Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

EFEK PIKNIK

No Comments »

Air Terjun Barassang agaknya punya efek terapi. Lokasi wisata yang berada di desa Bissoloro, kecamatan Bungaya, kabupaten Gowa ini menjadi ruang relaksasi. Semacam tempat yang menstimulus seseorang untuk melupakan utang.

Cobalah tengok sekumpulan pria ketjeh ini, sodara-sodara. Para bidadara yang turun ke bumi entah dari kayangan mana. Dengan percaya diri, masing-masing dari mereka menunjukkan sebagian lekuk tubuh yang nyaris tak pernah terlatih dan dibentuk di tempat fitness. Hahaha!

Mereka mandi di air terjun dengan suasana hati riang gembira. Padahal, perjalanan untuk menggapai lokasi ini, lumayan jauh dengan medan yang cukup berat. Perjalanan yang rawan mengundang lelah di tubuh.

Saya tidak tahu, apakah mereka punya tunggakan kredit di bank atau ada utang sama teman. Tetapi, jelas sekali raut mereka tidak setegang saat seseorang didatangi rentenir di rumahnya yang menagih pinjaman yang lewat dari jatuh tempo.

Hanya saja, saya selalu khawatir. Tiap kali sebuah perjalanan wisata berakhir, efek piknik itu hanya berlaku sebentar saja. Seharian ceria, dan besok tensi harus naik kembali. Tapi biarlah ya. Hidup memang begitu; kadang bahagia, asal jangan keseringan susah. ðŸ˜‚

Lompobattang dalam Pusaran Badai

No Comments »

Berfoto dalam badai di puncak Gunung Lompobattang.
Dulu...saat pendakian pertama ke Gunung Lompobattang. Berkesan dan bikin tak enak perasaan.

Saya tidak selalu yakin dengan apa yang dinyanyikan Chrisye. Berharap pada tembang populernya "Badai Pasti Berlalu", nyatanya tidak selalu sesuai ekspektasi di gunung. Saat pergi mau pun pulang, pendakian ke Gunung Lompobattang, terus diterjang hujan dan badai.

Selama tiga hari dua malam, piknik ceria ke Gunung Lompobattang lebih banyak dihabiskan di dalam tenda. Hujan dan badai seakan tak ada jeda. Membuat jadwal pendakian, tak sesuai rencana. Niat menghasilkan foto-foto ketjeh yang instragamable...pupus sudah. Kecewa? Ya, tentu. Tetapi kecewa secukupnya saja.

Hingga perjalanan pulang, hujan badai masih mengiringi langkah yang bikin lelah. Turun gunung dengan medan yang terjal dari ketinggian 2.874 mdpl disertai hujan dan angin kencang, tidaklah mudah. Dada berdegup kencang yang daripadanya, kuyakin itu bukan cinta. Tetapi, perjalanan seolah ingin mengantar nyawa kepada Yang Mahakuasa.

Untunglah, masih bisa selamat sampai turun gunung. Dingin badan menggigil, tak berubah menjadi hiportemia. Syukur Alhamdulillah...karena masih ada kesempatan untuk nikah, meski pernah khawatir mati muda. ðŸ˜‚

Sekian lama setelah itu, pada rencana selanjutnya, masih di Gunung Lompobattang pada edisi perjalanan yang kedua...kebahagiaan itu mampir juga. Cuaca cerah dan sangat mendukung untuk bikin foto-foto saya tampak gagah. Hahaha!

Berdoa sebelum turun puncak. Pulang!

Menjelajahi Cartensz

No Comments »

Saya menamatkan buku ini kemarin malam. Tuntas dalam sehari. Novel tentang rencana pendakian ke Puncak Cartensz di Papua. Namun, dalam perjalanan berubah menjadi...(*lihat selengkapnya di google*).

Saya kira, tidak banyak novel perjalanan yang saya baca dengan latar gunung dan skenario pendakian yang menarik seperti dikisahkan dalam buku setebal 324 halaman ini. Cerita yang disuguhkan keren, isinya informatif, dan mungkin tak berlebihan kalau saya sebut sebagai novel yang cerdas meski bergenre fiksi.

Konflik yang ditawarkan pun tak biasa. Tentang persahabatan, namun semakin kompleks dengan adanya persekongkolan terselebung yang menyeret-nyeret pemerintah dan pabrik tambang sekelas Freeport. Tema percintaan yang ditawarkan pun bukan sesederhana perasaan hubungan sentimentil antara pria dan wanita, tapi lebih jauh lagi melibatkan urusan kecintaan kepada negara.

Membaca The Secret of Cartensz membuat saya ingin mengenal Papua lebih jauh lagi secara langsung. Impian terbang ke wilayah paling Timur Indonesia dan mendaki ke salah satu puncak tertinggi di dunia, Cartensz...semakin "unchunchunch"!

MERDEKA(?)

No Comments »

[POS 12] Gunung Lompobattang, Sulawesi Selatan

Hari ini, sosial media sedang meriah. Semua status nyaris sama; satu tema tentang hari merdeka.

Berbagai macam harapan dibagi di dunia maya. Pasang status betapa cantik dan gagahnya mereka yang ikut upacara. Ada pula yang menyebar foto memegang bendera. Hormat merasa bangga menjadi Indonesia.

