Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan

Dilema Guru Terhadap Perang

No Comments »

Saya baru saja membaca "Dua Belas Pasang Mata". Judul aslinya, Nijushi No Hitomi. Karya Sakae Tsuboi, sudah difilmkan, dan saya punya rencana untuk menontonnya (kalau file-nya ketemu). Novel ini menghadirkan cerita yang luar biasa, bikin gelisah, sedikit-banyak menyisakan luka.

Novel ini menceritakan tentang Miss Oishi, seorang guru yang bertugas di daerah terpencil bernama ... (*sinopsis lengkapnya cari di google. Saya capek ketiknya di sini*) ðŸ˜…


Sebagai sebuah karya imajiner, 'Dua Belas Pasang Mata' menawarkan berbagai permasalahan kemanusiaan dan kehidupan. Pada dasarnya, ini adalah novel anti-perang. Konfliknya cukup kompleks, sebagaimana kisah-kisah guru sejak dulu sampai sekarang.

Miss Oishi dilema. Sekian lama mengajar, ia memutuskan ingin berhenti menjalani profesinya. Sebagai sosok penyayang, Miss Oishi merasa gagal dan tak tega melihat sebagian besar muridnya ingin menjadi tentara. Menjadi tentara tentu tak masuk ke dalam hitungan Miss Oishi. Ia tak pernah mau murid-muridnya kelak mati muda, karena begitu naif memperjuangkan konsep menyelamatkan negara lewat perang.

Suasana perang pada masa itu memang membuat Miss Oishi gelisah. Meski tak mampu menghalangi niat muridnya berperang, tiada lain yang bisa ia berikan selain menitipkan pesan (kurang lebih begini): "Jangan mati cepat, pulanglah dengan selamat."

Bagi Miss Oishi, seharusnya tak perlu ada yang mati di medan perang. Orang-orang harus perjuangkan hidup dan segera pulang.

PEMBERONTAKAN VEGETARIAN

No Comments »

VEGETARIAN adalah pengalaman pertama saya membaca buku dari Korea Selatan. Setelah sempat beberapa kali "tersihir" akan 'produk budayanya' yang lain lewat lagu atau film dramanya yang lumayan bikin termehek-mehek.

Membaca Vegetarian berangkat dari rasa penasaran. Saya sering mengira, Korea Selatan hanya mampu memproduksi film drama, dan menciptakan spesies "oppa-oppa" yang berhasil bikin histeris wanita Indonesia. Ternyata saya salah sangka. Sastra Korsel juga berkembang. Penulis novel ini bahkan menjadi pemenang Man Booker International Prize 2016.

Buku ini berpusat pada karakter Kim Yeong Hye, seorang perempuan yang mendadak jadi vegetarian karena mimpi buruk. Kepribadiannya itu justru tidak hanya merusak dirinya sendiri, namun juga kehidupan keluarganya.

Novel yang ditulis Han Kang ini sebenarnya agak memusingkan saya. Ceritanya ganjil, dan bernuansa gelap. Kisahnya sangat jauh berbeda dengan skenario yang biasa saya temukan dalam bentuk film drama Korea yang romantis dan penuh cinta. Tokoh dan sifat dalam buku ini pun digambarkan tidak seideal macam artis Lee Min Ho dan atau Song Hye-Kyo.

Meski begitu, saya cukup menikmatinya. Tokoh utamanya mungkin terkesan menakutkan dengan tingkahnya yang aneh. Hanya saja di satu sisi saya merasa iba dengan konsep "kebebasan" yang ia terapkan. Memberontak hanya karena ingin berubah: keluar dari kebiasaan dirinya yang lain, walau dengan cara yang ekstrim.

KISAH CINTA PEMUJA RAHASIA

No Comments »

Saya tidak sedang terjebak dalam lingkaran "spesies oppa-oppa". Saya hanyalah seseorang yang merasa harus mendedikasikan diri agar menyelingi waktu menikmati drama Korea (drakor). Kini mulai lebih teragenda; dalam kurun waktu minimal dua kali sebulan, saya harus "belajar" menuntaskan satu film atau serial drama Korea.

Bagi kebanyakan orang, drama Korea punya konten yang "berbahaya". Dampaknya lebih ke perasaan, cenderung dialami perempuan. Efeknya menimbulkan tangisan. Minimal teringat mantan yang gagal diajak ke pernikahan pas lagi sayang-sayangnya. Bahkan, pada tingkatan yang paling lebay, tiba-tiba berhasrat ingin memiliki pacar berwajah tampan.

Saya sendiri, menonton drama Korea sebagai medium untuk menemukenali perasaan sendiri. Kupikir, drakor bisa menjadi alternatif meningkatkan kepekaan manusia. Bukan karena ingin terjerumus pada standar: kecantikan wajah berkiblat pada diri perempuan Korea.

Saya kira alasan tersebut sudah cukup keren untuk meminimalisir pertanyaan bernada ejekan, "laki-laki kok nonton drama Korea?!" Hahaha ðŸ˜‚

Saya habis menonton 'Daisy'. Sebagaimana pendapat umum terhadap drakor, film ini pun menawarkan romantisisme yang jarang sekali ditemukan pada sinetron Indonesia. Plot film ini dibangun dari tiga sudut pandang para tokoh utama yang menjadi awal bermulanya kisah cinta yang salah sasaran.

