Lelaki dalam potret ini bernama Isra. Salah satu dari sekian banyak anak yang rindu bersekolah. April lalu, saat berkunjung ke daerah tempat tinggalnya bersama para sukarelawan di komunitas sedekah buku, Isra dan teman-temannya sudah sekitar sebulan tidak mengenyam bangku pendidikan.
Dusun Cindakko, desa Bontoramba, kecamatan Tompobulu, kabupaten Maros, hanyalah salah satu daerah yang terkena imbas dari tidak meratanya akses pendidikan. Sekitar setahun lalu, daerah ini memang sudah punya sekolah darurat--walaupun jauh dari bentuk sekolah kebanyakan di perkotaan.
Saya belum begitu mengenal Isra. Tapi saya tahu, remaja yang bermimpi menjadi seorang guru ini, tentu tak mahir membolos. Sekolahnya hanya 'libur' secara terpaksa. Untuk banyak perkara yang begitu pelik, anak-anak pasrah menerima keadaan.
Agenda pada roster mata pelajaran nyaris tak ditepati. Kurikulum yang sering diganti kementerian pendidikan itu, agaknya tak berlaku di sini. Nyaris tidak ada jadwal yang pasti kapan materi pembelajaran itu diberi.
Dua guru bantu di sekolah itu, kata anak dusun Cindakko, jarang betul masuk mengajar. Ada cukup banyak masalah yang membuat saya menerka-nerka sebab-musababnya; bisa jadi akses jalan yang rusak lagi jauh, dan atau persoalan gaji guru. Itu baru dugaan. Masalahnya terlalu kompleks hingga tak etis bila menyalahkan seseorang secara sepihak.
Padahal, gairah bersekolah Isra begitu tinggi. Anak-anak dusun Cindakko punya impian yang ingin digapai. Menuju ke sekolah menempuh perjalanan kaki 3-7 km sepertinya sudah biasa. Semua demi menggapai cita-cita yang mulia.
Sekarang...Isra tak perlu menunggu waktu libur untuk tak masuk sekolah. Kabar yang datang dari seorang teman beberapa hari yang lalu mengatakan, gangguan kesehatan yang lambat ditangani, mengharuskan Isra berhenti menggapai cita-cita. Ia telah tiada; kembali ke sisi Yang Mahakuasa.
Tampilkan postingan dengan label alkisah. Tampilkan semua postingan
KEKECEWAAN PRIA ATAS RAISA (SEBUAH CURHAT)
Pertama-tama, selamat atas pernikahan Raisa dengan lelaki-yang-tidak-disebutkan-namanya. Peresmian jalinan asmara yang membuat suasana perayaan Iduladha semakin bermakna. Pada akhirnya, saya harus bersedia mengorbankan perasaan demi Raisa, untuk kemudian digantikan dengan lelaki yang tentu saja jauh lebih tampan dari saya.
Ketika saya sedang dalam puncak mengidolakan Raisa, lelaki-yang-tidak-disebutkan-namanya itu tiba-tiba datang menikahinya. Dulu, saat Presiden Jokowi menghadiahkan Raisa sebuah sepeda, saya masih bisa memakluminya. Namun ketika lelaki itu datang mengucapkan ijab kabul di hadapan orang tuanya, saya dibikin gelisah jadinya.
Lalu, yang kedua...kebetulan belum ada. Capek mikirnya. Maka dari itu, langsung saja pada poin ketiga: ungkapan perasaan betapa saya ikut bahagia melihatnya menikah. Sebagai lelaki yang senantiasa dibikin terluka, saya hanya bisa pasrah. Dan tak lupa berkaca sambil bertanya-tanya, "siapa saya?!"
😂
Pernikahan Raisa mungkin akan sedikit mengurangi kadar kecintaan saya kepadanya. Tapi tak lantas menjadikan saya membenci dirinya.
Raisa akan tetap jadi idola. Sosok perempuan paripurna. Publik figur yang perangai buruknya tak sekali pun kulihat terekspos di media massa. Pemilik wajah rupawan dengan pesona yang bikin minder Cleopatra. Berbakat di bidang tarik suara--yang entah kenapa--membuat saya terkenang Nike Ardilla.
Saya cuma bisa berdoa, semoga mereka berdua diberkahi keturunan yang cantik jelita seperti ibunya. Saya tidak ingin mendahului kehendak Yang Mahakuasa. Namun, barangkali saja, anaknya kelak adalah jodohku yang sebenarnya.
Sembari menunggu keajaiban itu tiba, dunia alternatif di dalam kepala saya saat ini sudah membayangkan Raline Shah, Isyana, sekalian Pevita. Hanya saja, untuk sebuah perjuangan menggaet ketiga wanita ini, saya harus siap menanggung sakit hati. Sekali lagi.
😂
Sodara-sodara...hari ini, momen pernikahan Raisa dianggap sebagai #HariPatahNasional (Edisi Kedua). Saya tidak tahu, apakah oleh pemerintah momen ini nanti bakal dimasukkan dalam kurikulum ilmu sejarah di sekolah. Tetapi kukira, tak ada salahnya dijadikan pelajaran. Karena di balik hati yang patah, (katanya) ada perasaan yang jauh lebih sempurna. *Alhamdulillah...akhirnya catatan ini ada pesan moralnya juga.* 
BUKAN KISAH KASIH DI SEKOLAH
Foto ini diambil ketika masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Menampilkan kondisi wajah saya dan tujuh teman lain saat masih remaja. Masa muda--yang menurut Rhoma Irama--masa yang berapi-api. Pemotretan menggunakan kamera beresolusi VGA, namun hasilnya tetap membuat kami terlihat gagah.
Kalian boleh protes. Saya tak mempermasalahkannya. Namanya juga darah muda. Yang maunya menang sendiri. Walau salah tak peduli. Darah muda. *jreeenggg!* Demikian menurut Rhoma Irama kembali menegaskan lewat lagunya.
Ketika SMA, jumlah lelaki di kelas hanya delapan orang. Dengan total siswa keseluruhan--kalau tidak salah ingat--sekitar 25-30 murid. Dominasi wanita di kelas tak membuat kita risih, malah bikin senang dan menentramkan hati. Sebab atas kondisi demikian, para pria punya peluang yang terbuka lebar untuk memilih dan tidak saling berebut wanita yang disukai. Hahaha!