Maklum, Indonesia tengah bergembira. Tahun ini merayakan hari kemerdekaannya yang ke-72. Peringatan sakral yang menurut Soekarno dan Hatta pada tahun 1945, telah diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Semua orang tentu ingin merdeka. Dari hal apa saja yang menyiksa dirinya. Termasuk lepas dari tuntutan tanya, "kapan kamu menikah?"

Kalau pun ada yang tanya, apa yang sudah saya berikan kepada negara(?), setidaknya...tadi pagi, saya sudah ikut upacara. ðŸ˜‚ Sebenarnya masih ada, tapi itu saja dulu. Hahaha!

Dari lubuk hati yang paling dalam, saya ucapkan: Dirgahayu Republik Indonesia. Semoga wajahnya senantiasa ceria. Walau masih ada rakyatnya yang pura-pura bahagia. (*)

FLAT EARTH

No Comments »


Barusan habis piknik ke Gra**dia. Sebuah toko buku yang menyamar menjadi gerai alat tulis kantor, berkedok jualan peralatan elektronik. Di sana, saya menemukan salah satu buku yang mengguncang jagat dunia maya dan nyata.

Judulnya "The Flat Earth Conspiracy". Titelnya provokatif. Tadinya, kukira buku ini ditulis oleh Princes Syahrini. Sebab, judul buku tersebut bernuansa bombastis, mencengangkan, dan cetar membahana badai. Beberapa indikator karakteristik yang juga persis dimiliki wanita pelantun "Sesuatu" itu.

Tetapi, yah, namanya juga lelaki, saya agaknya selalu salah. Buku yang (katanya) menampilkan fakta-fakta bumi datar itu hasil buah pikir---atau barangkali imajinasi---dari seseorang lelaki bernama Eric Dubay. Mau tahu siapa dia? Coba cari di google.

Buku ini stoknya banyak. Gr****a yakin betul, pembahasan bumi datar bak pengantar dongeng sebelum tidur. Banyak yang suka, namun tidak sedikit pula yang menolak bacaan fantastis itu beredar di toko buku. Alasannya, buku itu mengajak ke dalam pembodohan dan tidak ilmiah. Paling tidak, begitulah komentar-komentar orang di dunia maya.

Saya pribadi menilai 'The Flat Earth Conspiracy' tidak begitu buruk. Maksud saya, bagus untuk orang-orang yang ingin memuaskan hasrat imajinasi liar di kepalanya. Hitung-hitung hiburan. Saya tidak begitu setuju, jika buku ini dilarang beredar. Apalagi dicekal. Alangkah baiknya, ada buku perbandingan lain untuk membantah argumen (atau "fakta") yang disampaikan Eric Dubay.

Kamu boleh tidak setuju denganku. Tapi itu menurutku. Dan, daripadanya saya tidak menyediakan ruang berdebat untuk itu. Capek!

Hanya saja, jika memang ada individu/kelompok yang ingin membuat "buku tandingan", saya sekadar ingin sumbang saran, bagaimana kalau bukunya nanti berjudul: "(INSYA ALLAH) BUMI ITU BULAT". Bukankah orang seringkali tergugah dengan hal-hal yang berbau...ah, sudahlah.

EFEK HUJAN

No Comments »


Lagi. Hujan turun lumayan deras malam ini. Saya yang sedang dalam perjalanan pulang, mesti rela basah-basahan lagi. Sengaja. Saya kehujanan karena memang inginnya begitu.

Saya punya mantel (jas hujan) yang malas kupakai. Perbuatan itu tidak lantas menjadi alasan (dikiranya) saya selalu menyukai hujan. Jujur saja, saya tak punya banyak stok kalimat postif maupun argumen filosofis mengapa saya suka hujan dan rela berbasah-basahan karenanya. Saya hanya malas mengenakan jas hujan. Repot. Itu saja.

Masalahnya adalah, selama perjalanan pulang menikmati hujan, kepala saya suka kepikiran banyak hal. Bukan urusan kenegaraan, sebab itu kapasitas Presiden Jokowi. ðŸ˜… Hujan acapkali menjadi pemantik bagi saya untuk selalu masuk ke "gubuk-pikiran" di dalam kepala.

Biar kuberitahu, "gubuk-pikiran" adalah sebuah nama tempat bagi saya menyimpan cukup banyak pertanyaan aneh di kepala. Bahkan, sebenarnya cukup aneh untuk dijadikan pertanyaan. Itu hadir secara tiba-tiba.

Karena hujan, muncullah pertanyaan aneh seperti ini: apakah dengan jatuh cinta dengan diri sendiri, lantas bisa disebut sebagai golongan spesies-penyuka-sesama-jenis? Maksud saya, 'kan satu jenis Syachrul Arsyad, sesama dirinya sendiri. Termasuk kategori kelainan, kah? Kukira itu aneh bin membingungkan. Setidaknya bagi saya pribadi.

Saya belum menyediakan jawaban atas pertanyaan tersebut. Pun, saya tidak memaksa orang lain untuk memberikan jawaban. Biarlah pertanyaan aneh itu menggantung sampai mak comblang memberinya jawaban yang pas untuk itu.

