiaja, kecamatan Tanete Riaja di Kabupaten Barru. Namun, lokasi yang hendak kami tuju ini benar-benar masih jauh.

ANTAR. Akses jalan untuk melihat air terjun Wae Sai lebih dekat, sempat membuat bingung. Jadinya, salah seorang warga berbaik hati mengantar kami menuju jalan yang tepat.
Perkataan perempuan yang kami temui tadi, yang mengaku lokasi air terjun Wae Sai masih jauh itu terbayang-bayang di kepala. Sempat ada rasa putus asa untuk tidak melanjutkan perjalanan. Kami khawatir, malam akan tiba saat kami baru saja berada di lokasi itu nanti. Namun, rasa penasaran akan air terjun yang belum kami kunjungi sebelumnya mengalahkan niat untuk menghentikan perjalanan. Jadilah kami terus berjalan melewati jalan yang baru dibeton beberapa ratus meter, kemudian jalan berbatu di sepanjang jalan setelahnya.
Saya pikir, perjalanan panjang yang ditempuh dengan jalan kaki tidak ada ruginya juga. Selama perjalanan, kami disuguhi keindahan alam yang masih natural di desa itu. Hijau dari sawah dan pepohonan, awan putih, serta langit yang masih cerah membiru menaungi kami.

TEDUH. Suasana sore itu cerah tapi tak panas, namun meneduhkan.
Di tempat ini, jika kota nyaris jadi neraka, maka di desa ini boleh dikata nyaris jadi surga. Tak ada gedung-gedung tinggi yang berani mencakar langit, yang ada cuma gunung dan pepohonan yang menjulang tinggi melengkapi cerahnya pemandangan langit.
Selang berjalan cukup lama, pemandangan air terjun yang ingin kami kunjungi mulai terlihat dari kejauhan. Diapit oleh dua tebing tinggi. Menemukan air terjun Wae Sai benar-benar tidak mudah bagi saya dan teman. Niat menuju air terjun dan melihat lebih dekat, cukup membuat kami bingung. Entah berapa kali kami menjalani jembatan gantung yang ada di sana, dan melewati jalan menanjak yang sama untuk melihat puncak air terjun Wae Sai dari dekat.

KUDA. Meski tidak sedang berkunjung ke kebun binatang, menemui dan memotret seekor kuda juga menjadi kesenangan tersendiri.
Di tengah kebingungan, ada salah satu warga yang kebetulan melewati kami. Setelah bertanya padanya, ia mengantar kami sebentar meski tak sampai di lokasi. Tak lama berjalan, kami pun akhirnya bisa menemukan dan sampai ke tempat yang kami mau. Yeah! Melihat air terjun Wae Sai dari dekat. Menikmati dan mencintai alam ciptaan Tuhan begitu lekat. (*)

AIR TERJUN WAE SAI. Ketinggian air terjun ini mencapai puluhan meter. Akses menuju lokasi harus ditempuh berjalan kaki sekitar 20 menit ke titik air terjun.
MENGALIR. Air terjun Wae Sai berasal dari sungai Waruwue yang letaknya berada di dusun Wae Sai. Tak heran jika air terjun ini juga dimanfaatkan sebagai sumber air bersih bagi warga.