Begitulah salah satu ciri lingkungan kelas eksakta yang terbangun sejak dulu; sedikit pria, banyak wanitanya. Tidak hanya itu. Siswa di kelas IPA mesti menanggung beban moral yang luar biasa kurang ajarnya. Siswa di kelas IPA dipandang "kaum terpelajar"; cerdas, berwibawa, berbudi pekerti (dan juga lebih gagah
😅). Pokoknya, setingkat di atas dengan mereka yang di IPS.
Entah mulai dari mana hadirnya pemahaman cilaka ini. Ada upaya stigmatisasi yang dibangun di sana. Syukurlah, saat SMA dulu belum pernah sekali pun saya dengar ada pria yang ditolak wanita IPA karena ia IPS. "Maaf, kamu terlalu ke-IPS-an buat aku." Sungguh jawaban ngeri, mengundang rasa ingin bunuh diri.
😷
Namun, berbeda dengan teman yang lain. Di kelas jurusan IPA, saya bukanlah jenis siswa yang menonjol. Tidak begitu pandai tapi juga tak banyak-banyak bodohnya. Saya tidak memiliki bakat terpendam, kecuali kemampuan menyimpan perasaan; lama dan dalam-dalam. Woey!
Setidaknya dengan begitu, saya bisa menjadi salah satu orang yang berusaha mematahkan stigma orang-cerdas-selalu-lahir-dari-jurusan-eksakta. Kukira, ini bentuk lain dari 'prestasi' yang tak pantas dipamer dan tidak patut untuk dibanggakan. Dipilih menjadi ketua kelas juga tak perlu diumbar. Sebab dulu kukira jabatan ini bisa dimanfaatkan menggaet wanita idaman. Ternyata, tidak!
😂
Kini...dari delapan orang di foto tersebut, Alhamdulillah...sudah dua orang yang menikah. Bahkan punya anak yang lucu lagi menggemaskan. Lima kawan yang lain masih sibuk kerja, sambil menghitung jumlah tabungan dalam rangka membeli mahar buat bakal calon istrinya.
Satu orang lainnya lagi sebenarnya tidak begitu penting, tapi ia sungguh berharap bantuan doa; semoga diberi kekuatan untuk segera 'move on' dari Raisa. Duh!
BEBERAPA CATATAN TENTANG SEPTEMBER (YANG TIDAK) CERIA
Beberapa hari belakangan ini, di bulan September, kronologi facebook saya dipenuhi pembahasan yang cukup berat untuk diserap kepala saya. Kata kunci, seperti: “komunis”, “PKI”, dan istilah “[–isme]-[–isme]” lainnya itu ... sungguh mengganggu sensitivitas humor saya dalam ber-media sosial (medsos) yang notabene sekadar mau mencari hiburan. Sok! Hahaha
😂
#2
Dalam rangka pencitraan, biar kesannya berintelektual–meski tanggung–dalam bermedsos, saya mencatat (merangkum?) beberapa hal dari banyak status dan bacaan yang berseliweran di internet. Beberapa pendapat orang lain, yang saya jadikan referensi untuk diri sendiri---yang kalau mau dibaca orang lain juga tidak masalah. Rasa bingung ditanggung masing-masing!
:p
Dalam rangka pencitraan, biar kesannya berintelektual–meski tanggung–dalam bermedsos, saya mencatat (merangkum?) beberapa hal dari banyak status dan bacaan yang berseliweran di internet. Beberapa pendapat orang lain, yang saya jadikan referensi untuk diri sendiri---yang kalau mau dibaca orang lain juga tidak masalah. Rasa bingung ditanggung masing-masing!
#3
Sejarawan Perancis, Pierre Norran dalam karyanya, “Between Memory and History” menyebut, ingatan tidak pernah dikenali melebihi dua bentuk legitimasinya; ingatan sebagai sejarah (history), dan ingatan sebagai cerita/kisah (story).
#4
Untuk mengerti sebuah bangsa, ada dua medium “ingatan” yang bisa digunakan, yakni melek “sejarah” dan juga membaca “kisah”. Apa yang hilang dari ‘sejarah’, bisa ditemukan dalam ‘cerita’ yang kadang berwujud sastra/literasi, seperti esai, atau bahkan dalam bentuk puisi.
Untuk mengerti sebuah bangsa, ada dua medium “ingatan” yang bisa digunakan, yakni melek “sejarah” dan juga membaca “kisah”. Apa yang hilang dari ‘sejarah’, bisa ditemukan dalam ‘cerita’ yang kadang berwujud sastra/literasi, seperti esai, atau bahkan dalam bentuk puisi.
#5
Sejarah selalu ditulis untuk kepentingan kekuasaan. Selalu ada muatan politis tertentu yang direncanakan oleh mereka yang memiliki kedudukan dalam pemerintahan. Target awal, membentuk kesamaan-ingatan di masyarakat. Tujuannya bisa beragam, tetapi biasanya selalu berkaitan dengan kekuasaan yang lebih besar. *au ah gelap!*
Sejarah selalu ditulis untuk kepentingan kekuasaan. Selalu ada muatan politis tertentu yang direncanakan oleh mereka yang memiliki kedudukan dalam pemerintahan. Target awal, membentuk kesamaan-ingatan di masyarakat. Tujuannya bisa beragam, tetapi biasanya selalu berkaitan dengan kekuasaan yang lebih besar. *au ah gelap!*
#6
Ingatan bersifat absolut, sejarah bersifat relatif.
Ingatan bersifat absolut, sejarah bersifat relatif.
#7.
Masyarakat saat ini dijejali “fakta” sejarah dari satu sudut pandang saja. Ingatan kita ingin diseragamkan. Sialnya, kita cukup menikmatinya dan jadi malas mencari sumber lain. Cara ini cukup ampuh dengan diproduksinya film “Pengkhianatan G30S-PKI” yang hampir tiap tahun selalu ditayangkan. Padahal, sumber sejarah yang seragam sering kali menjadi “senjata” bagi reproduksi kebencian masyarakat Indonesia.
Masyarakat saat ini dijejali “fakta” sejarah dari satu sudut pandang saja. Ingatan kita ingin diseragamkan. Sialnya, kita cukup menikmatinya dan jadi malas mencari sumber lain. Cara ini cukup ampuh dengan diproduksinya film “Pengkhianatan G30S-PKI” yang hampir tiap tahun selalu ditayangkan. Padahal, sumber sejarah yang seragam sering kali menjadi “senjata” bagi reproduksi kebencian masyarakat Indonesia.
