Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Dilema Guru Terhadap Perang

No Comments »

Saya baru saja membaca "Dua Belas Pasang Mata". Judul aslinya, Nijushi No Hitomi. Karya Sakae Tsuboi, sudah difilmkan, dan saya punya rencana untuk menontonnya (kalau file-nya ketemu). Novel ini menghadirkan cerita yang luar biasa, bikin gelisah, sedikit-banyak menyisakan luka.

Novel ini menceritakan tentang Miss Oishi, seorang guru yang bertugas di daerah terpencil bernama ... (*sinopsis lengkapnya cari di google. Saya capek ketiknya di sini*) ðŸ˜…


Sebagai sebuah karya imajiner, 'Dua Belas Pasang Mata' menawarkan berbagai permasalahan kemanusiaan dan kehidupan. Pada dasarnya, ini adalah novel anti-perang. Konfliknya cukup kompleks, sebagaimana kisah-kisah guru sejak dulu sampai sekarang.

Miss Oishi dilema. Sekian lama mengajar, ia memutuskan ingin berhenti menjalani profesinya. Sebagai sosok penyayang, Miss Oishi merasa gagal dan tak tega melihat sebagian besar muridnya ingin menjadi tentara. Menjadi tentara tentu tak masuk ke dalam hitungan Miss Oishi. Ia tak pernah mau murid-muridnya kelak mati muda, karena begitu naif memperjuangkan konsep menyelamatkan negara lewat perang.

Suasana perang pada masa itu memang membuat Miss Oishi gelisah. Meski tak mampu menghalangi niat muridnya berperang, tiada lain yang bisa ia berikan selain menitipkan pesan (kurang lebih begini): "Jangan mati cepat, pulanglah dengan selamat."

Bagi Miss Oishi, seharusnya tak perlu ada yang mati di medan perang. Orang-orang harus perjuangkan hidup dan segera pulang.

PEMBERONTAKAN VEGETARIAN

No Comments »

VEGETARIAN adalah pengalaman pertama saya membaca buku dari Korea Selatan. Setelah sempat beberapa kali "tersihir" akan 'produk budayanya' yang lain lewat lagu atau film dramanya yang lumayan bikin termehek-mehek.

Membaca Vegetarian berangkat dari rasa penasaran. Saya sering mengira, Korea Selatan hanya mampu memproduksi film drama, dan menciptakan spesies "oppa-oppa" yang berhasil bikin histeris wanita Indonesia. Ternyata saya salah sangka. Sastra Korsel juga berkembang. Penulis novel ini bahkan menjadi pemenang Man Booker International Prize 2016.

Buku ini berpusat pada karakter Kim Yeong Hye, seorang perempuan yang mendadak jadi vegetarian karena mimpi buruk. Kepribadiannya itu justru tidak hanya merusak dirinya sendiri, namun juga kehidupan keluarganya.

Novel yang ditulis Han Kang ini sebenarnya agak memusingkan saya. Ceritanya ganjil, dan bernuansa gelap. Kisahnya sangat jauh berbeda dengan skenario yang biasa saya temukan dalam bentuk film drama Korea yang romantis dan penuh cinta. Tokoh dan sifat dalam buku ini pun digambarkan tidak seideal macam artis Lee Min Ho dan atau Song Hye-Kyo.

Meski begitu, saya cukup menikmatinya. Tokoh utamanya mungkin terkesan menakutkan dengan tingkahnya yang aneh. Hanya saja di satu sisi saya merasa iba dengan konsep "kebebasan" yang ia terapkan. Memberontak hanya karena ingin berubah: keluar dari kebiasaan dirinya yang lain, walau dengan cara yang ekstrim.

Menjelajahi Cartensz

No Comments »

Saya menamatkan buku ini kemarin malam. Tuntas dalam sehari. Novel tentang rencana pendakian ke Puncak Cartensz di Papua. Namun, dalam perjalanan berubah menjadi...(*lihat selengkapnya di google*).