Apalagi saya cukup yakin, dunia ini kodratnya diciptakan berpasang-pasangan. Seperti pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Pagi dengan malam. Begitupula saya yang berpasangan dengan...woey, dengan siapa woey?! Hahaha. ðŸ˜…

Saat ini, rasa-rasanya ingin kulari ke toilet, kemudian temukan jawabanku.

Dilanda Kebingungan, Salah Mengira Lokasi Tujuan

No Comments »

Edisi Menelusuri Keindahan Kaki Gunung Bawakaraeng (Bagian - 3)

Perjalanan malam membuat kami bingung. Niat hati ingin tiba dan menginap di danau yang hendak dituju, malah membuat tenda terpaksa harus didirikan di lokasi yang entah dimana tepatnya.


“Mendingan kita pasang tenda di sini saja,” begitu kata Bang Jack. Lelaki yang menjadi pemimpin rombongan dalam perjalanan menuju danau di kaki Gunung Bawakaraeng. Kami yang berjumlah delapan orang memang mulai lelah. Kebingungan juga melanda kami semua.

Perjalanan malam di kaki Gunung Bawakaraeng mencari danau yang hendak kami tuju belum juga ketemu. Petunjuk jalan pun tidak begitu terlihat oleh mata kami yang mengandalkan bantuan lampu senter. “Besok pagi saja kita lanjut cari,” lanjut Bang Jack.

Tidak hanya Bang Jack, kami semua juga dilanda lapar. Sejak berangkat usai Maghrib dari Desa Lengkese, Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa, kami belum makan malam. Padahal, waktu saat itu sudah nyaris tengah malam.

Keputusan untuk mendirikan tenda dan akhirnya menginap di tempat yang kami sendiri belum tahu itu, memang sudah tepat. Kami tidak ingin terus-terusan menahan lapar, sementara kita semua belum jelas harus mengarah kemana untuk menuju ke lokasi yang dituju.

Memang belum ada di antara kami yang datang ke tempat wisata alam di kaki Gunung Bawakareng ini. Namanya, Danau Slank. Para pendaki menyebutnya begitu. Suatu ketika saat melakukan perjalanan ke Danau Tanralili, Bang Jack pernah menunjukkan daerah lokasi yang ingin kita tuju tersebut. Namun, lagi-lagi karena baik Bang Jack maupun kami belum mengenal medan dan jalur tidak begitu terlihat saat malam hari, rencana ke Danau Slank tertunda.

Perjalanan Malam

Awalnya, kami yang berdelapan orang memang sudah lebih dulu janjian bertemu di salah satu rumah warga di Desa Lengkese. Tempat yang juga menjadi rumah singgah para pendaki lain sebelum berangkat ke Danau Tanralili atau menuju Lembah Ramma via jalur Lengkese.

Sore hari kami semua sudah berumpul di rumah Tata Rafi. Begitu nama salah seorang warga yang rumahnya kami singgahi sebagai tempat bertemu. Kami memang sudah berencana berangkat selepas Salat Magrib. Berangkat malam menuju Danau Slank merupakan rekomendasi Kak Alam, istri  Bang Jack yang juga ikut dalam perjalanan.

Kami pikir, jalur menuju Danau Slank termasuk mudah dan jalan menuju ke sana sudah diberi tanda khusus. Tapi dalam perjalanan kami salah mengira. Jalur yang terjal kami lewati. Sungai pun diseberangi. Cukup sulit dan menguras tenaga. Penanda jalur menuju ke lokasi pun nyaris tak terlihat. Penanda jalurnya hanya berupa batu yang ditumpuk, bukan yang kami kira papan petunjuk. Itu berarti mata harus jeli melihat penanda tersebut. Apalagi memang karena malam hari dan jalan yang dilalui memang juga banyak longsoran batu.

Beberapa kali di antara kami harus benar-benar memastikan penanda jalur. Begitupun kami kadang-kadang menyebar mencari jalur yang sesuai. Jika dirasa sudah benar, barulah melanjutkan langkah kaki. Perjalanan kami memang agak lambat dikarenakan hal tersebut.

Tak terasa dalam perjalanan yang lambat tersebut, waktu sudah menunjukkan tengah malam. Belum juga tiba di lokasi yang kami tuju, Danau Slank. Hingga rasa lapar tak tertahankan, kami memutuskan untuk menginap di lokasi yang kami sendiri tak tahu tepatnya dimana.

Tapi melihat ada sumber air dan kontur tanah yang datar, kami memutuskan mendirikan tenda di situ sesuai rekomendasi Bang Jack. Malam hari itu kita lewati dengan makan malam saja. Tidak lama berbincang mengenai perjalanan besok pagi, hingga kami tidur di tenda masing-masing.


Perjalanan yang kami lalui untuk menuju Danau Paranglabbua. Jalan berbatu dan tanah yang bisa saja mengundang longsor membuat para pejalan mesti hati-hati.
Salah Mengira

Esok harinya selepas sarapan, saya bersama Bang Jack mencari jalur yang sesuai sebelum teman-teman lain ikut bersama. Ternyata, tempat kami menginap sudah berada dekat dengan Danau Slank, lokasi yang hendak kami tuju.

Setelah yakin, barulah kami mengajak teman yang lain dan berangkat ke sana membawa barang seperlunya saja. Kami membiarkan tenda tetap di temapt kami menginap agar barang bawaan ke danau tersebut tidak berat.

