Tampilkan postingan dengan label pseudo. Tampilkan semua postingan
SAJAK HUJAN
K A N G E N
KEPALAKU KEPADAMU
Aku mencintaimu
masih di tempat yang sama
dengan cara yang sama pula
Di kepalaku...
Aku mencintaimu
diam-diam
SELAMAT PAGI
SAJAK SALAH FOKUS
Bagaimana rasanya minum kopi pakai garam?
Rasanya manis
dibarengi senyuman
dan dua titik air mata di pipi
Tapi...itu jika hanya dihadapanmu
11.08 pm
S.E.N.J.A.
Tadi,
Senja mampir sejenak menjingga di dalam dada. Bukan luka maupun duka
yang dilukisnya. Hanya menitipkan rupa yang menjelma serupa doa.
Senja adalah wanita. Dan ia telah pergi. Bukan karena hilang ditelan
sore, tapi kembali ke dalam rahim sang ibu. Senja menunggu terlahir
kembali lewat seuntai kata semoga.
18.08 Wita
RINDU
Rindu
itu meluas
Menyebar dari utara ke selatan
Melebar dari timur hingga
ke barat
Mencari (mu) untuk bertemu kamu
Denganmu...
*19.19 Wita - Saat Hujan Lagi Lucu-Lucunya
MALAM, HUJAN, DAN DESEMBER
Malam ini hanya ada bincang-bincang
Tentang langit Desember yang gelap
Tak lagi gemerlap tanpa bintang-bintang
Selamat datang hujan dan kenangan
Hati sedang kering sekarang
Kerontang sebelum kemarau menerjang
DIA(M)
Adalah sendiri, yang disederhanakan sebentuk aku
Begitulah aku, yang
bergelut dalam sunyi
Seperti sunyi, yang sepi tanpa aku
-Makassar | 12 Januari 2014-19.14 Wita
AH...
Gerah !
Inspirasi tumpah
Tergeletak tak tahu arah
Kepada siapa harus menyerah?
Sumpah !
Nalarku telah terjarah
Tak mampu berfikir ilmiah
Persetan dengan petuah
Marah !
Perang batin pun pecah
Entah siapa yang bersimbah darah
Kaukah itu serakah?
Sampah !
Dasar makhluk lemah
Hanya sekedar wabah
Keadaan dibuat semakin parah
Masalah !
Sampai kapan kan singgah?
Berhentilah menjamah
Teruslah mendesah
Sudahilah !
Ini bukan berdakwah
Hanya hal yang alamiah
Tuk mencapai sebuah fitrah
Alhamdulillah...
TEMBOK; Antara Bebas dan Terbatas
Tembok yang realistis ini tiba-tiba terasa janggal, mengganggu dan
sebenarnya inilah yang membuat betah berlama-lama dihadapannya;
Kejanggalan ini rupanya terjadi pada tembok yang realistis itu.
Sangat besar, hampir tak ada perspektif pada ketebalan tembok itu;
Bidang tembok dibuat panjang dan lebar sama persis. Semestinya, di sinilah berlaku rumus perspektif itu. Makin jauh, makin menyempit;
Mungkin inilah tawaran dimana memang harus melihat tembok sebagai tembok, bukan sesuatu yang lain;
Memang benar, tembok itu adalah tembok yang memisahkan dua hal yang tak semestinya dipisahkan;
Tembok komunikasi antara kita dan orang lain, tembok antara dunia nyata dan dunia imaji, antara hidup dan kematian;
Inilah kenyataan. Di sana-sini terselip pandangan dimana jika tak
memberikan perspektif ke depan, hanya ada kebebasan dalam keterbatasan
Di sanalah seharusnya bermula. Bukan, ya bukan! Di sinilah awalnya. Dari tembok tetangga sampai jiwa mengembara.
PUISIKAH?
Hai kiranya perasaanku
dimanakah harapanku
sesungguhnya harapan dan pengandaian
adalah melelahkan..
Apa yang luput daripadaku
tidak akan dapat kembali
dengan sesalan dan harapan
begitu pula pengandaian
Dengan lamunan kusakiti hatiku
smoga aku mmberi rasa gembira
kesedihan yg ada dalam diriku
dengan bermacam cita-cita..
aku telah mngetahui
hubunganmu tak diharapkan
akan tetapi aku sendiri
tidak terangkat dengan lamunan..
Takdir Tuhan telah terdahulu
begitu juga keputusan-Nya
kosongkan saja dari hati ini
barangkali dan seandainya
AKSARA CINTA
Tentang cinta
Yang mengejakanmu kata cinta
Meminta lewat kata
Tak menerima karena rasa
Tentang cinta
Yang mencintaimu tanpa [C]
Tidak dengan [I]
Bukan karena [N]
Tidak pula [T]
Dan tanpa [A]
Cinta itu buta huruf…
-Makassar | 14 Januari 2014-21.25 Wita