Saya kira, tidak banyak novel perjalanan yang saya baca dengan latar gunung dan skenario pendakian yang menarik seperti dikisahkan dalam buku setebal 324 halaman ini. Cerita yang disuguhkan keren, isinya informatif, dan mungkin tak berlebihan kalau saya sebut sebagai novel yang cerdas meski bergenre fiksi.

Konflik yang ditawarkan pun tak biasa. Tentang persahabatan, namun semakin kompleks dengan adanya persekongkolan terselebung yang menyeret-nyeret pemerintah dan pabrik tambang sekelas Freeport. Tema percintaan yang ditawarkan pun bukan sesederhana perasaan hubungan sentimentil antara pria dan wanita, tapi lebih jauh lagi melibatkan urusan kecintaan kepada negara.

Membaca The Secret of Cartensz membuat saya ingin mengenal Papua lebih jauh lagi secara langsung. Impian terbang ke wilayah paling Timur Indonesia dan mendaki ke salah satu puncak tertinggi di dunia, Cartensz...semakin "unchunchunch"!

[KOLEKSI] IL PRINCIPE - Niccolo Machiavelli

No Comments »

Kalau sudah terlanjur jatuh cinta dengan isi sebuah buku, rasanya saya tak puas jika hanya membacanya dua atau tiga kali. Entah "kelainan" macam apa ini, tetapi saya senang betul dan seringkali terpanggil mengoleksi buku yang saya senangi dalam bentuk maupun versi yang berbeda.

Seperti halnya buku yang ditulis Niccolo Machiavelli ini. Untuk buku dengan judul serupa, saya sudah punya tiga versi dari penerbit yang berbeda. Selain tampilan sampul yang tidak sama, salah satu dari tiga buku yang saya punya ini ada pula yang dikemas dalam bentuk manga (komik).

Sudah. Itu saja dulu. ðŸ˜„

MAJALAH NATGEO EDISI JUNI 2017

1 Comment »

Dunia ini sepertinya dibangun dari sekumpulan kebohongan. Dipenuhi orang-orang yang sejak lahir berbakat berpura-pura. Berdusta adalah bagian dari sifat dan perilaku yang mendarah daging dalam diri manusia. Demikian kesimpulan yang saya peroleh dari Majalah Natgeo Indonesia seharga Rp60.000/eksamplar ini. *Eh, endorse ya, Sist?!* ðŸ˜‚

Dijelaskan, berdusta agaknya sudah menjadi kebutuhan. Kita melakukannya sebab itu mudah. Manusia senang "mengeksploitasi" kebohongan demi keuntungan pribadi; menyembunyikan kekurangan, menjaga perasaan, dan untuk urusan pencitraan. Intinya, berbohong itu candu!

Ada cukup banyak kajian dan hasil penelitian ilmiah yang membeberkan betapa kebohongan itu begitu sulit dihindari. Sebab, seperti belajar berjalan atau berbicara, berbohong merupakan tonggak perkembangan manusia yang dimulai sejak masa kanak-kanak. Setidaknya, begitu menurut Kang Lee, psikolog University of Toronto.

Jadi, apa cara terbaik untuk menghambat gerak lincah kebohongan? Sayang sekali, jawabannya: tidak jelas. Layaknya cinta, dusta pun terlalu kompleks untuk masuk di ranah pembahasan ilmiah. Hahaha!

Semalam Bersama Gaspar

No Comments »


Tidurku semalam nyenyak betul. Menyenangkan sekali membaca novel ini sebagai pengantar tidur. "24 JAM BERSAMA GASPAR" adalah anti-tesa dari sebuah cerita detektif kebanyakan.

Alih-alih menampilkan kesan mengerikan bagi pembaca, bagi saya, ceritanya malah jadi menggemaskan. Ditambah lagi diisi berbagai tokoh yang penamaannya cukup aneh dengan karakter yang ganjil.

Namun, baik tokoh dan peristiwa,dikemas dengan rapi sehingga saya tak perlu membolak-balikkan halaman untuk kembali mengingat-ingat alur kejadian.