#8
Tidak ada yang penting di bagian ini. Tetapi sengaja saya tulis biar status catatannya menjadi lebih panjang dan orang-orang jadi malas membacanya. Hahaha!
Tidak ada yang penting di bagian ini. Tetapi sengaja saya tulis biar status catatannya menjadi lebih panjang dan orang-orang jadi malas membacanya. Hahaha!
#9
Semoga saya terhindar dari segala debat kusir yang terkutuk!
Semoga saya terhindar dari segala debat kusir yang terkutuk!
RAISA (MANTAN TERINDAH)
![]() |
| sumber foto: instagram |
Tulisan ini bukan dalam rangka ikut-ikutan menanggapi tulisan adek Afi maupun kakak Gilang yang--katanya--lagi numpang tenar dengan mengkritik tulisan perempuan muda yang tengah duduk di bangku SMA itu.
Ada perihal yang lebih kompleks dari bahasan itu saya kira. Bukan urusan yang jauh dari singgungan soal agama yang memantik sumbu di kepala. Tetapi, murni perkara cinta yang gaungnya bikin sesak dada. Ini soal kabar pertunangan Raisa!
Tanpa mengurangi kegalauan saya, izinkan saya mengucapkan selamat berbahagia atas pertunangan Raisa dengan lelaki-yang-tidak-disebutkan-namanya. Ucapan yang ingin kuutarakan langsung lewat video call, tapi sayang nomor HP-nya pun saya tak punya. Ungkapan tak ikhlas yang sebenarnya ingin saya sampaikan melalui DM (direct message) via instagram atau twitter milik Raisa, namun khawatir tak dijawabnya.
Jadi, demi meminimalisir rasa sakit hati berkelanjutan, saya tuliskan saja di sini. Raisa sepertinya tak punya waktu untuk sekadar membaca pesan personal dari salah satu dari sekian ratus juta penggemarnya di seluruh tanah air Indonesia.
Sebagai salah satu fans-garis-lembut Raisa, saat ini saya berada dalam keadaan yang ambigu. Perasaan jadi cenat-cenut rasanya. Sejak menerima kabar pertunangan ini semalam, makan serasa tak enak, tapi Alhamdulillah tidur tetap nyenyak. Saya bahagia melihat Raisa, lalu menjadi marah tiap kali membaca berita tentang lelaki yang kini bersamanya.
Saya tak ada niat mencaci-maki lelaki-yang-tidak-disebutkan-namanya itu. Tunangan Raisa ini kayaknya hanyalah lelaki kemarin sore. Baru muncul dan mendekati Raisa ketika putus dengan Keenan, saudara Pevita Pearce.
Saya bahkan sudah mengikuti Raisa sejak follower IG-nya masih berkisar di angka 150K. Saya mengaguminya jauh sebelum lagu "Jatuh Hati" diciptakan dan dinyanyikan di banyak televisi swasta. Entahlah, apakah ini sebuah bentuk kesombongan yang pantas dipamer atau tidak, tetapi saya sedang kesal, galau, dan butuh bahu untuk bersandar.
Rasa-rasanya, saya tak sanggup lagi mau bilang apa. Kalau mau lebay, kata-kata, kini...nyaris menjadi air mata. Cinta seakan kehilangan defenisi. Kehilangan ruang untuk sekadar singgah di hati. *omong kosong apa ini?!*
Raisa...adalah kamu yang bikin saya belajar. Seperti bahagia, galau juga sepertinya sederhana; cukup dengan melihat kabar pertunanganmu dengannya.
Mau dikatakan apa lagi, kita tak akan pernah satu. Engkau di sana, aku di sini, meski hatiku memilihmu. Yang telah kau buat sungguhlah indah, buat diriku susah lupa.
Lagu "Mantan Terindah" tidak seperti biasanya. Malam ini, syair dan iramanya serasa bikin pedas telinga, menyayat sanubari di dalam dada, kemudian ingin menangis dari balik jendela. (*)
#HariPatahHatiNasional
#HariPatahHatiNasional
*p.s.: tulisan ini tidak untuk ditanggapi atau dikritik. Buang-buang waktu!
JOMBLO, NASIBMU KINI...
Jomblo itu tercipta sebagai pengamat. Ya, pengamat hubungan orang lain. Tak heran, jomblo itu kadang-kadang lebih tahu (atau lebih tepatnya getol berkomentar) persoalan pelik dunia per-pacaran yang adil dan beradab.
Mengapa demikian? Sebab, jomblo tidak berada dan menjadi laiknya katak dalam tempurung. Posisi "bebas" membuat jomblo bisa melihat banyak masalah dari berbagai sudut pandang. Tanpa harus terganggu atau diintervensi pacar ataupun selingkuhan orang lain.
Jomblo itu independen. Berdiri sendiri. Bukan keputusan yang keliru, jika ada lelaki atau wanita kasmaran yang sedang bermasalah dalam soal asmara, meminta saran dan kalimat-kalimat super dari kaum jomblo. Sebagai pengamat yang dituntut berpandangan obyektif, jomblo selayaknya adil sejak dalam pikiran dan perbuatan.
Soal memberi solusi hubungan percintaan orang lain, jangan ditanya lagi. Jomblo bisa menjelma bak Pegadaian; mengatasi masalah tanpa masalah. Berbagai pengalaman "mengamati" etika dan tata cara pacaran orang lain, akan diakumulasikan menjadi sebuah saran yang konstruktif bagi pasangan Anda. Mau pisah atau menikah, insya Allah, jomblo siap diajak bekerjasama.
Jomblo itu kuat, tetapi juga sosok yang mudah lelah. Ya iyalah, karena banyak hal yang mesti diurusi dan diteliti. Mulai dari agenda kerja menguntit (stalking) di sosmed ataukah mencuri-dengar sebab-musabab pertengkaran pasangan orang lain. Sungguh, program kerja yang menghabiskan kuota (internet) dan tenaga.
Saking banyaknya energi yang meluap-luap, jomblo sengaja menjadi pengamat. Sebuah "pekerjaan" yang menjadi medium pengalihan energi melimpah yang seharusnya digunakan untuk pacaran, lalu sibuk mengantar pasangan ke sana-ke mari mencari alamat dan tempat makan.