Singkat cerita, Hye Young (Jeon Ji-Hyeon) adalah seorang pelukis yang tiap pagi mulai menerima kiriman bunga Daisy. Tanda cinta dari seorang pemuja rahasia. Ia tak tahu, Park Yi (Jung Woo Sung), seorang pembunuh pembayaran itulah yang mengirimkan sekuntum bunga sebagai ungkapan rasa cinta terhadap wanita yang diidamkannya.

Sungguh tidak enak menjadi pemuja rahasia. Kebanyakan menjadi korban perasaan dan keadaan. Karena suatu skenario yang tidak diharapkan, datanglah Jeong Woo (Lee Seong Jae), seorang petugas interpol yang membuat Hye Young salah mengira bahwa lelaki itulah pemuja rahasianya. Dan begitulah kemudian, cinta segitiga antara pembunuh bayaran dan petugas interpol yang 'memperebutkan' seniman jalanan.

Menonton film ini, saya jadi teringat penuturan filsuf, Friedrich W. Nietsche. Salah satu kutipan favorit saya setiap menemukan film roman menggelisahkan seperti 'Daisy'. Dikatakan Nietsche, cinta adalah bentuk totalitarianisme paling ekstrem.

MENGADU DOMBA SETAN

No Comments »

Baru kali ini saya menonton film horor yang efeknya bukan memunculkan efek ketakutan, namun lebih kepada rasa kasihan. Saya sedih, melihat ada hantu diadu-domba. Arwah yang seharusnya tenang di akhirat sana, malah diajak berkompetisi dalam rangka menyelesaikan masalah manusia di dunia.

Dasar ... manusia memang makhluk paling bajingan. Gemar bikin ulah, banyak khilafnya. Bukan cuma perkara di dunia nyata, sampai pada urusan gaib sekali pun, tingkahnya tak ketulungan. Kekejamannya tak terkira dan sulit diterka.

Tidak seperti film horor kebanyakan, saya melihat (secara tersirat) Sadako dan Kayako di sini ditampilkan sebagai "korban". Siapa sangka, kelihaian dan kelicikan dalam ukuran yang pas, manusia mampu memutar-balikkan realita yang telah ada. Di mana, manusia membuat dua demit ikon Jepang ini berselisih satu sama lain. Manusia yang punya masalah, malah setannya yang diajak bersengketa. Hahaha!

Sebagai bentuk provokasi yang terbilang sukses, tindakan ini sulit dimengerti, sodara-sodara! Entah, saya tak tahu ini termasuk tindak kejahatan atau bukan. Namun, saya merasa kelakuan manusia dalam film tersebut adalah sebuah penistaan; merendahkan eksistensi setan sebagai makhluk astral.

Kondisi tersebut membuat saya iba. Semacam muncul rasa empati-lintas-dimensi. Untuk sebuah produk sinema anti-mainstream yang mengeskploitasi ikon legenda horornya, film produksi Jepang ini keterlaluan kurang ajarnya. ðŸ˜‚

Intinya, "Sadako VS Kayako" nyaris menjadi film komedi. Terserahlah!

Pengabdi Setan, Penantian Panjang Film Horor Indonesia

No Comments »

Poster Film Pengabdi Setan
Ada kecenderungan, film bergenre horor agak susah "move on" dari beberapa hal: rumah kayu di tengah hutan, pohon besar di depan rumah, lalu bunyi engsel pintu yang jarang diminyaki. Bukan cuma Hollywood, sedikit banyak, karakteristik yang juga saya temukan di film Indonesia, seperti film "Pengabdi Setan" ini.

Abaikan sajalah 'tanda-tanda' tersebut. Saya mau mengaku, film yang disutradarai Joko Anwar ini semacam oase di tengah gurun. Akhirnya bisa memuaskan "rasa haus" saya akan sinema bergenre horor Indonesia. Serasa penantian yang cukup lama.

Beberapa tahun belakangan ini, banyak film horor Indonesia yang mengecewakan. Hanya sedikit sekali yang membekas di kepala. Sampai 'Pengabdi Setan' hadir, rasa ketakutan itu muncul juga. Memicu efek ketegangan yang hampir sama saya rasakan sejak terakhir kali menonton 'Tusuk Jelangkung' yang diproduksi tahun 2003 silam.

Saya hanya punya sedikit pengalaman dalam menonton film horor. Tetapi saya cukup yakin, 'Pengabdi Setan' ini salah satu film horor terbaik Indonesia. Film yang menarik untuk ukuran film "remake" (diproduksi ulang).

Sekilas, film ini sepertinya "terpengaruh" dari tiga film horor luar negeri: Insidious, Conjuring, dan Annabelle. Bahkan, setan yang ditampilkan nyaris menyerupai Valak. Tetapi karena ini film Indonesia, maka boleh dibilang versi 'Pengabdi Setan' menampilkan Valak dengan kearifan lokal. Hahaha! 

salah satu adegan film Pengabdi Setan.

Menjelajahi Cartensz

No Comments »

Saya menamatkan buku ini kemarin malam. Tuntas dalam sehari. Novel tentang rencana pendakian ke Puncak Cartensz di Papua. Namun, dalam perjalanan berubah menjadi...(*lihat selengkapnya di google*).

Saya kira, tidak banyak novel perjalanan yang saya baca dengan latar gunung dan skenario pendakian yang menarik seperti dikisahkan dalam buku setebal 324 halaman ini. Cerita yang disuguhkan keren, isinya informatif, dan mungkin tak berlebihan kalau saya sebut sebagai novel yang cerdas meski bergenre fiksi.