Sesampainya di sana, kami langsung berfoto keindahan danau di sana. Belum begitu banyak orang yang mengenal tempat ini. Memang belum setenar dengan Danau Tanralili, tapi danau yang kami kunjungi ini tetap tidak bisa diabaikan keindahannya. Perjalanan lelah dan kebingungan kemarin malam, terbayarkan dengan rasa puas menikmati alam di danau tersebut.

Kami pikir danau yang kami kunjungi ini sudah benar adalah Danau Slank. Namun, sepulangnya kami dari danau tersebut dan menyebar foto-fotonya di media sosial, banyak juga yang bilang kalau danau tersebut bukanlah Danau Slank. Tapi, Danau Paranglabbua, namanya. Sepertinya memang bukan Danau Slank.

Warga Desa Lengkese yang kami tanyai juga membenarkan, kalau danau yang kami kunjungi itu bukanlah Danau Slank, tapi Danau Paranglabbua. Lagi-lagi kami salah mengira. Tapi tak mengapa, keindahannya pun tak bisa diabaikan. Mungkin Danau Slank sebenarnya akan kami kunjungi di lain kesempatan. Semoga! (*)


Selain menikmati Danau Paranglabbua, pemandangan pegunungan juga memanjakan mata.

Terpukau Keindahan Lembah Lowe

3 Comments »

Edisi Menelusuri Keindahan Kaki Gunung Bawakaraeng (Bagian - 2)

Cahaya matahari masih muda. Teman di luar tenda yang sudah bangun lebih dulu lantas meneriaki kami yang masih betah tidur merawat gigil di tubuh. Perjalanan masih berlanjut.


“Bangun...bangun...bangun! Sudah pagi. Ayo jalan,” begitu teriak seorang lelaki yang akrab disapa Bang Jack. Beberapa kali teriakan itu menggema di telinga. Saya terbangun, mencari telepon genggam dan melihat waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi. Sepagi ini, saya dan termasuk teman-teman seperjalanan lain sudah harus siap-siap untuk melanjutkan perjalanan kami ke tempat menarik lainnya.

“Ayo, bangun mi siap-siap pergi ke Lembah Lowe,” Bang Jack kembali mengimbau kami untuk bersegera bangkit dari tidur yang cuma beberapa jam saja. Perjalanan malam menuju Danau Tanralili cukup menguras tenaga. Lalu, pagi ini kami sudah mesti melanjutkan perjalanan yang memang sudah kami rencanakan sebelumnya: menuju Lembah Lowe.

Sayup-sayup di luar tenda sudah ramai terdengar orang berbincang-bincang. Rombongan kami yang berjumlah 10 orang sebagian sudah bangun dan sudah ada yang gesit menyiapkan sarapan. Membiarkan asap kopi mengepul di cangkir gelas dan menikmati bakwan yang digoreng oleh istri Bang Jack: Kak Alam, begitu namanya kami sapa.

Bang Jack beserta istrinya memang menjadi orang yang pertama kali merencanakan perjalanan ke kaki gunung Bawakareng. Selain mengunjungi Danau Tanralili, sepasang suami-istri ini juga yang menjadi “pelopor” perjalanan menuju keindahan tersembunyi di Lembah Lowe. Bang Jack sendiri menjadi leader dalam perjalanan karena lebih mengenal lokasi tersebut dibanding kami yang lain.

Menikmati secangkir kopi dan makanan ringan serta bakwan yang digoreng Kak Alam menjadi hidangan sarapan kami sebelum berangkat. Persiapan yang kami lakukan pun tidak serepot saat berangkat ke Danau Tanralili. Menuju Lembah Lowe kami sekadar mempersiapkan barang-barang seadanya yang diperlukan saja, semisal kamera untuk foto, begitupun makan dan minum selama perjalanan. Tenda dan beberapa peralatan pendakian lainnya sengaja kami simpan di dalam tenda biar barang bawaan tidak berat.

Dari Danau Tanralili menuju Lembah Lowe, kata Bang Jack, akan memakan waktu paling lambat dua jam perjalanan. “Itupun kalau jalannya santai,” sambungnya. Di sekitar Danau Tanralili, orang-orang di tendanya masing-masing masih menikmati sarapannya. Menikmati bincang-bincang pagi mereka, lalu kami yang bersegera menuju tempat yang oleh Bang Jack sebut “surga” tersembunyi lainnya di kaki Gunung Bawakaraeng.



Lembah Hijau

Lokasi Danau Tanralili berada di ketinggian 1.454 mdpl. Dari sini, perjalanan kami tentu bakal cukup panjang. Daerah yang bakal kami tuju bakal berada di ketinggian cukup jauh dari lokasi pemberangkatan kami. Menemui jalan tanjakan adalah hal yang pasti kami lalui.

Belum juga menapakkan kaki begitu jauh, kami sudah harus harus jalan mendaki. Baru saja menyeberangi sungai di dekat Danau Tanralili, kami harus siap menapaki jalan tanjakan nan licin. Tidak ingin memaksakan diri, kadang-kadang belum juga lama berjalan, kami harus berhenti sebentar karena kewalahan di perjalanan awal itu.