Menjadi pengamat bukan pilihan mudah bagi jomblo. Jalan kehidupannya rumit. Hinaan dan cacian bagai makanan sehari-hari yang senantiasa berpaket dengan kesabaran. Tetapi, tidak banyak yang tahu, beberapa orang memutuskan sendiri sebab inginnya begitu. Jomblo adalah jalan hidup. Bukan makhluk jalang, lagi hidup. Hahaha.
Alih-alih memutuskan pacaran, spesies jomblo punya alasan atas konsistennya dalam kesendirian. Kau tahu kenapa? Karena jomblo adalah makhluk berbudi luhur. Merebut pacar orang lain atau mengganggu seseorang yang ingin membangun sebuah mahligai pacaran, hanya akan mencoreng status dan nama baik jomblo.
Kau boleh tidak percaya, tapi mari saya beritahu, cukup banyak jamaah jomblo yang sudah tercerahkan hidupnya. Kaum jomblo jenis ini boleh dikata telah mencapai taraf makrifat kehidupan. Mementingkan kebahagiaan seseorang dengan membukakannya jalan menuju hati orang lain--walaupun sebenarnya dia pun punya kesempatan besar untuk itu. Sungguh sebuah tujuan mulia dengan dalih yang cukup sialan rasanya. Boleh muntah? Ya. Hahaha.
Jadi, wahai...kalian-kalian makhluk-berpasangan...berhentilah kiranya menghina jomblo. Sekali kau caci, jomblo punya 1.001 macam cara untuk membuatmu putus dengan kekasih hati. Ancaman yang cukup menyeramkan, memang. Tetapi, itu pun akan dilakukan kalau insan jomblo yang semoga dirahmati Tuhan, merasa terdesak.
Kau tahu?! Ibarat sabar, jomblo (sendiri) juga ada batasnya.
---ALHAMDULILLAH TAMAT---
SELFIE (SWAFOTO)
Siapa yang tak mengenal Elvi Sukaesih? Salah satu penyanyi legendaris berkebangsaan Indonesia yang dijuluki Ratu Dangdut. Kenal tidaknya, tak masalah. Saya tidak sedang membahas tentangnya dan betapa merdu suaranya. Status ini tentang selfie (swafoto). Memotret diri sendiri.
Ada cukup banyak indikator untuk menjadi orang baik. Sedikit di antaranya (menurut sebagian warga Indonesia) minimal memenuhi dua parameter ini: rajin menabung dan tidak makan sabun. Saya tidak yakin, apakah rajin ber-selfie termasuk ke dalam variabel tersebut. Tetapi, sependek sepengetahuan saya, beberapa perempuan menolak lelaki dengan alasan terlalu baik, bukan karena sedikit-banyaknya koleksi foto selfie di telepon genggamnya. *bahas apa ini, woey?!*
Ada berapa banyak koleksi foto selfie (swafoto) di telepon genggammu? Tidak usah dijawab. Cuma basa-basi. Saya pribadi belum menghitungnya, tetapi bisa dipastikan, jumlah koleksi foto selfie saya tak lebih dari hitungan jari tangan dan kaki. Sedikit saja, memang. Apakah itu sebuah bentuk ketertinggalan saya di era kekinian? Entahlah.
Hanya saja, saya seringkali berpikir, swafoto (bisa jadi) adalah sebuah bakat. Di luar dari jenis kamera, agaknya hanya orang berkemampuan khusus sajalah yang bisa melakukannya. Jika benar begitu, kayaknya saya tidak dianugerahi bakat dari Tuhan untuk ber-swafoto.
Saya suka iri dengan kawan lain yang memiliki kemampuan itu. Wajah bahagia, tanpa beban, lepas, dan bebas. Seperti itulah interpretasi saya melihat foto-foto selfie teman-teman. Dengannya, membuat saya terprovokasi untuk ikut melakukannya.
Pernah suatu waktu saya menyiapkan jadwal khusus untuk latihan selfie. Mengasah kemampuan agar tercipta foto pribadi yang ketjeh, beradab, dan berketampanan sosial. Perbuatan ini dilakukan secara diam-diam. Tanpa sepengetahuan keluarga, teman, kecuali Tuhan.
Salah satu foto yang saya unggah ini, termasuk salah satu swafoto dari cukup banyak percobaan yang tidak diharapkan. Di mana, saat kulihat hasil jepretannya, ada perasaan berdesir di dada. Kuyakin itu bukan cinta, tetapi semacam perasaan ingin menonjok muka sendiri. Fotonya sengaja saya edit sedemikian rupa, agar tak tampak hina. Sungguh, saya kelihatan bangsat kalau lagi selfie. Seperti bukan Syachrul Arsyad yang kalem sebagaimana biasanya. Hahaha *muntah*
Barangkali saya termasuk generasi yang patut dikasihani, karena tak berkompeten menghasilkan foto selfie yang bisa mendulang banyak tanda "love" di instagram. Disebut kurang percaya diri mungkin ada benarnya. Tetapi, selfie sepertinya memang bukan gayaku. Pegang tongsis saja, tangan saya bisa sampai gemetaran.
Kini kau tahu, selfie bukan bakatku. Tapi kalau diajak wefie sama kamu, sepertinya saya mau.
KISAH MASA BELIA (Sebuah Cerita Tak Penting)
Siapa yang tidak kenal Syachrul Arsyad? Tentu saja tidak ada. Wajar. Dia bukan artis. Bukan pula sejenis ‘oppa-oppa’ macam manusia Korea. Tetapi...ada sebuah cerita, yang olehnya direkomendasikan jangan dibaca, karena mengandung unsur tidak penting. Begini...
Ada foto. Itu. Penampakan Syachrul Arsyad waktu masih belia. Wajah semasa masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), yang dipotret dalam keadaan jomblo. Ketika masih kanak-kanak dulu, urusan pacaran belumlah terlintas di dalam kepalanya yang masih agak suci itu. Dipakai berpikir menjawab soal Matematika saja susah, apalagi buat memahami logika para wanita. Tetapi, itu dulu. Sekarang, masih...
:v
Foto diri ini diambil dari ijazah SD. Di umur yang–kalau tidak salah ingat–sementara 12 tahun tersebut, Syachrul Arsyad belumlah akil baligh. Usia yang menurut kantor dinas kependudukan dan catatan sipil di daerah kelahirannya tidak bisa dibuatkan kartu tanda penduduk (KTP). Sebuah tanda pengenal memajang foto diri yang menunjukkan betapa kebebasan berekspresi manusia dibelenggu di situ.