Konflik yang ditawarkan pun tak biasa. Tentang persahabatan, namun semakin kompleks dengan adanya persekongkolan terselebung yang menyeret-nyeret pemerintah dan pabrik tambang sekelas Freeport. Tema percintaan yang ditawarkan pun bukan sesederhana perasaan hubungan sentimentil antara pria dan wanita, tapi lebih jauh lagi melibatkan urusan kecintaan kepada negara.

Membaca The Secret of Cartensz membuat saya ingin mengenal Papua lebih jauh lagi secara langsung. Impian terbang ke wilayah paling Timur Indonesia dan mendaki ke salah satu puncak tertinggi di dunia, Cartensz...semakin "unchunchunch"!

[KOLEKSI] IL PRINCIPE - Niccolo Machiavelli

No Comments »

Kalau sudah terlanjur jatuh cinta dengan isi sebuah buku, rasanya saya tak puas jika hanya membacanya dua atau tiga kali. Entah "kelainan" macam apa ini, tetapi saya senang betul dan seringkali terpanggil mengoleksi buku yang saya senangi dalam bentuk maupun versi yang berbeda.

Seperti halnya buku yang ditulis Niccolo Machiavelli ini. Untuk buku dengan judul serupa, saya sudah punya tiga versi dari penerbit yang berbeda. Selain tampilan sampul yang tidak sama, salah satu dari tiga buku yang saya punya ini ada pula yang dikemas dalam bentuk manga (komik).

Sudah. Itu saja dulu. ðŸ˜„

MAJALAH NATGEO EDISI JUNI 2017

1 Comment »

Dunia ini sepertinya dibangun dari sekumpulan kebohongan. Dipenuhi orang-orang yang sejak lahir berbakat berpura-pura. Berdusta adalah bagian dari sifat dan perilaku yang mendarah daging dalam diri manusia. Demikian kesimpulan yang saya peroleh dari Majalah Natgeo Indonesia seharga Rp60.000/eksamplar ini. *Eh, endorse ya, Sist?!* ðŸ˜‚

Dijelaskan, berdusta agaknya sudah menjadi kebutuhan. Kita melakukannya sebab itu mudah. Manusia senang "mengeksploitasi" kebohongan demi keuntungan pribadi; menyembunyikan kekurangan, menjaga perasaan, dan untuk urusan pencitraan. Intinya, berbohong itu candu!

Ada cukup banyak kajian dan hasil penelitian ilmiah yang membeberkan betapa kebohongan itu begitu sulit dihindari. Sebab, seperti belajar berjalan atau berbicara, berbohong merupakan tonggak perkembangan manusia yang dimulai sejak masa kanak-kanak. Setidaknya, begitu menurut Kang Lee, psikolog University of Toronto.

Jadi, apa cara terbaik untuk menghambat gerak lincah kebohongan? Sayang sekali, jawabannya: tidak jelas. Layaknya cinta, dusta pun terlalu kompleks untuk masuk di ranah pembahasan ilmiah. Hahaha!

Semalam Bersama Gaspar

No Comments »


Tidurku semalam nyenyak betul. Menyenangkan sekali membaca novel ini sebagai pengantar tidur. "24 JAM BERSAMA GASPAR" adalah anti-tesa dari sebuah cerita detektif kebanyakan.

Alih-alih menampilkan kesan mengerikan bagi pembaca, bagi saya, ceritanya malah jadi menggemaskan. Ditambah lagi diisi berbagai tokoh yang penamaannya cukup aneh dengan karakter yang ganjil.

Namun, baik tokoh dan peristiwa,dikemas dengan rapi sehingga saya tak perlu membolak-balikkan halaman untuk kembali mengingat-ingat alur kejadian.

Siapapun yang berniat menjadi salah satu tokoh dalam cerita ini, kayaknya hanya menunggu waktu sebelum dirinya menjadi gila.


Dan salah satu kutipan favorit dalam buku: "Semua orang terlahir untuk menjadi keparat, dan siapa pun yang berkata sebaliknya pastilah delusional--atau kalau tidak, ya pendusta kelas berat." (Hlmn. 170)

DOCTOR STRANGE "RASA" SHERLOCK

No Comments »


Baru sempat nonton. Saya masuk studio dalam keadaan deg-degan. Berusaha mengumpulkan kekuatan. Tentu tidak mudah bagi saya yang duduk di kursi A-18, melihat kembaran sendiri bermain sebagai pemeran utama dalam film ini. Hahaha! Oke, maafkan saya atas pikiran kotor tadi. Mari kita kembali ke jalan yang benar...

Siapa yang tidak kenal Benedict Cumberbatch? Dengan akting yang mumpuni dan wajah yang gagah, membuatnya popular di kalangan banyak wanita. Tapi sayang sekali, saya tidak sedang mau menceritakan dan membahas lebih jauh sisi itu.

Benedict Cumberbatch adalah Doctor Strange "rasa" Sherlock. Dalam serial TV detektif yang ia bintangi, karakter yang diperankannya mirip dalam film superhero ini: cerdas, ambisius, narsis, keras kepala—dan juga jomblo(?). Yap, watak Benedict Cumberbatch yang memerankan Doctor Stephen Strange tidak beda jauh dengan peran Detektif Sherlock yang ia bintangi dalam serial TV.