Siapapun yang berniat menjadi salah satu tokoh dalam cerita ini, kayaknya hanya menunggu waktu sebelum dirinya menjadi gila.


Dan salah satu kutipan favorit dalam buku: "Semua orang terlahir untuk menjadi keparat, dan siapa pun yang berkata sebaliknya pastilah delusional--atau kalau tidak, ya pendusta kelas berat." (Hlmn. 170)

TIMBUNAN BUKU TAHUN 2016

No Comments »


Untuk tahun 2016 kemarin, saya mendeteksi ada 49 buku yang saya koleksi. Kupikir, jumlah ini sudah sangat jauh menurun jika dibanding tahun 2015 lalu. Ini berarti, komitmen untuk "puasa" membeli buku mulai berjalan sesuai dengan amanat tabungan tentang kewenangan memiliki sesuatu.

Saya akui, ini cukup sulit. Tidak selalu mudah menghindar dari sesuatu yang disukai. Itu baru urusan buku, belum tentang kamu. Halah!

Perbuatan membeli buku ini memang menyenangkan. Kadang pula meresahkan. Lebih tepatnya, saya menikmatinya. Tiap kali membeli, ada perasaan bahagia berdesir di dalam dada. Meski Pattimura di dompet telah memperingatkan akan datangnya masa tanggal tua.

Kepada perempuan yang senang membeli pakaian ataukah lipstik, apa perasaan saya itu mirip dengan yang kalian rasakan, kah? Hahaha. 

FLAT EARTH

No Comments »


Barusan habis piknik ke Gra**dia. Sebuah toko buku yang menyamar menjadi gerai alat tulis kantor, berkedok jualan peralatan elektronik. Di sana, saya menemukan salah satu buku yang mengguncang jagat dunia maya dan nyata.

Judulnya "The Flat Earth Conspiracy". Titelnya provokatif. Tadinya, kukira buku ini ditulis oleh Princes Syahrini. Sebab, judul buku tersebut bernuansa bombastis, mencengangkan, dan cetar membahana badai. Beberapa indikator karakteristik yang juga persis dimiliki wanita pelantun "Sesuatu" itu.

Tetapi, yah, namanya juga lelaki, saya agaknya selalu salah. Buku yang (katanya) menampilkan fakta-fakta bumi datar itu hasil buah pikir---atau barangkali imajinasi---dari seseorang lelaki bernama Eric Dubay. Mau tahu siapa dia? Coba cari di google.

Buku ini stoknya banyak. Gr****a yakin betul, pembahasan bumi datar bak pengantar dongeng sebelum tidur. Banyak yang suka, namun tidak sedikit pula yang menolak bacaan fantastis itu beredar di toko buku. Alasannya, buku itu mengajak ke dalam pembodohan dan tidak ilmiah. Paling tidak, begitulah komentar-komentar orang di dunia maya.

Saya pribadi menilai 'The Flat Earth Conspiracy' tidak begitu buruk. Maksud saya, bagus untuk orang-orang yang ingin memuaskan hasrat imajinasi liar di kepalanya. Hitung-hitung hiburan. Saya tidak begitu setuju, jika buku ini dilarang beredar. Apalagi dicekal. Alangkah baiknya, ada buku perbandingan lain untuk membantah argumen (atau "fakta") yang disampaikan Eric Dubay.

Kamu boleh tidak setuju denganku. Tapi itu menurutku. Dan, daripadanya saya tidak menyediakan ruang berdebat untuk itu. Capek!

Hanya saja, jika memang ada individu/kelompok yang ingin membuat "buku tandingan", saya sekadar ingin sumbang saran, bagaimana kalau bukunya nanti berjudul: "(INSYA ALLAH) BUMI ITU BULAT". Bukankah orang seringkali tergugah dengan hal-hal yang berbau...ah, sudahlah.