Saya tidak mengajak untuk menatap dan menilai potret lelaki kecil yang dosanya belumlah banyak-banyak seperti sekarang. Tetapi, menurut pandangan objektif bapak dan mamaknya, terpampang nyata penampilan sosok lelaki cilik berwajah lucu, polos, lugu, (insya Allah) gagah, dan kalau mau narsis disebut manis juga boleh.
Itu perkataan orang tua. Saya percaya kekuatan kata-kata orang tua. Termasuk pengakuan barusan. Ucapan yang di dalamnya mengandung kejujuran, meski ada pula yang mungkin merasa ingin muntah saking tidak percayanya. Beberapa di antara pembaca yang budiman mungkin mengalami apa yang saya katakan tadi. Tidak ada yang memaksa, toh selera orang fitrahnya memang berbeda-beda.
Semasa SD, cita-cita Syachrul Arsyad termasuk tinggi. Sebab, kata ibu gurunya kala itu, bercita-cita mesti sampai setinggi langit. Kalau hanya setinggi arena panggung dangdutan, jatuhnya jadi Cita Citata. Hahaha! Garing? Iyes!!! *krik...krik...krik*
Menjadi dokter atau tentara termasuk dua dari cukup banyak impian mulia bagi lelaki yang lahir di benua Asia ini. Mengapa dokter dan tentara? Entah apa yang dipikirkannya saat itu, tetapi kedua profesi ini dipilih atas asas ke-keren-an semata; mulai dari tampilan seragam, hingga pekerjaan yang dilakukan.
Jika saja guru SD yang sama kembali mempertanyakan cita-cita tersebut kepada Syachrul Arsyad yang sekarang, tentu akan sedikit malu jadinya. Impian kerennya itu tidaklah tercapai, sebab dirinya tidak berusaha sekuat Satria Baja Hitam untuk menggapainya.
Akan tetapi, Syachrul Arsyad masih mengharapkan impian tersebut. Kalaupun tidak “menjadi”, paling tidak bisa “merasakan” hidup berdua bersama kekasih hati yang menjalani salah satu profesi tadi. Asem, eh, ehem! Namun, profesi dan dari kalangan manapun sebenarnya tidak jadi soal, asalkan ia perempuan. Dapat Raisa, Alhamdulillah, kebagian Pevita Pearce pun tidak masalah. Hahaha!
Sungguh, waktu begitu terasa sekali jalannya kalau hidup susah. Yang bahagia, pasti bilangnya hidup ini indah dilalui tanpa terasa. Apapun, Syachrul Arsyad wajib bersyukur menjalani masa keduanya. Sebab, ia sudah besar sekarang. Apanya? Itu, tinggi badannya nyaris 170 centimeter. Ia bisa begitu karena masih diberikan kesempatan bernapas oleh Yang Mahakuasa, rajin diberi makan orang tua dan tak lupa minum sehabis kenyang.
Selain tidur dan mandi sendiri, lelaki yang biasa disapa Syachrul ini juga sudah bisa bikin akun facebook dan mengingat password-nya sampai sekarang. Begitulah dia hidup di dua dunia, kini: nyata dan maya. Sebuah dunia di mana masing-masing orang boleh bersandiwara, berbahagia, atau saling menghina.
Entah dengan status tulisan ini–yang kisahnya dijalani di dunia nyata dan disebar ke dunia maya. Sebenarnya tulisan ini untuk konsumsi (arsip) pribadi semata. Tidak ada kepentingan pihak siapapun di dalamnya.
Bahkan sebenarnya saya yakin, impian jadi presiden malah bisa diraih seketika, jika ada orang tidak membuang waktunya membaca kisah seperti ini. Cerita yang tentu saja tidak penting dan jauh dari kesan menarik karena tidak membahas soal pilkada dan perselisihan agama–seperti status kebanyakan di facebook. (*)
EFEK HUJAN
Lagi. Hujan turun lumayan deras malam ini. Saya yang sedang dalam perjalanan pulang, mesti rela basah-basahan lagi. Sengaja. Saya kehujanan karena memang inginnya begitu.
Saya punya mantel (jas hujan) yang malas kupakai. Perbuatan itu tidak lantas menjadi alasan (dikiranya) saya selalu menyukai hujan. Jujur saja, saya tak punya banyak stok kalimat postif maupun argumen filosofis mengapa saya suka hujan dan rela berbasah-basahan karenanya. Saya hanya malas mengenakan jas hujan. Repot. Itu saja.
Masalahnya adalah, selama perjalanan pulang menikmati hujan, kepala saya suka kepikiran banyak hal. Bukan urusan kenegaraan, sebab itu kapasitas Presiden Jokowi.
😅 Hujan acapkali menjadi pemantik bagi saya untuk selalu masuk ke "gubuk-pikiran" di dalam kepala.
Biar kuberitahu, "gubuk-pikiran" adalah sebuah nama tempat bagi saya menyimpan cukup banyak pertanyaan aneh di kepala. Bahkan, sebenarnya cukup aneh untuk dijadikan pertanyaan. Itu hadir secara tiba-tiba.
Karena hujan, muncullah pertanyaan aneh seperti ini: apakah dengan jatuh cinta dengan diri sendiri, lantas bisa disebut sebagai golongan spesies-penyuka-sesama-jenis? Maksud saya, 'kan satu jenis Syachrul Arsyad, sesama dirinya sendiri. Termasuk kategori kelainan, kah? Kukira itu aneh bin membingungkan. Setidaknya bagi saya pribadi.
Saya belum menyediakan jawaban atas pertanyaan tersebut. Pun, saya tidak memaksa orang lain untuk memberikan jawaban. Biarlah pertanyaan aneh itu menggantung sampai mak comblang memberinya jawaban yang pas untuk itu.
Apalagi saya cukup yakin, dunia ini kodratnya diciptakan berpasang-pasangan. Seperti pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Pagi dengan malam. Begitupula saya yang berpasangan dengan...woey, dengan siapa woey?! Hahaha.
😅
Saat ini, rasa-rasanya ingin kulari ke toilet, kemudian temukan jawabanku.
MALAM MINGGU
Tepat hari ini, Sabtu, 4 Februari 2017, akhirnya diberi kesempatan oleh Tuhan menunaikan malam minggu yang ke-1.346 dalam hidup saya. Tidak ada acara perayaan mewah sebagaimana pasangan ABG kasmaran memperingati hari jadian mereka yang biasanya baru berjalan seminggu atau sebulan.