Sebelumnya saya belum tahu superhero yang satu ini, bahkan melalui komik Marvel sekalipun. Saya tidak begitu tahu karakter Doctor Strange yang sebenarnya. Tapi, pemilihan Benedict Cumberbatch sebagai pemeran superhero itu sangat pas bagi saya. Tidak perlu lagi diragukan lagi akting Benedict Cumberbatch di film ini.

Benedict Cumberbatch saat memerankan Sherlock dalam serial TV yang bercerita tentang detektif.
Tidak hanya itu, efek visualisasinya juga keren. Mengingatkan saya akan film Inception—yang dibintangi Leonardo Dicaprio. Melihat gedung-gedung berubah-ubah memang cukup memusingkan kepala, tapi sudah cukup membuat mata saya berbinar-binar. Tentu saja, efeknya lebih bagus di sini, ketimbang dalam film Inception. Lebih halus.

Beberapa bagian dialognya pun lucu. Humornya segar. Penempatan “joke-joke” berasa tepat di tiap adegan. Acapkali ada kelucuan di balik ketegangan akan aksi Doctor Strange melawan musuh-musuhnya.

Terakhir, ini film superhero produksi Marvel ini. Jadi ya itu, alur cerita dan karakternya cenderung kuat. Agak berbeda dengan “tetangga sebelah” dalam membuat film superhero—yang kadang-kadang kehilangan arah. Hehehe! Memang sih dalam film Doctor Strange ini ditemukan banyak kebetulan-kebetulan yang (sepertinya) memang sengaja diciptakan agar alur cerita tidak terlalu panjang (masalah durasi).

Salah satunya, saat Doctor Strange ke Kathmandu mencari lokasi Kamar Taj. Dalam kebingungan, secara “kebetulan” ada Baron Mordo (Chiwetel Ejiofor) yang mendengar Strange mencari tempat spiritual tersebut. Meski begitu, tetap saja, kebetulan-kebetulan yang saya maksud itu tidak begitu kentara sebagai sebuah kebetulan. Gitu.

Oh iya, mungkin Doctor Strange akan berkecimpung dalam film Avengers atau film Marvel lain berikutnya. Pada bagian extra-scene yang terdapat di pertengahan credit title, di situ Doctor Strange tengah berbincang dengan Thor, salah satu anggota Avengers.

Yah, Oke sip. Ditunggu kelanjutannya...


MENGGUGAT INFERNO (Mungkin Resensi)

No Comments »


Saya tidak mengatakan INFERNO adalah film yang buruk. Hanya saja, sebagai orang yang terlanjur menikmati novelnya, Inferno yang akhirnya diangkat ke dalam versi film saya akui seru, namun agaknya "anu" sekali. Hmmm...

Saya ingat betul alur cerita Dan Brown dalam buku mutakhirnya berjudul Inferno ini. Apalagi, sebelum menontonnya ke dalam versi layar lebar, saya berhasil khatam buku ini sampai dua kali. Novelnya menakjubkan, hanya saja memang cenderung bertele-tele. Terlalu banyak deskripsi yang sebenarnya tidak perlu.

Saya masuk ke bioskop dengan harapan: filmnya bakal lebih menyegarkan dari versi bukunya. Atau setidaknya, lebih bagus dari dua film pendahulunya: Da Vinci Code dan Angels and Demons. Secara umum, saya setuju: Inferno memang tidak lebih buruk dari kedua film sebelumnya itu.

Barangkali memang tidak etis jika hanya selalu membandingkan kualitas film dengan cerita yang ada di dalam buku. Akan tetapi kalau boleh jujur, saya lebih merasakan ketegangan aksi Robert Langdon lewat novelnya. Di film, banyak adegan yang berubah. Begitupun karakter para tokoh penting lainnya yang berbeda. Masalah durasi memang seringkali menjadi salah satu faktor sehingga alur cerita diubah, tidak selalu mengikuti plot dalam buku.



Namun, saya pikir itu juga masalahnya, karena banyaknya adegan dalam novel yang tidak dimasukkan ke film, Inferno kelihat kurang dramatis. Nuansa konspirasi dan teka-teki khas Dan brown tidak berasa di film ini. Di awal film, beberapa adegan sudah cukup memunculkan ketegangan. Tapi makin lama...ah rasanya saya tidak tega mengatakan ini: membosankan.

Sebagai penonton, saya merasa lelah. Melihat pergantian ‘scene’ yang terlalu cepat, seperti tidak ada jeda untuk penonton ikut menganalisa pemecahan masalah yang dihadapi Robert Langdon (Tom Hanks). Agaknya memang banyak kebingungan yang melanda dan membuat saya tak sampai hati mengungkapkan kekecewaan. Adakah istilah yang lebih halus lagi dari kata “kecewa” untuk mengutarakan ketidakpuasan atau ketidaksesuaian terhadap sesuatu? Aih!

Terakhir, saya sendiri bingung, mengapa adegan terakhir film benar-benar dibuat berbeda dengan versi yang ada dalam buku. Epilog yang diciptakan dalam film Inferno tidak lebih baik dari yang ada dalam novel. Menurut saya, terlalu biasa. Kupikir ini saatnya untuk Mario Teduh mendukung penilaian saya dengan mengatakan, “Itu...!”