Meski lelah, kami senantiasa memotivasi diri sendiri: awal perjalanan yang berat akan berakhir dengan tempat tujuan yang indah. Yah, Lembah Lowe memang disebut-sebut sebagai keindahan tersembunyi di sini. Pesona Gunung Bawakaraeng tidak hanya sebatas keindahan puncak, lekukan gunung yang menarik dan pepohonan hijau yang tumbuh subur. Di kaki gunungnya saja, sudah banyak menawarkan destinasi wisata yang membuat para pejalan (wisatawan) tak betah tinggal di rumah. Lembah Lowe, salah satunya.

Lembah Lowe adalah sebuah lembah tersembunyi dan jarang terekspose, terletak di Gowa Sulawesi Selatan. Wisata alam ini sebenarnya berada di himpitan dua gunung yakni Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang. Karena belum begitu jelasnya jalur pendakian menuju Lembah Lowe, maka disarankan untuk tidak melakukan perjalanan malam dan dianjurkan untuk didampingi oleh pemandu yang telah mengenal medan ini.

Belum juga sampai di lokasi yang dituju, mata kami beberapa kali dimanjakan dengan pemandangan indah. Momen untuk berfoto tentu tidak bisa dilewatkan begitu saja. Lembah hijau yang luas. Saya kira mirip lapangan sepak bola, hanya saja lebih luas dan indah karena dikelilingi deretan gunung. Selain Danau Tanralili, kami juga melewati setidaknya dua danau lagi (yang entah namanya apa) menuju Lembah Lowe.


Lupa Peralatan

Tak perlu khawatir kekurangan air minum. Di daerah pegunungan, terlebih dalam perjalanan menuju Lembah Lowe, sungai yang jernih menjadi sumber air yang mampu melegakan dahaga dari lelah  selama menempuh perjalanan. Tinggal mengisi botol yang kosong, lalu rasakan kesegaran air sungai di pegunungan yang dinginnya alami dibanding lemari es yang ada di rumah.

“Sudah dekat mi ini. Ayo jalan lagi,” Bang Jack beberapa kali mengimbau untuk tidak terlalu lama beristirahat. Imbauannya itu sebenarnya lebih kepada memberi kami semangat agar terus melangkahkan kaki. Lembah Lowe memang sudah dekat, tapi kalimat itu sudah beberapa kali disampaikan Bang Jack meski sebenarnya yang kami rasakan masih cukup jauh. “Berapa lagi jauhnya, Bang?” tanya saya dalam hati.

Saya baru yakin dan percaya kalau Lembah Lowe memang sudah tidak jauh lagi sejak lokasi yang kami tuju itu sudah berada di depan mata. Perasaan senang menyeruak di dalam dada. Rasa bahagia mengalahkan lelah di tubuh kami.

Lembah lowe, lembah hijau yang dipenuhi rerumputan, sepaket dengan aliran sungai dan pepohonan yang mengelilinya menjadi tempat istirahat paling pas. Sepi dan damai rasanya. Hanya kami yang berada di lembah hijau nan luas ini.

“Keluarkan makanan. Ayo memasak. Lapar!” ucap salah seorang teman saat tiba di sebuah pohon dekat sungai untuk beristirahat. Namun, kekecewaan segera saja menyelimuti kami semua. Peralatan masak tertinggal di dalam tenda di Danau Tanralili. Sekali lagi, kami memeriksa tas masing-masing. Memang tak ada yang membawa barang tersebut. Jadilah kami hanya menikmati makanan ringan yang kami dan sisa bakwan yang digoreng Kak Alam pagi tadi di Danau Tanralili.


Di Lembah Lowe, kami menertawakan kealpaan masing-masing. Tak ada yang mengecek. Tidak ada yang saling mengingatkan kalau peralatan masak seharusnya tak luput dari tas bawaan kami. Mau bagaimana lagi, Lembah Lowe sudah terlanjur membuat kami terpesona. Segala hal yang membuat lelah dan kecewa tidak menjadi alasan bagi kami untuk tidak berlama-lama menikmati keindahan Lembah Lowe. (*)


Menyapa Pagi di Danau Tanralili

No Comments »

Edisi Menelusuri Keindahan Kaki Gunung Bawakaraeng (Bagian - 1)

Pagi hari di Danau Tanralili, udara cukup membuat tubuh menggigil. Sleeping bag (kantong tidur) seakan tak cukup menghindarkan diri dari suhu dingin. Dari luar tenda, terdengar beberapa percakapan tentang pagi dan juga teriakan mencari secangkir kopi.


Mata enggan tertutup lagi. Suhu dingin tak cukup ampuh membuat saya betah di dalam kantong tidur. Cahaya matahari masih muda. Belum begitu terik, tapi cukup sebagai penanda dari dalam tenda kalau pagi telah tiba. Saya beranjak keluar, bangun dari lelap usai mengistirahatkan lelah dari perjalanan malam hari yang menguras tenaga.

Saya bukan orang pertama yang bangun pagi hari itu. Beberapa orang sudah lebih dulu beranjak dari tendanya masing-masing. Bahkan, banyak di antaranya yang sudah membuka pagi dengan percakapan, memainkan musik, menyiapkan sarapan, dan memasak air panas untuk menyeduh teh maupun kopi.

Di tempat saya sendiri memasang tenda, teman rombongan yang melakukan perjalan bersama ke tempat ini pun juga mulai melakukan hal yang sama. Menikmati pagi di Danau Tanralili terlalu singkat jika hanya menikmati air putih dan sepotong roti.

Pagi yang indah. Segelas teh dan juga kopi mengawali aktivitas kami di tempat ini. Kami mengisinya dengan perbincangan tentang rencana perjalanan selepas sarapan nanti. Tapi, pengalaman melakukan perjalanan untuk sampai mendirikan tenda beristirahat di Danau Tanralili tak luput dari pembicaraan kami.


Waspada! Jalur Terjal

Perjalanan menuju Danau Tanralili memang tak mudah. Letaknya di daerah pegunungan, tepatnya di kaki Gunung Bawakaraeng. Meski sebutannya di “kaki gunung”, bukan berarti kita tidak melakukan pendakian. Beberapa trek agak curam dan terjal. Perlu kehati-hatian dan kewaspadaan mencari pijakan kaki yang pas. Salah-salah menginjak batu dan tanah yang licin, bisa-bisa kaki terpleset.

Akan tetapi, sulitnya trek menuju Danau Tanralili serta-merta tak membuat para pengunjung melewatkan “surga” di kaki Gunung Bawakaraeng. Beberapa pendaki bahkan ada yang menyebut; Danau Tanralili di kaki Gunung Bawakaraeng adalah “Ranu Kumbolo”-nya Gunung Semeru, tapi versi Kabupaten Gowa, Sulsel. Entahlah, saya sendiri belum pernah berkunjung ke Jawa Timur di mana Danau Ranu Kumbolo berada.

Sejak keindahan lokasi wisata alam ini mulai terekspos ke masyarakat luas berkat bantuan internet dan media sosial, orang-orang mulai tertarik ke tempat yang berlokasi di Desa Lengkese, Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan ini. Jika dari Makassar menuju Malino, menghabiskan waktu kurang lebih 2-3 jam perjalanan hingga tiba di Desa Lengkese.

Di desa inilah, para pendaki yang hendak ke Danau Tanralili memarkir kendaraannya di rumah warga yang memang menyediakan lahan parkir. Di Desa Lengkese merupakan tempat para pengunjung melakukan registrasi (pendaftaran). Biaya masuk pendakian dikenakan tarif Rp2.000 per orang. Di tempat ini pula, barang-barang bawaan pengunjung yang berpotensi menjadi sampah akan dicatat untuk kembali diperiksa sepulang pendakian.

Saya bersama teman rombongan lain yang berjumlah delapan orang juga melakukan alur registrasi yang sama. Sebelumnya, kami sudah bersepakat akan melakukan pendakian pada malam hari. Beberapa teman di antara rombongan kami berujar, melakukan pendakian di malam hari lebih dinikmati dan tidak begitu menguras tenaga ketimbang pagi hari. Salah satu alasannya, katanya, trek perjalanan yang terjal itu tidak mengganggu psikologis diri (khawatir atau mungkin ketakutan) selama melakukan pendakian.

Lelah dan rasa haus beberapa kali membuat kami harus singgah. Ada beberapa tanjakan yang memang cukup tinggi dan sulit dicapai. Menguras tenaga–dan tentu saja juga pikiran–karena  tetap saja rasa khawatir itu muncul. Di beberapa rute perjalanan memang bisa membuat kita rawan jatuh ke dalam jurang jika tak hati-hati. Tanah di sini rawan mengundang longsor. Beberapa petugas yang bertanggung jawab terhadap Danau Tanralili bahkan memagari beberapa lokasi jalan yang dianggap rawan bagi para pendaki.


Mendirikan Tenda

Ada sekitar dua jam waktu yang kami habiskan dari tempat registrasi di Desa Lengkese dengan berjalan hingga akhirnya tiba di Danau Tanralili. Saya menyempatkan diri melihat telepon genggam dan melihat waktu menunjukkan pukul setengah 12 malam. Sebelum mencari tempat mendirikan tenda, kami menunggu teman yang ketinggalan.

Tak mudah mencari lokasi tempat kami menginap di sini. Apalagi sudah tengah malam. Beberapa pendaki yang lebih dulu tiba di lokasi ini, sudah mendirikan tendanya di tempat terbaik untuk beristirahat. Kami agak bingung juga rasanya. Segera ingin mengistirahatkan lelah, tapi masih mencari tempat untuk mendirikan tenda. Tak mau berlama-lama, kami akhirnya menetapkan tempat. Beberapa meter dari Danau Tanralili. Kontur tanahnya memang tidak rata dan sedikit berbatu. Tak mau ambil pusing, tenda akhirnya didirikan.

Tidak luput, bahan makanan dan peralatan masak-memasak juga segera dikeluarkan dari tas. Lapar menjalar di perut kami sedari tadi. Teman dalam rombongan kami yang berstatus suami-istri sengaja menyiapkan makanan yang istimewa. Ada ayam yang bersiap digoreng, sayur-sayuran yang bakal dibuat bakwan, dan atau ditumis, serta beberapa penganan kue sebagai pengganjal perut sebelum menyantap makan malam kami yang sudah kelewatan waktunya.

Begitulah kami melewatkan perjalanan malam menuju Danau Tanralili. Makan malam telah tandas, usai dengan sabar merawat lapar selama perjalanan melelahkan. Tidak ada yang lebih nikmat selain melewati malam dengan menyeduh secangkir kopi sambil menikmati dinginnya malam Danau Tanralili.