Entah doa-doa siapa saja yang mustajab malam ini. Maksud saya, malam minggu ini cuaca dingin dan Makassar dilanda hujan. Tidak ada hujan yang terjadi atas doa mujarab jomblo yang terzalimi; doa manusia yang lahir dari ketersiksaan diri melihat kebahagiaan orang lain, atau bisa jadi atas sakit hati karena barusan diputuskan kekasih.
Saya pribadi melalui malam minggu dalam keadaan biasa saja. Kebanyakan malam minggu saya begitu. Seringkali ditunaikan dengan menikmati secangkir kopi di kafe, berdua, bersama sepi. Saking biasanya, sialnya, jadi kebiasaan. Atau kadangkala, nongkrong bersama pacar. Maksud saya, pacar orang lain---yang tentu saja didampingi pacarnya juga. *lambaikan tangan ke kamera*
😂
Tidak ada yang istimewa dari malam minggu yang ke-1.346. Saya menganggap, tak perlu dihadirkan sebuah perayaan mewah untuk sebuah angka. Kecuali, mendengarkan lagu-lagu Raisa dan merawat kegalauan yang kadang saya sendiri bingung datangnya entah darimana.
Raisa dan kegalauan adalah sepaket hadiah malam minggu yang sederhana. Saya suka Raisa. Begitu juga karyanya. Saya tidak tahu pasti, apa dia juga begitu denganku. Sebenarnya saya tidak begitu peduli. Bahkan, saya sudah lebih dulu menolak Raisa sebelum ia menyatakan cinta kepada saya. Sungguh, imajinasi memang suka keterlaluan juga.
😅
Lumayan sulit menjadi Syachrul Arsyad. Menjalani malam minggu hingga ke-1.346 tidaklah mudah. Masa-masa di antaranya tidak selalu diselingi tawa, namun ada juga duka. Kebanyakan diisi dengan galau, tetapi kemudian saya penjarakan dengan menulis catatan seperti ini. Dan itu cukup menyenangkan; semacam terapi.
Kukira, malam minggu itu serupa simbol semata. Senang dan bahagia termasuk persoalan substansial yang bisa diraih di hari-hari lain. Malam minggu itu fana, yang abadi seharusnya bahagia.
Saya suka malam minggu yang sederhana saja. Cenderung stasioner, tetapi 'manis'. Kata terakhir barusan itu...kutujukan untukmu!
Menyambut Hari dengan Be-resolusi
Media sosial dilingkupi orang-orang optimistis. Menyenangkan sekali melihat dunia maya penuh dengan harapan-harapan. Berbagai macam mimpi ditebar, hingga tidak perlu lagi ada caci-maki yang bikin janggut terbakar.
Orang-orang menamakannya resolusi. Sebut saja, mimpi-mimpi yang dituntut tercapai pada tahun mendatang. Ada banyak target. Bagi yang kuliah, ingin cepat wisuda; Yang habis wisuda, ingin dapat kerja; Mereka yang kerja, ingin segera menikah; Lalu, yang sudah menikah, malah minta nambah. Jika begitu, maka lengkaplah sudah, jomblo tak kebagian apa-apa. Hahaha!
Apapun, selama untuk kebaikan dirinya sendiri, dan juga tidak merugikan privasi orang lain, maka tiap manusia bebas bermimpi. Hanya karena kita berbeda dalam cara meraih kesenangan, hendaklah kita menghargai perbedaan. Jangan sesekali kau hina kebahagiaan dan mimpi orang lain. Marilah kita saling menjaga persaudaraan. Pokoknya, marilah kita! Wabillahi taufik walhidayah. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Begitulah salah satu contoh penutup ceramah salat Jumat.
Termasuk saya. Secara pribadi, saya pun punya mimpi: menikahi Raisa, diberkahi anak-anak yang lucu, dan hidup bahagia selamanya. Tetapi, semua berubah, sejak matahari terbitlah sudah, yang membangunkan saya dari segala angan-angan yang terjadi beberapa malam yang lalu itu.
:v
Jujur saja, saya juga ingin berpartisipasi dalam euforia kekinian akhir tahun. Ikut menebar resolusi di tahun 2017. Saya cuma tak pandai membahasakannya menjadi beberapa item mimpi yang membawa kesan filosofis seperti yang teman-teman sebarkan di media sosial.
Maka cukuplah dulu, hidup ini berjalan sebagaimana takdir Allah SWT. Diibaratkan air mengalir juga boleh. Tetapi, kukira akan menyenangkan, jika saya bisa ikut menjadi bagian dalam proses pencapaian resolusi yang orang-orang buat. Entah nanti kapan, dimana, dan bagaimana prosesnya.
Untuk saat ini, ada hal yang lebih mendesak yang perlu saya pikirkan. Tentu saja, hari ini memasuki masa libur. Saya khawatir, masa itu habis terlewatkan di kasur dan menjadikan mimpi-mimpi memang hanya sebatas bunga tidur. Alamak!
*catatan:
Ditulis pada suatu malam yang sunyi di rumah, Sabtu, 31 Desember 2016.
CERITA TENTANG BAPAK
Rumah sakit selayaknya membuat Muhammad Arsyad belajar satu hal; ia bukan superhero, yang selalu bisa menang melawan tokoh antagonis. Arsyad tidak harus senantiasa berprinsip seperti jargon produk semen; berdiri keras dan kuat.
Semasa hidup, sependek pengetahuan saya, saya belum pernah melihat bapak selemah seperti saat dirinya berada di rumah sakit. Saya seakan melihat Arsyad yang berbeda di sana. Jarang sekali, saya melihat bapak, dengan wajah menahan nyeri, berusaha memenjarakan erangan yang bisa saja muncul tiap kali jarum suntik menembus kulitnya. Lalu, mengalirkan larutan elektrolit dari infus di urat nadinya.
Selama kurang lebih 20 hari menjalani rawat inap, di dua rumah sakit yang berbeda, Arsyad menjadi "tamu" di sana. Sebuah tempat yang saya yakini, ia benci. Menjadi pasien, seakan membuat harganya dirinya runtuh.