Jurnalisme "Brengsek" ala Ryan Holiday

1 Comment »


TRUST ME, I'M LYING adalah buku yang bangsat, namun juga keren. Ini adalah buku yang buruk (yang diharapkan) bisa membuat anda lebih baik (walaupun sebenarnya bisa juga lebih buruk). Bagi saya, buku ini laiknya kacamata. Ryan Holiday (penulis) tidak hanya membantu melihat, tapi juga mengamati lebih dalam apa yang awalnya terlihat kabur di dunia jurnalisme, utamanya di era digitalisasi saat ini.

Ryan Holiday yang bekerja sebagai manipulator media membuka bobrok jurnalisme yang dimanfaatkan oknum tertentu. Buku yang menggelisahkan, karena nyatanya, penulis membeberkan "pekerjaan kotor" yang dilakoninya sendiri. Berita buruknya, bukan cuma Ryan Holiday saja yang melakukan ini. Berita baiknya, paling tidak penulis membuat kita sadar bahwa profesi jurnalisme yang notabene sebagai jalan (atau 'agama' menurut Andreas Harsono) dalam menyampaikan kebenaran, justru ditempuh dengan cara penuh kebohongan dengan gaya yang tak beretika.

Ryan Holiday membuka segala kebobrokan itu. Apa yang terjadi di dapur redaksi sebuah media, nyatanya tidak sesederhana kelihatannya. Ada banyak "praktek" terselubung di sana. Kegiatan jurnalisme tercoreng oleh oknum yang pantas kita sebuat sebagai orang brengsek.

Bagi yang ingin mengetahui "kebenaran" perihal bagaimana informasi tersebar dan "dipelintir" pihak tertentu di sosial media, buku Ryan Holiday sangat dianjurkan untuk dibaca. Buku yang tentu saja tidak hanya dikhususkan bagi para jurnalis (pelaku media), tapi kepada mereka yang siapa saja aktif di media sosial. Ketahuilah, bahkan jurnalisme warga atau akun personal di media sosial banyak disusupi manipulator media yang bisa saja mengubah pola berpikir para netizen.

Lari ke Busan, Hindari Kejaran Zombie

No Comments »


TRAIN TO BUSAN adalah film bergenre horor/thriller yang lumayan bagus. Sekilas mirip konsep film World War Z.

Ini film Korea (bagian selatan), yang dipenuhi spesies 'Oppa-Oppa' yang saya ragu apa pantas disebut tampan atau tidak. Kukira, Korea cuma bisanya bikin film romantis yang bikin nangis. Ternyata, tidak benar begitu. Train to Busan hadir sebagai anti-thesa dari genre film/drama Korea yang mengharu-biru.

Film yang disutradari Yeon Sang-ho ini tidak bertele-bertele dan terkesan tidak ingin mengajak penonton berpikir. Ceritanya mengalir saja, tanpa berkutat pada informasi "virus" yang menerpa masyarakat Korea Selatan ini rimbanya darimana dan penangannya nanti seperti apa. Tahu-tahu dari awal pokoknya orang-orang tetiba menjadi zombie dan itu menular. Saya melihat penyajiannya memang cuma ingin memperlihatkan adegan yang bikin deg-degan dan membuat dada penonton berdebar-debar.

Di luar itu, Train to Busan adalah film yang tidak hanya mengundang nuansa mengerikan, namun juga mengandung nasihat (tersirat) yang bermanfaat. Menontonnya serasa mendapat pelajaran pendidikan kewarganegaraan di sekolah; memiliki nilai-nilai dan pesan moral Pancasila semisal saling membantu sesama.

Mendengarkan Dilan

1 Comment »


Untuk ukuran novel bergenre romantisisme, "Milea: Suara dari Dilan" termasuk buku yang "canggih". Entah apa yang membuat saya akhirnya menggunakan istilah itu untuk menggambarkan ketakjuban saya terhadap buku yang ditulis manusia bernama Pidi Baiq ini.

Bagi saya, salah satu indikator buku bagus adalah buku yang membuatmu rela meninggalkan aktivitas lain dan atau sudi kekurangan jadwal istirahat demi fokus menyelesaikan bacaan yang sudah terlanjur kau mulai sejak halaman pertama.

Buku berjudul "Milea: Suara dari Dilan" masuk ke dalam variabel tersebut. Secangkir kopi cukup untuk menuntaskan novel setebal 360 halaman ini. Saya tak tega memberi jeda yang terlalu lama untuk meninggalkan buku ini yang sudah saya mulai baca sejak halaman pertama. Novel yang nikmat untuk membuat saya betah di kamar tidur sekitar empat jam untuk menyelesaikannya.

Buku ini termasuk kemutakhiran novel kisah cinta anak remaja. Sebuah narasi asmara yang hebat: sedih, namun tidak cengeng, lucu tapi tidak sedang melawak, dan penuh "jurus rayuan" yang tidak lebay namun sederhana. Hal ini sama dengan dua buku sebelumnya, yakni "Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990" dan "Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991".

Tentu saja, buku ini tidak dianjurkan bagi anak TK yang belum bisa membaca. Hahaha!


DRAMA KOREA DAN "PLEDOI" TENTANG CINTA

No Comments »


Memutuskan untuk menonton drama korea  (drakor) bagi saya lebih kepada sebuah eksperimen ilmiah. Atau boleh juga disebut sebagai penelitian berupa studi kasus urusan personal. Menonton drama korea merupakan alternatif memberikan "suplemen" bagi otak saya. Percayalah!