Di tempat ini, malam terasa panjang. Rombongan kami baru mulai beristirahat menjelang subuh. Kondisi Danau Tanralili yang tak pernah hening dari keramaian dan perbincangan para pendaki lain saat itu, membuat saya salah mengira pagi nyatanya hampir menyapa kembali. Tubuh juga butuh istirahat. Rencana perjalanan di pagi hari masih akan berlanjut.

Meski tersisa beberapa jam lagi hingga pagi tiba, tidur menjadi salah satu agenda penting untuk memulai aktivitas baru. Agenda perjalanan pagi hari akan jauh lebih seru tentunya. Selain menikmati Danau Tanralili, rombongan kami berencana mengunjungi “surga” di kaki Gunung Bawakaraeng yang lain. Lembah Lowe, namanya. (*)



Melepas Penat di Air Terjun Pelangi

No Comments »

Kabupaten Gowa boleh dibilang surganya wisata air terjun. Entah sudah ada berapa air terjun yang di sana. Tapi yang jelas semuanya indah dan menarik minat pengunjung. Melalui Air Terjun Pelangi, daerah Gowa ini lagi-lagi menunjukkan pesonanya.


Berwisata sudah menjadi tren. Bahkan seolah berubah menjadi life style anak muda atau bersama keluarga. Melakukan perjalanan mencari, menemukan, dan menikmati keindahan alam seakan kebutuhan; beristirahat dari kepenatan pekerjaan nyaris seminggu atau mencoba menghibur diri sendiri.

Air Terjun Pelangi bukanlah pilihan terburuk untuk mengentaskan stres yang anda alami. Destinasi wisata di Kabupaten Gowa ini menawarkan pemandangan alam yang masih asri dan alami. Wajar saja, lokasi ini baru dibuka dan diperkenalkan sekitar sebulan yang lalu. Destinasi wisata ini terletak di Desa Jonjo, Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa. Jika dari Makassar, jarak tempuh menuju lokasi ini sekitar 60 km atau sekitar 2 jam dengan berkendara motor atau mobil.

Setiba di Desa Jonjo, sebelum memasuki daerah Air Terjun Pelangi, kendaraan harus diparkir di pekarangan rumah yang dimanfaatkan warga. Biaya parkir sebesar Rp3.000. Itu belum termasuk biaya karcis masuk Rp5.000.

Meski tergolong destinasi wisata baru, akses jalan menuju Air Terjun Pelangi sudah agak baik. Berkat swakelola warga desa di sana. “Biasanya kan yang dikeluhkan pengunjung itu kalau ke tempat (wisata) baru jalan masuknya yang susah, makanya itu dulu yang kita perbaiki,” tutur salah seorang warga yang ditemui di sana.

Nama ‘pelangi’ untuk air terjun ini sendiri, menurut penuturan salah seorang warga asli di sana, sengaja diambil untuk menarik minat perhatian warga. Bisa jadi, keindahan pelangi juga menjadi representasi tempat wisata ini. “Sebenarnya biasa ada juga muncul pelangi di sekitar air terjun itu, makanya dinamakan Air Terjun Pelangi,” tuturnya.

Bahkan, pondok-pondok bambu tempat warga berjualan dan sebagai tempat peristirahatan pengunjung telah dibangun. Sesampai di sini, pondok sederhana sebagai tempat peristirahatan itu disewakan Rp20.000 setiap petaknya. Pun disediakan ban karet untuk berenang bagi dengan harga sewa Rp10.000.

Bagi anda yang ingin berenang diharapkan tetap hati-hati. Sebab ke dalaman air di dekat air terjun mencapai 6-7 meter. Papan peringatan di sekitar air terjun sengaja dipasang untuk mengingatkan warga maupun para wisatawan. (*)

Di lokasi Air Terjun Pelangi, sudah banyak berdiri kios/warung sederhana dan juga gazebo bagi para pengunjung yang ingin beristirihat.
Seusai makan siang, beristirahat dan menikmati aliran sungai yang berada di sekitar Air Terjun Pelangi.

CERITA TENTANG RANTEMARIO (3)

No Comments »

Matahari baru saja terbenam. Tenggelam atas izin Allah SWT. Perjalanan dengan terpaksa dihentikan, tenda harus segera didirikan.

“Nginap di sini saja deh. Tidak bisa mka lanjut jalan,” keluh Akbar. Dia adalah salah satu teman mendaki ke Gunung Latimojong. Termasuk saya, ada satu lagi lelaki yang disapa Aan. Perjalanan kita mulai Minggu, 10 Juli lalu. “Besok pagi pi lagi baru lanjut jalan,” tambahnya sambil melakukan usaha mengurut kakinya yang sakit.

Sebelumnya, kami sudah berada selama semalam di Gunung Latimojong usai menggapai puncak Rantemario, Senin 11 Juli, siang. Kami menginap di Pos 5 untuk pergi ke puncak di pagi dimana matahari belum juga kelihatan di sana. Dalam perjalanan pulang  (turun gunung), Akbar tetiba tak bisa melanjutkan perjalanan. Langkah kakinya tertatih. Ia mengeluh langkahnya berat untuk dilanjutkan lagi.