Mengalami cedera cerebrovaskuler adalah kabar buruk dari hari-hari baik yang telah dijalani Arsyad. Sejak didiagnosa terkena stroke hemoragik, 23 November lalu, dirawat di rumah sakit bak penjara bagi bapak. Masuk ICU adalah pilihan baik bagi anak-istrinya yang khawatir akan kesehatannya, tetapi bukan tempat yang benar menurut anggapan pribadinya.
Tapi mau bagaimana lagi, tempat terbaik untuk merawat kesehatan orang keras kepala macam bapak adalah rumah sakit. Entah, barangkali Arsyad phobia dengan hal-hal berbau rumah sakit. Saya belum pernah menanyakannya secara langsung. Saat Aminah, sang istri tercinta juga masuk rumah sakit lebih dulu, tak sekalipun ia menjenguknya ke sana. Di balik itu, sikapnya lantas tidak serta-merta bisa ditafsirkan bahwa ia tak cinta. Arsyad hanyalah manusia biasa yang tak tegaan melihat orang-orang sakit. Apalagi istri sendiri.
* * *
Saya berterima kasih kepada orang-orang baik yang telah datang menjenguk bapak. Tidak hanya membawa satu-dua kaleng khong guan, namun ada doa (yang kini makbul) dengan takaran yang tak bisa diukur demi kesembuhan bapak. Semua berkat keluarga dekat, kerabat, dokter, perawat, dan semua orang yang sebenarnya bisa disebut satu per satu, tapi banyak yang belum kukenal namanya. Hehehe!
Seperti tulisan dalam status ini, beberapa ucapan memang tak selalu terkirim, tapi saya yakin selalu ada doa yang akan sampai kepada orang-orang baik. Tak ada balasan lain dari kami sekeluarga kepada mereka yang telah berbaik hati selain ucapan terima kasih, begitu pula balasan doa; semoga kita semua diberkahi Allah SWT.
Sungguh, rumah sakit juga telah membuat saya dan saudara-saudara lain sadar dan belajar bahwa yang namanya merawat itu memang tidak mudah. Perhatian anak-anak kepada bapaknya selama di rumah sakit, tentu tidak sebanding dengan perlakuan bapak-mamak puluhan tahun “mewakafkan” diri membesarkan dan menyekolahkan anak.
Akan naif jadinya, jika berpikir sudah saatnya anak-anak yang gantian merawat bapak-mamak. Karena mau bagaimanapun, rasa sayang orang tua selalu lebih besar terhadap anaknya. Sekeras apapun kata “sayang” itu kau ucapkan di telinga orang tua, bapak-mamak selalu punya rasa sayang dominan lebih besar; tidak dimulutnya, tapi di dalam hati, melalui perbuatannya. Saya tidak membantah itu!
* * *
Bapak sedang di rumah. Sejak 2 Desember lalu, ia sudah kembali ke kampung halaman. Bertemu istri yang merindukan kehadirannya. Saya yakin betul, dengan terbebasnya bapak dari rumah sakit, pria berusia nyaris 58 tahun ini, ingin langsung menekuni pekerjaannya. Namun, ia mesti mengurungkan niat itu, bekerja bukanlah pilihan tepat bagi orang yang belum direkomendasikan memiliki beban pikir yang banyak.
Beliau memang tipe pekerja keras, cenderung pendiam, sekaligus keras kepala. Beberapa sifat yang dimiliki orang-orang berzodiak Capricorn. Tapi ramalan memang tidak selalu benar, bahkan cenderung acapkali salah. Mamak saya yang merupakan istri Arsyad–yang juga lahir pada tanggal, bulan dan tahun yang sama–malah berkebalikan dari karakter itu.
Berbeda, namun bisa hidup bersama berumah tangga. Bahagia, setia, dan tahan lama. Maksud saya, tidakkah usia 34 tahun pernikahan menjadi bukti bahwa Arsyad dan Aminah adalah sebenar-benarnya jodoh. Sepasang manusia yang ditakdirkan saling menyayangi. Sejak menikah 14 Agustus 1982 silam, tak ada dari mereka berdua yang saling mengingkar janji, sampai sehidup semati.
Saya suka akhir cerita yang baik dan bahagia. Tentu, tidak semua kenangan tergambarkan dengan baik. Tetapi, epilog tadi sudah cukup bagus untuk menyudahi tulisan yang bakal menjadi memori pribadi tentang bapak maupun mamak. Oh iya, terakhir: Selamat Hari Ibu, Bapak! (*)
MEMBINCANGI FACEBOOK
Di facebook, di dalam dunia yang penuh dengan fitnah dajjal, jarang sekali ditemukan diskusi atau perdebatan yang bervisi meluruskan lagi mencerahkan. Kebanyakan muncul hanyalah orang yang tampil sebagai pembeda; mengklaim diri siapa yang pintar dan pantas dibodohi di sana, di sini, dan di mana-mana saja yang ada tulisan (postingan) yang memantik sumbu di kepala.
Saya memilih untuk tidak terlalu menyentuh hal-hal "sensitif" dalam ber-status atau berkomentar di media sosial (medsos). Kalaupun ingin, saya suka menulisnya dalam keadaan bercanda. Bukan karena mau cari aman atau menempatkan diri saya di wilayah abu-abu. Saya merasa belum cukup mumpuni menjadi moderator atau narasumber yang berpotensi menciptakan debat kusir.
Apalagi, tidak ikut terjun ke dalam hal-hal yang lagi populer di facebook, tidak selalu berarti (benar-benar) abai terhadap peristiwa tersebut. Beberapa orang tentu punya pilihan dan berhak selektif, tentang hal apa saja yang mau ditulis dan dibagi (untuk kemudian dilihat atau dibaca orang) di medsos.
Dari awal, saya sendiri hanya berusaha menjadikan media sosial ini sebagai hiburan, sisanya untuk mencari pengetahuan. Saya memilih facebook bukan sebagai sumber, tapi sekadar media sekunder untuk mencari dua hal itu: hiburan dan pengetahuan. Kadang-kadang, cari jodoh juga sih. Hahaha!
Kalori di dalam tubuh saya tidak pernah cukup besar untuk menjadikannya energi dalam sebuah perdebatan sengit di facebook. Saya tidak suka menenggelamkan diri terlalu dalam pada sebuah debat status yang membahas tentang penista agama, roti, dan atau peci(?). Lalu, saling lempar argumen biar dikata pintar—karena telah ikut andil berkomentar di situ.