Minggu kemarin, saya akhirnya berhasil menyelesaikan satu judul drakor dalam kedaan sehat walafiat dan baik-baik saja. Sebuah pengalaman yang sebenarnya tidak berharga karena tega membuat saya begadang untuk menuntaskannya. Setidaknya, saya tetap tegar hingga episode terakhir. Paling penting, tak sampai menitikkan air mata. Hahaha!

Siapa yang tak kenal drakor Descendants of The Sun (DOTS)? Bagi yang belum, kenalan dululah. Google bisa memberitahu semuanya, karena di  sini saya tak sudi menceritakannya panjang kali lebar.

Sejujurnya, sudah lama saya ingin menonton DOTS ini. Cerita tentang kisah percintaan anak manusia berkewarganegaraan Korea–antara tentara yang sok tampan dengan dokter cantik–membuat saya penasaran. Beberapa teman sepertinya juga tak hentinya memberikan dukungan dan memotivasi (baca: menjebak) untuk ikut terjun dalam lingkaran para-pecinta-drama-korea. "Coba-coba saja dulu. Sempat ketagihan," begitu katanya.

Kukira, tak ada salahnya mencoba. Setelah mengumpulkan kekuatan dan yakin akan diri yang fana ini, Selasa, 30 Agustus malam lalu, saya akhirnya menontonnya. Beberapa stok film Hollywood kuputuskan tak dinonton untuk sementara. Sesekali menyelipkan tontonan drama korea yang (katanya) anak-muda-banget itu sepertinya tak masalah. Maksudnya, saya juga masih muda, tapi drama berbau romantisme saya pikir tetap perlu diikuti untuk memastikan apakah saya masih punya "sense of love" atau tidak. Itu!

Saya tak tahu dari mana rimbanya, tapi banyak orang mengira: mengidap jomblo yang menahun membuat seseorang mengalami gangguan afeksi: segala hal tentang depresi yang memicu perbuatan bunuh diri. Mitos tersebut lantas tak membuat saya mudah percaya. Saya hanya khawatir.

Rasa kekhawatiran itulah kemudian yang mendorong untuk menonton drama korea. DOTS adalah pilihan yang benar meski tak baik. Secara umum, ini tontonan yang menarik. Tidak hanya dibalut kisah cinta yang bikin baper, tapi juga mengundang lapar karena terlalu menikmati hingga lupa makan. Drama 16 episode ini tidak melulu soal romantisme antara dokter dan tentara, namun juga membangkitkan jiwa patriotisme. Kisah cinta mereka kadang dengan terpaksa "digadaikan", demi sebuah urusan kenegaraan. Hiks, 'kan jadi syedih...

Yah, ini drama yang sedih, tapi tak sampai membuat saya menangis. Alhamdulillah untuk itu. Rasa emosional saat menontonnya itu menjadi bukti, kalau saya ternyata bisa juga merasakan gejolak-gejolak jiwa di dada yang entah karena proses ilmiah macam apa yang terjadi di dalam sana. Pembuktian saya setidaknya berhasil. Hati ini–yang kata teman jadi membatu karena betah menjomblo–ternyata tak benar.

Tolong jangan berpikir, hati ini jadi dingin membeku, karena sudah lama tak tersentuh oleh hangat cintamu. Aih! Hey...hey...hey...itu tadi bukan bermaksud bikin puisi. Tapi pembuktian yang dikemas ke dalam curahan hati bahwa tak menitikkan air mata saat menonton drama korea bukan berarti menandakan bahwa Syachrul Arsyad adalah seorang yang kehilangan perasaan atau sisi emosionalnya. Saya baik-baik saja, walau masih menyukai kamu dengan cara yang seperti biasa: diam-diam dan penuh rahasia. Aish!

Begitulah, menonton drama korea mungkin sedikt "menyentil" jiwa-jiwa yang tertidur di dalam dada. Menonton DOTS adalah suatu kegiatan berbeda bagi saya secara pribadi, tapi usai menontonnya, saya masih seperti Syachrul Arsyad yang kalian kenal. Tak berubah menjadi fanboy  yang termotivasi ingin membentuk boyband. Ilmiahnya, menonton drakor hanyalah alternatif memberikan pengalaman baru bagi otak saya.

Pengalaman menjalani sesuatu yang berbeda–semisal menonton drakor–ini sangat penting bagi perkembangan diri saya sendiri. Ketahuilah, sesekali mengubah gaya/selera mampu melatih zona otak emosi yang terletak di otak depan (lobus frontal). Jika manusia tidak pernah memiliki pengalaman yang dapat menggoyahkan perasaan atau emosi, maka manusia tidak dapat berkembang. Weits, saya pikir penjelasan saya ini sungguh canggih sekali untuk membuat kalian mengerti. Hahaha!

Bukankah sudah kubeitahu: menonton drama korea bagi saya lebih kepada eksperimen ilmiah terhadap diri sendiri. Saya memang menikmatinya, tapi belum sampai kepikiran ingin menjadikan tontonan drakor sebagai gaya hidup atau bahkan pindah haluan menjadi fans garis keras 'oppa-oppa' (apa sih sebutannya) yang kerjanya menari dan menyanyi itu. Tidakkah mengidolakan JKT48 saja sudah cukup? Hahaha!


Tapi, beberapa teman sepertinya menyukai pengalaman baru saya ini. Bahkan banyak yang kemudian merekomendasikan saya dengan judul-judul drama korea yang (katanya) asli bikin mewek. Hey, kalian ini mau memberikan referensi pengetahuan tentang cinta ATAU ingin melihat saya menangis, sih? Aigoooo...

"Memaki" Raden Mandasia

No Comments »


RADEN MANDASIA: Si Pencuri Daging Sapi adalah buku yang bangsat. Keterlaluan. Novel sialan. Entah ada berapa kata "anjing"—sebagai bahan ejekan yang dituliskan di buku ini. Saya tak menghitungnya. Tapi jumlahnya terlampau banyak untuk membuat saya yakin bahwa ini bacaan yang menarik.

Maki-makian yang ditampilkan dalam cerita membuatnya seumpama garam dalam hidangan sayur—yang tanpanya, tak ada rasa. Sebenarnya, saya tak begitu suka dengan hal-hal yang tidak baik macam itu. Akan tetapi, di tangan penulis, umpatan itu hadir di momen-momen yang tepat. Anehnya lagi, saya suka dan menjadi percaya kalau penulis sudah melakukan hal yang benar.

Kukira, sudah lama saya tak membaca novel Indonesia sebagus Raden Mandasia. Membacanya malah membuat saya seperti sedang menonton. Kisah perjalanan Sungu Lembu dan Raden Mandasia dengan mudah divisualisasikan di dalam kepala. Saya bahkan sempat ngiler sendiri saat bagian makanan diceritakan. Kenikmatannya hadir di kepala, meski tak dicecap langsung di lidah.

Ah, sudahlah! Tak perlulah saya berpanjang lebar. Pada akhirnya, ini novel yang nikmat sekali. Anjing betul. Hahaha!

Kecewa Karena "Cinta"

No Comments »


Baru bisa menuntaskan ini setelah memutuskan untuk tak menontonnya di bioskop sejak dirilis April lalu. Alasannya sederhana saja, karena Geng Cinta tak lengkap: kurang Ladya 'Alya' Cheryl di situ.

Menunggu dari April hingga bisa melihat Cinta main film di AADC bagian kedua pada bulan Agustus memang cukup lama. Niat awal mau nonton di televisi. Saya menunggu dengan harapan: stasiun televisi milik Harry Tanoesudibjo bisa menayangkan AADC sebagai salah satu film liburan lebaran pada bulan Juni yang lalu. Tapi itu tak terjadi. Kekecewaan itu pun saya pendam sampai malam ini akhirnya wajah Cinta bisa saya nikmati pada layar ukuran tak lebih dari 14 inchi: melalui notebook, sambil ngopi, dan menggaruk kepala karena gatal.

Sebenarnya, saya tak begitu punya niat yang besar menonton AADC yang kedua ini. Lebih tepatnya, rasa-rasanya tak wajib. Hanya saja, sifatnya "mubah": menontonya tak berpahala—tapi menghibur, mengabaikannya pun tak berdosa. AADC—bagi saya—sudah selesai waktu pertama kali hadir 14 tahun lalu.

Film AADC menurut sehemat pandangan saya, malah lebih menjengkelkan ketimbang pendahulunya. Alih-alih ikut terharu dengan alur cerita cinta, yang ada malah muncul kebencian di segenap hati dan jiwa raga. Saya bukannya tak suka melihat kebahagiaan orang lain. Tapi kasus yang ada pada AADC ini memang sungguh keterlaluan. Melihat Cinta dan Rangga balikan sungguh sangat menjengkelkan.

Salah satu adegan Cinta dan Rangga di AADC - 2. Serasa ingin menggantikan peran Rangga di situ. Hahaha! (Sumber Foto: /INT)
Saya mengira kalimat pedas "yang-kamu-lakukan-ke-saya-itu-jahat" oleh Cinta kupikir sudah cukup membuat Rangga putus asa. Bukannya melilit tali di leher dan gantung diri, Rangga malah sok puitis-melankolis sampai mengajak Cinta jalan-jalan: dari makan malam, ngopi bareng, hingga dihadiahi "bogem" mentah dari Cinta. Sebuah "pukulan" telak, tepat di bibir Rangga. Sialan! Hahaha.

Saya curiga, Rangga sepertinya sengaja menjadi lelaki jahat buat Cinta. Lelaki sialan ini sepertinya paham betul, wanita sekarang banyak yang tidak suka—bahkan menolak—lelaki yang terlalu baik baginya. Jawaban "kamu-terlalu-baik-buat-aku" sudah cukup menyakitkan bagi kaum adam yang sedang mengungkapkan isi hati kepada wanita yang disukainya. Rangga, lelaki bermuka datar dan dingin itu..tentunya tak ingin mendapatkan perlakuan ditolak seperih itu, sodara-sodara!

Strategi Rangga mungkin licik, sekaligus tidak bernilai luhur. Akan tetapi, dari AADC (akhirnya) saya belajar: kalimat "yang-kamu-lakukan-ke-saya-itu-jahat" yang dilontarkan wanita secantik Dian Sastrowardoyo di AADC, seakan menjadi awal mula pertanda pencapaian dan kesuksesan Rangga merebut (kembali) hati Cinta. Rangga sudah menjadi jahat. Dan itu, agaknya menjadi sikap yang disukai (mungkin beberapa) wanita—termasuk Cinta.