Jurnalisme "Brengsek" ala Ryan Holiday

1 Comment »


TRUST ME, I'M LYING adalah buku yang bangsat, namun juga keren. Ini adalah buku yang buruk (yang diharapkan) bisa membuat anda lebih baik (walaupun sebenarnya bisa juga lebih buruk). Bagi saya, buku ini laiknya kacamata. Ryan Holiday (penulis) tidak hanya membantu melihat, tapi juga mengamati lebih dalam apa yang awalnya terlihat kabur di dunia jurnalisme, utamanya di era digitalisasi saat ini.

Ryan Holiday yang bekerja sebagai manipulator media membuka bobrok jurnalisme yang dimanfaatkan oknum tertentu. Buku yang menggelisahkan, karena nyatanya, penulis membeberkan "pekerjaan kotor" yang dilakoninya sendiri. Berita buruknya, bukan cuma Ryan Holiday saja yang melakukan ini. Berita baiknya, paling tidak penulis membuat kita sadar bahwa profesi jurnalisme yang notabene sebagai jalan (atau 'agama' menurut Andreas Harsono) dalam menyampaikan kebenaran, justru ditempuh dengan cara penuh kebohongan dengan gaya yang tak beretika.

Ryan Holiday membuka segala kebobrokan itu. Apa yang terjadi di dapur redaksi sebuah media, nyatanya tidak sesederhana kelihatannya. Ada banyak "praktek" terselubung di sana. Kegiatan jurnalisme tercoreng oleh oknum yang pantas kita sebuat sebagai orang brengsek.

Bagi yang ingin mengetahui "kebenaran" perihal bagaimana informasi tersebar dan "dipelintir" pihak tertentu di sosial media, buku Ryan Holiday sangat dianjurkan untuk dibaca. Buku yang tentu saja tidak hanya dikhususkan bagi para jurnalis (pelaku media), tapi kepada mereka yang siapa saja aktif di media sosial. Ketahuilah, bahkan jurnalisme warga atau akun personal di media sosial banyak disusupi manipulator media yang bisa saja mengubah pola berpikir para netizen.

Mendengarkan Dilan

1 Comment »


Untuk ukuran novel bergenre romantisisme, "Milea: Suara dari Dilan" termasuk buku yang "canggih". Entah apa yang membuat saya akhirnya menggunakan istilah itu untuk menggambarkan ketakjuban saya terhadap buku yang ditulis manusia bernama Pidi Baiq ini.

Bagi saya, salah satu indikator buku bagus adalah buku yang membuatmu rela meninggalkan aktivitas lain dan atau sudi kekurangan jadwal istirahat demi fokus menyelesaikan bacaan yang sudah terlanjur kau mulai sejak halaman pertama.

Buku berjudul "Milea: Suara dari Dilan" masuk ke dalam variabel tersebut. Secangkir kopi cukup untuk menuntaskan novel setebal 360 halaman ini. Saya tak tega memberi jeda yang terlalu lama untuk meninggalkan buku ini yang sudah saya mulai baca sejak halaman pertama. Novel yang nikmat untuk membuat saya betah di kamar tidur sekitar empat jam untuk menyelesaikannya.

Buku ini termasuk kemutakhiran novel kisah cinta anak remaja. Sebuah narasi asmara yang hebat: sedih, namun tidak cengeng, lucu tapi tidak sedang melawak, dan penuh "jurus rayuan" yang tidak lebay namun sederhana. Hal ini sama dengan dua buku sebelumnya, yakni "Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990" dan "Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991".

Tentu saja, buku ini tidak dianjurkan bagi anak TK yang belum bisa membaca. Hahaha!


"Memaki" Raden Mandasia

No Comments »


RADEN MANDASIA: Si Pencuri Daging Sapi adalah buku yang bangsat. Keterlaluan. Novel sialan. Entah ada berapa kata "anjing"—sebagai bahan ejekan yang dituliskan di buku ini. Saya tak menghitungnya. Tapi jumlahnya terlampau banyak untuk membuat saya yakin bahwa ini bacaan yang menarik.