Sejak turun gunung dari pos 5, saya memang sudah mulai melihat Akbar kesakitan. Saya yang berjalan membelakanginya acapkali mendengar ia kesakitan saat kakinya bertumpu. Bahkan sempat jatuh walaupun jalanan cenderung datar-datar saja. Tapi erangannya terdengar lebih besar dalam perjalanan yang berbatu dan menurun. “Aaakkk!” erang Akbar setiap kakinya bertumpu di tanah.

Beberapa kali, kami berdua yang berajalan di belakang Akbar menyarankan untuk beristirahat sebentar.  Tapi, ia kadang-kadang cenderung keras kepala, merasa sanggup dan ingin perjalanan dilanjutkan saja. Hingga tiba di Pos 4, sepertinya Akbar mulai putus asa. Lelah, haus, dan sakit kakinya adalah satu paket keputusasaan yang membuatnya berhenti melangkah.
Foto kaki Akbar
Tak Ada Air Minum

Perjalanan pulang (turun gunung) dari Pos 5 menuju Desa Karangan, kami bermaksud untuk singgah istirahat di Pos 2. Sejak tiba di Pos 4 saat Akbar mulai tak bisa menahan sakit di kakinya itu, Aan sempat menyarankan untuk melanjutkan perjalanan malam hari. “Besok pagi saja baru lanjut jalan,” kata Akbar. “Besok ini tidak sakit mi,” tambahnya lagi meyakinkan.

Saya melihat, Aan juga seakan gusar tiba di Pos 4 dengan rencana mendirikan tenda di sana. Saya juga berpikir begitu. Bukan apa-apa, persedian air yang kami bawa saat turun dari Pos 5 hanya sebotol saja. Kami benar-benar tak ada perencanaan dan persediaan. Tentu ada pikiran untuk ambil air ke Pos 2. Tapi perjalanan turun ke sana bukanlah perjalanan yang dekat dan bisa kembali lagi ke Pos 4 dalam waktu yang singkat. Duh!

Akbar sementara memijit kakinya yang sakit saat Aan mulai bersiap mengambil tenda di dalam tas untuk didirikan. Akbar mengeluh nyeri di paha. Tiap kali hendak melangkah, pun lututnya gemetar. Hal itulah yang membuatnya tak mampu lagi melanjutkan perjalanan.

Saya membantu Aan mendirikan tenda. Di Pos 4, kami juga menemui beberapa pendaki yang lebih dulu mendirikan tenda. Setidaknya ada dua tenda. Mereka hendak baru naik ke puncak, tapi memilih menginap lebih dulu di Pos 4. Sepertinya, hujan pun akan turun. Flysheet (sejenis penutup tenda yang melindungi dari hujan) juga segera dipasang untuk melindungi tenda yang sudah berdiri dari hujan. “Masuk mi ke dalam istirahat, Akbar,” tutur Aan saat tenda sudah siap. Tidak lama setelah itu, kami berdua juga memutuskan masuk ke dalam tenda. Gerimis mulai turun.

Di dalam tenda, kami membagi persediaan air minum yang tersisa. Kami masih haus sebenarnya. Berbagi masing-masing seteguk air dari botol belumlah cukup. Kita juga enggan meminta persediaan air kepada pendaki lain. Kita merasa tidak enak meminta air kepada pendaki yang juga baru melakukan pendakian.

Dengan terpaksa, kami memutuskan tidur saja. Berharap waktu berlalu cepat, hingga matahari muncul membangunkan kami esoknya. Ini cukup sulit. Bukan hanya haus, makan malam juga harus tertunda karena tak ada air minum.

Saya sendiri belum bisa memaksakan kehendak untuk segera tidur. Barangkali waktu saat itu baru menunjukkan pukul 8 malam saat hujan deras akhirnya turun. Du aorang teman yang tidur di samping saya sepertinya sudah tidur. Tak banyak bergerak dan seakan teang-tenang saja.

Saya gusar. Resah di dalam tenda. Hujan memang tidak secara langsung membasahi kami. Tapi genangan air yang turun dan belum menyerap sempurna ke tanah seakan masuk melalui dasar tenda. Saya merasakan basah di kepala. Matras yang dipasang di dalam tenda hanya cukup untuk melapisi badan hingga paha saja. Tidak begitu basah, memang. Tapi cukup mengganggu.

Di tengah hujan masih deras, sayup-sayup saya mendengar suara aktivitas pendaki begitu dekat di tenda kami. Sepertinya mereka ikutan “numpang” berteduh di bawah flysheet yang memang cukup lebar bukan hanya untuk melindungi tenda kami. “Mungkin mereka tak punya flysheet untuk tendanya sendiri,” pikirku.

Saya sama sekali tak menegur mereka. Selama tak mengganggu, biarkan saja. Toh, mereka barangkali hanya kurang beruntung tak membawa peralatan (entah karena lupa atau sengaja) sehingga tak mengantisipasi cuaca, seperti datangnya hujan yang asik mengguyur malam itu.

Oh, matahari pagi...bisakah menyapa lebih cepat lagi?! Saya belum bisa tidur, tapi ingin segera melanjutkan perjalanan lagi. (*)

Kaki yang sakit membuat Akbar melangkah dengan tertatih. Jika perjalanan yang cukup sulit, kadang kami memasang tali webbing sebagai bantuan untuknya.