Rangga...yang kamu lakukan ke Cinta itu...sialan! Hahaha.


Dian Sastro itu...."sesuatu" ya?! (Sumber Foto: /INT)

Wahai DC, Kelakuan Kamu Itu Jahat!

No Comments »

http://www.moviedeskback.com/wp-content/uploads/2016/01/Suicide_Squad_Wallpaper_1680x1050.jpg

Saya enggan bertele-tela membuat review film ini. Untuk sinopsisnya, saya pikir google bisa menjawab semua itu. Kedua-dua, mari segera akhiri saja tulisan yang mungkin agak-sedikit-panjang ini dengan memulai cerita kegelisahan saya usai menonton film superhero DC ini. Ketiga-tiga...mari mulai dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim....

Mengapa menonton Suicide Squad? Oke, film ini saya nonton sebenarnya gara-gara penasaran cuma mau lihat aksi Joker versi Jared Leto. Namun, agaknya saya kecewa, peran Joker di film ini seolah-olah cuma jadi cameo saja. Hmmm...tapi untunglah kekecewaan itu sedikit tertutupi berkat 'kenakalan' Harley Quinn yang diperankan Margot Robbie. Jadi begini...secara umum—menurut saya—Suicide Squad bukanlah film yang buruk, namun terburu-buru.

Mudah-mudahan pihak DC tidak merasa "tertekan" dengan kepopuleran Marvel saat membuat film ini. Setelah nonton, saya pikir Suicide Squad terlalu cepat hadir sebagai film yang menghadirkan wajah superhero gadungan…eh…maksud saya gabungan "superhero" (supervillain a.k.a anti-hero). Kedalaman dan alur cerita yang dangkal dan terkesan dipaksakan—apalagi tokoh/karakternya belum begitu kuat tertanam di ingatan. Masalah durasi barangkali jadi permasalahan utama, sehingga pengenalan karakter di film ini jadi terbatas. Itulah kenapa saya pikir Suicide Squad muncul terlalu cepat.

Sepertinya pihak DC selalu terkendala dalam membangun cerita yang kuat. Hal ini kurang lebih sama saya perhatikan dalam film sebelumnya, yaitu Batman V Superman (BvS). Kekecewaan seusai menonton BvS belum hilang, muncul lagi Suicide Squad dengan masalah yang kupikir sama saja. Pihak DC tidak bisa memuaskan hasrat penonton.

Kalau saya melihat film-film sebelumnya, DC agaknya piawai membuat trailer film. Di situ kita disuguhkan beberapa potongan adegan film yang memukau dan membuat kita para penonton menaruh harapan besar lalu menjadi tak sabar untuk menontonnya. Tapi...apa yang terjadi, saudara-saudara. Apa yang tersaji pada trailer ternyata tidak sesuai dengan harapan. Pihak DC...yang kamu lakukan ke penonton itu...jahat!

Tapi di sini kita bisa setidaknya belajar, untuk ke depannya...alangkah baiknya tidak terlalu menaruh harapan besar untuk film DC yang bakal tayang ke depannya. Nanti rasa kecewanya juga besar. Saya tidak menyarankan untuk tidak menonton ya, Cuma anjuran untuk tidak berharap besar. Gitu.
Salah satu karakter favorit pada Suicide Squad, Harley Quinn. (Sumber foto: /INT)
Sebagai penonton, saya rasa ada baiknya pihak DC sesekali mencontoh "strategi" Marvel dalam film Avengers-nya. Salah satu misalnya, sebelum memulai debut—atau katakanlah (kalau ada) sekuel—Suicide Squad, tiap karakter "superhero"-nya dibuatkan film solo tersendiri lebih dahulu. Mungkin ini permintaan yang kurang ajar dari seorang yang bisanya cuma nonton, tapi saya rasa dengan begitu ceritanya bisa dimainkan dengan apik.

Batman dan Joker yang muncul dalam film ini mungkin sudah tenar lebih dulu. Banyak yang sudah mengenalnya. Tapi bagaimana dengan karakter yang lain? Semisal Harley Quinn, Katana, Slipknot, Captain Boomerang, dkk. Deadshot mungkin pengecualian, dengan penampilan yang cukup mencolok (begitupun Harley Quinn sebenarnya) di film ini. Wajar...karena Deadshot adalah pemimpin Suicide Squad–di luar Rick Flag.

Sebenarnya, masih banyak yang mesti saya ungkapkan. Tapi cukup sekian dululah. Saya capek ketiknya. Di luar plot cerita yang dangkal itu, Suicide tetaplah film yang menghibur. Dialog-dialognya juga segar. Humor Harley Quinn juga menjadi ‘penyejuk’ di suasana tegang. Dan satu lagi: latar musik film Suicide Squad saya akui memang keren.

Pokoknya sukses buat DC. Semoga rencana film Justice League-nya nanti bisa lebih baik. Dan, untuk film solo Wonderwoman tahun depan, tentu saja harus keren—karena di situ ada Gal Gadot. Hahaha!
SUICIDE SQUAD (Sumber Foto: /INT)

KEBANGKITAN SISI KEMANUSIAAN ZOMBIE

Baca selengkapnya » | 1 Comment »

  • Judul: WARM BODIES
  • Penulis: Isaac Marion
  • Penerbit: PT Ufuk Publishing Home
  • Cetakan I: Juli 2012
  • Tebal: 374 Halaman