Maki-makian yang ditampilkan dalam cerita membuatnya seumpama garam dalam hidangan sayur—yang tanpanya, tak ada rasa. Sebenarnya, saya tak begitu suka dengan hal-hal yang tidak baik macam itu. Akan tetapi, di tangan penulis, umpatan itu hadir di momen-momen yang tepat. Anehnya lagi, saya suka dan menjadi percaya kalau penulis sudah melakukan hal yang benar.

Kukira, sudah lama saya tak membaca novel Indonesia sebagus Raden Mandasia. Membacanya malah membuat saya seperti sedang menonton. Kisah perjalanan Sungu Lembu dan Raden Mandasia dengan mudah divisualisasikan di dalam kepala. Saya bahkan sempat ngiler sendiri saat bagian makanan diceritakan. Kenikmatannya hadir di kepala, meski tak dicecap langsung di lidah.

Ah, sudahlah! Tak perlulah saya berpanjang lebar. Pada akhirnya, ini novel yang nikmat sekali. Anjing betul. Hahaha!

BUKU BULAN JUNI

No Comments »


Ini buku-buku bulan Juni. Sedikit saja, cuma enam buku. Tiga di antaranya saya beli pada awal Ramadan di toko buku. Lalu, tiga lainnya lagi belum lama ini mendarat dengan santai di rumah dari hasil menunggu kiriman pedagang buku daring (online). Tiga judul buku sudah dibaca.

Belum juga tuntas membaca buku-buku yang dibeli pada bulan Juni, tak dinyana bulan Juli sudah datang lagi. Pada bulan yang sebentar lagi mau lebaran ini, di mata saya buku-buku masih lebih "seksi" untuk dimiliki. Di kepala, baju dan celana baru bisa dipikir lain kali.

Situasi ini masih sama seperti tahun lalu. Menjelang lebaran, hasrat memiliki buku lebih tak tertahankan ketimbang membeli baju baru. Kebutuhan saya akan baju-celana dalam setahun memang masih bisa dihitung jari. Sungguh sangat berbeda dengan belanja buku yang jumlahnya cenderung melebihi hitungan jari tangan dan kaki.

Saya tak mengerti. Penyakit macam apa yang sedang menggerogoti tubuh saya yang fana ini. Tiap ke toko buku, "lapar-buku" seringkali tak tertahankan. Mesti dipenuhi, karena kalau tidak, bakal gelisah dan ada cenat-cenut di dada rasanya.

Dulu, pada suatu ketika saat berada di Gramedia, misalnya. Saya pernah menginginkan sebuah buku. Situasinya mirip saat jatuh cinta pada pandangan pertama kepada seseorang. Kau melihatnya, memandangnya begitu lama, lalu tetiba timbul sejenis perasaan ingin memiliki dia selamanya.

Sebagaimana kamu, begitupun buku. Saya seolah ditakdirkan memiliki nasib serupa Sitti Nurbaya—yang kasihnya tak pernah sampai kepada Samsul Bahri oleh sebab ulah Datuk Maringgih sialan itu. Karena lupa membawa uang tunai dan kartu ATM, secara terpaksa hasrat memiliki buku itupun tak terpenuhi. Saya pulang membawa penyesalan. Sesampai di rumah masih bisa makan enak, tapi tidur tak pernah nyenyak. Hahaha!

Buku-buku memang masih lebih "seksi" untuk dikoleksi. Meskipun sebenarnya…buku nikah yang tertulis namamu bersamaku masih jauh lebih baik untuk dimiliki. Aih!

Pada akhirnya, Bulan Juli tak bisa menunggu untuk segera punya pacar baru. Eh, maksud saya…buku baru. (*)


*Catatan:

Catatan dari facebook  di awal bulan Juli lalu dan baru dipindahkan ke blog. He-he-he!

KEBANGKITAN SISI KEMANUSIAAN ZOMBIE

Baca selengkapnya » | 1 Comment »

  • Judul: WARM BODIES
  • Penulis: Isaac Marion
  • Penerbit: PT Ufuk Publishing Home
  • Cetakan I: Juli 2012
  • Tebal: 374 Halaman