Facebook memang media yang menawarkan kesenangan. Berbagai macam bentuk pula. Dihadirkannya konten yang menggiurkan. Jemari kita selalu terpantik untuk bergerak lebih cepat; mengetik status, berkomentar, dan membagi hal-hal apa saja—walaupun tanpa filterisasi melalui kepala. Dan itu, candu. Entah kenapa dan bagaimana.
Lihatlah...facebook telah berubah, sejak hoax menyerang. Lalu, kemana sang avatar Mark Zuckerberg saat dunia membutuhkannya? Apa perlu saya bertanya pada rumput tetangga yang sedang bergoyang?
Awalnya adalah menghubungkan jalinan pertemanan. Kini, malah memunculkan permusuhan, pertikaian, judi, miras, dan hal kacau lainnya—yang sebenarnya bisa saya sebutkan satu per satu tapi capek ketiknya.
😂
Sesekali, melihat hal semacam itu, ingin rasanya kulari ke facebook, kemudian teriakku: SANTAI WEH...!
Kenang - Kangenan
![]() |
| Mahasiswa Kelas C Prodi Teknik Listrik Jurusan Teknik Elektro '09. Bergambar bersama sebelum benar-benar jadi calon pengangguran. Hahaha! |
Potret pada zaman dahulu kala, ketika para manusia cerdas(?), baru saja terbebas dari belenggu pendidikan bernama perguruan tinggi. Selepas menyelesaikan ujian sidang sebelum menyambut wisuda, para bakal calon pengangguran itu memutuskan berfoto bersama. Tujuannya, supaya hasil cetaknya berguna sebagai pengisi ruang kosong di dompet masing-masing. Hahaha!
Itu di tahun 2012 pada bulan November. Secara administrasi, status kita bukan mahasiswa lagi. Sebulan lagi sejak saat itu, kita tinggal menanti prosesi wisuda sebagai upacara seremoni tak begitu penting. Momen dimana hanya mempertegas status dan posisi kita bahwa bakal lahir calon generasi muda yang (insya Allah) akan menambah beban dan menyusahkan negara.
Kini, empat tahun sudah berlalu sejak wisuda memisahkan masing-masing dari kita. Menjadi manusia merdeka mandiri, lepas tanggungan orang tua, tapi masihkah kita menyusahkan negara? Tentu saja iya. Hahaha!
Tak masalah. Tiap-tiap manusia yang terlukis wajahnya di foto itu telah hidup di jalannya masing-masing. Ada yang sudah menikah, lanjut kuliah, sibuk kerja, dan ada pula yang masih resah karena sibuk kerja tapi belum nikah-nikah.
Akan tetapi, jujur saja saya ungkapkan, Alhamdulillah karena tidak ada dari kita yang sampai saat ini berniat jadi politisi. Hal tersebut tentu bakal menjadikan proses reuni yang suci menjadi tercemar karena diisi perbincangan yang kaku dan membosankan. Terlebih lagi bisa mengancam jalinan pertemanan hanya karena berdebat soal kekuasaan. Jika begitu, cukuplah untuk tetap jadi pengangguran yang menyenangkan saja. Hahaha! *eh*
Sudah ya. Kalian salah kalau bilang kangen tidak butuh banyak energi. Akhirulkalam: selamat menunaikan ibadah kangen!
KEMATIAN JOHNY SANG KECOA
![]() |
| Johny yang terbujur kaku. |
Entah peristiwa apa yang saya lewatkan semalam. Dalam tidur, saya tak menyadari bagaimana Johny menghadapi masa sakaratul maut. Tetiba saja, di suatu pagi yang seharusnya indah, saya menemukan tubuhnya terbalik tak bernyawa—tanpa tahu sebab kematiannya. Dia meninggal dalam kesendirian, tanpa didampingi kerabatnya. Kupikir, dunia per-kecoa-an kejam juga. Tega.
Johny telah tiada. Pergi tanpa pesan kepada keluarganya yang kini mungkin sedang sibuk mencari. Tubuhnya tak lagi merasakan dinginnya ubin, cerahnya mentari, dan tak lagi bebas mengepakkan sayap, terbang ke sana-kemari mencari alamat.
Selamat jalan, Johny. Kehadiranmu di dunia ini tak ada yang sia-sia. Paling tidak, semasa hidupmu sebagai kecoa, bisa menjadi pengingat kepada manusia-tak-tahu-diri, bahwa ada sesuatu yang perlu kita waspadai kehadirannya. Sesuatu yang tidak kita sadari, dan membuat dada berdebar-debar saking kagetnya saat kemunculannya. Dan itu kau...Johny—dan juga teman sebangsa kecoamu itu.
Akan tetapi, Johny berbeda dengan kecoa lain. Setidaknya, dia punya nama. Sebuah identitas yang sengaja saya sematkan kepadanya, karena belum sempat kenalan semalam.
ULTAH: Tersiksa Dulu, Bahagia Kemudian?
Judul berita (lihat foto) ini saya pikir hanyalah salah satu contoh dari banyak kejadian menggelisahkan dari sebuah cara merayakan hari kelahiran. Niat hati membahagiakan, ujung-ujungnya malah membawa kesedihan atau—bahkan lebih miris lagi—kematian.
Sebenarnya, saya pribadi tak begitu peduli dengan perayaan hari kelahiran atau ulang tahun (ultah). Maksud saya, "tradisi" siram tepung, air got, membuang telur, sampai "menyiksa" teman—dan kelakukan serupa lainnya adalah tindakan "mengerikan" bagi (sebagian besar) orang yang seharusnya diperlakukan "layak" di hari kelahirannya. Kehebohan macam apa itu?!
Apakah tidak ada cara lain yang lebih bernilai luhur untuk mereka yang berulang tahun diperlakukan dengan baik? Dengan melayangkan doa, misalnya. Memberi kado kesukaannya pun tak jadi soal. Malah lebih beretika dan elegan tanpa membuat dia yang berulang tahun harus "tersiksa" lebih dulu.
Jujur saja, saya termasuk pribadi yang tidak respek dengan perayaan ultah seperti itu. Apalagi diperlakukan dengan tindakan yang contohnya sudah saya sebutkan tadi. Kau boleh protes atau tidak setuju denganku. Tapi maaf saja, saya memang tipe orang-yang-tidak-asyik diajak berkecimpung di dalam beberapa hal perkara. (*)
*Link Berita di sini:















