RAISA (MANTAN TERINDAH)

No Comments »

sumber foto: instagram

Tulisan ini bukan dalam rangka ikut-ikutan menanggapi tulisan adek Afi maupun kakak Gilang yang--katanya--lagi numpang tenar dengan mengkritik tulisan perempuan muda yang tengah duduk di bangku SMA itu.

Ada perihal yang lebih kompleks dari bahasan itu saya kira. Bukan urusan yang jauh dari singgungan soal agama yang memantik sumbu di kepala. Tetapi, murni perkara cinta yang gaungnya bikin sesak dada. Ini soal kabar pertunangan Raisa!

Tanpa mengurangi kegalauan saya, izinkan saya mengucapkan selamat berbahagia atas pertunangan Raisa dengan lelaki-yang-tidak-disebutkan-namanya. Ucapan yang ingin kuutarakan langsung lewat video call, tapi sayang nomor HP-nya pun saya tak punya. Ungkapan tak ikhlas yang sebenarnya ingin saya sampaikan melalui DM (direct message) via instagram atau twitter milik Raisa, namun khawatir tak dijawabnya.

Jadi, demi meminimalisir rasa sakit hati berkelanjutan, saya tuliskan saja di sini. Raisa sepertinya tak punya waktu untuk sekadar membaca pesan personal dari salah satu dari sekian ratus juta penggemarnya di seluruh tanah air Indonesia.

Sebagai salah satu fans-garis-lembut Raisa, saat ini saya berada dalam keadaan yang ambigu. Perasaan jadi cenat-cenut rasanya. Sejak menerima kabar pertunangan ini semalam, makan serasa tak enak, tapi Alhamdulillah tidur tetap nyenyak. Saya bahagia melihat Raisa, lalu menjadi marah tiap kali membaca berita tentang lelaki yang kini bersamanya.

Saya tak ada niat mencaci-maki lelaki-yang-tidak-disebutkan-namanya itu. Tunangan Raisa ini kayaknya hanyalah lelaki kemarin sore. Baru muncul dan mendekati Raisa ketika putus dengan Keenan, saudara Pevita Pearce.

Saya bahkan sudah mengikuti Raisa sejak follower IG-nya masih berkisar di angka 150K. Saya mengaguminya jauh sebelum lagu "Jatuh Hati" diciptakan dan dinyanyikan di banyak televisi swasta. Entahlah, apakah ini sebuah bentuk kesombongan yang pantas dipamer atau tidak, tetapi saya sedang kesal, galau, dan butuh bahu untuk bersandar.

Rasa-rasanya, saya tak sanggup lagi mau bilang apa. Kalau mau lebay, kata-kata, kini...nyaris menjadi air mata. Cinta seakan kehilangan defenisi. Kehilangan ruang untuk sekadar singgah di hati. *omong kosong apa ini?!*

Raisa...adalah kamu yang bikin saya belajar. Seperti bahagia, galau juga sepertinya sederhana; cukup dengan melihat kabar pertunanganmu dengannya.

Mau dikatakan apa lagi, kita tak akan pernah satu. Engkau di sana, aku di sini, meski hatiku memilihmu. Yang telah kau buat sungguhlah indah, buat diriku susah lupa.

Lagu "Mantan Terindah" tidak seperti biasanya. Malam ini, syair dan iramanya serasa bikin pedas telinga, menyayat sanubari di dalam dada, kemudian ingin menangis dari balik jendela. (*)



#HariPatahHatiNasional

*p.s.: tulisan ini tidak untuk ditanggapi atau dikritik. Buang-buang waktu!

JOMBLO, NASIBMU KINI...

No Comments »

Jomblo itu tercipta sebagai pengamat. Ya, pengamat hubungan orang lain. Tak heran, jomblo itu kadang-kadang lebih tahu (atau lebih tepatnya getol berkomentar) persoalan pelik dunia per-pacaran yang adil dan beradab.

Mengapa demikian? Sebab, jomblo tidak berada dan menjadi laiknya katak dalam tempurung. Posisi "bebas" membuat jomblo bisa melihat banyak masalah dari berbagai sudut pandang. Tanpa harus terganggu atau diintervensi pacar ataupun selingkuhan orang lain.

Jomblo itu independen. Berdiri sendiri. Bukan keputusan yang keliru, jika ada lelaki atau wanita kasmaran yang sedang bermasalah dalam soal asmara, meminta saran dan kalimat-kalimat super dari kaum jomblo. Sebagai pengamat yang dituntut berpandangan obyektif, jomblo selayaknya adil sejak dalam pikiran dan perbuatan.

Soal memberi solusi hubungan percintaan orang lain, jangan ditanya lagi. Jomblo bisa menjelma bak Pegadaian; mengatasi masalah tanpa masalah. Berbagai pengalaman "mengamati" etika dan tata cara pacaran orang lain, akan diakumulasikan menjadi sebuah saran yang konstruktif bagi pasangan Anda. Mau pisah atau menikah, insya Allah, jomblo siap diajak bekerjasama.

Jomblo itu kuat, tetapi juga sosok yang mudah lelah. Ya iyalah, karena banyak hal yang mesti diurusi dan diteliti. Mulai dari agenda kerja menguntit (stalking) di sosmed ataukah mencuri-dengar sebab-musabab pertengkaran pasangan orang lain. Sungguh, program kerja yang menghabiskan kuota (internet) dan tenaga.

Saking banyaknya energi yang meluap-luap, jomblo sengaja menjadi pengamat. Sebuah "pekerjaan" yang menjadi medium pengalihan energi melimpah yang seharusnya digunakan untuk pacaran, lalu sibuk mengantar pasangan ke sana-ke mari mencari alamat dan tempat makan.

Menjadi pengamat bukan pilihan mudah bagi jomblo. Jalan kehidupannya rumit. Hinaan dan cacian bagai makanan sehari-hari yang senantiasa berpaket dengan kesabaran. Tetapi, tidak banyak yang tahu, beberapa orang memutuskan sendiri sebab inginnya begitu. Jomblo adalah jalan hidup. Bukan makhluk jalang, lagi hidup. Hahaha.

Alih-alih memutuskan pacaran, spesies jomblo punya alasan atas konsistennya dalam kesendirian. Kau tahu kenapa? Karena jomblo adalah makhluk berbudi luhur. Merebut pacar orang lain atau mengganggu seseorang yang ingin membangun sebuah mahligai pacaran, hanya akan mencoreng status dan nama baik jomblo.

Kau boleh tidak percaya, tapi mari saya beritahu, cukup banyak jamaah jomblo yang sudah tercerahkan hidupnya. Kaum jomblo jenis ini boleh dikata telah mencapai taraf makrifat kehidupan. Mementingkan kebahagiaan seseorang dengan membukakannya jalan menuju hati orang lain--walaupun sebenarnya dia pun punya kesempatan besar untuk itu. Sungguh sebuah tujuan mulia dengan dalih yang cukup sialan rasanya. Boleh muntah? Ya. Hahaha.

Jadi, wahai...kalian-kalian makhluk-berpasangan...berhentilah kiranya menghina jomblo. Sekali kau caci, jomblo punya 1.001 macam cara untuk membuatmu putus dengan kekasih hati. Ancaman yang cukup menyeramkan, memang. Tetapi, itu pun akan dilakukan kalau insan jomblo yang semoga dirahmati Tuhan, merasa terdesak.

Kau tahu?! Ibarat sabar, jomblo (sendiri) juga ada batasnya.

---ALHAMDULILLAH TAMAT---

SELFIE (SWAFOTO)

No Comments »

Siapa yang tak mengenal Elvi Sukaesih? Salah satu penyanyi legendaris berkebangsaan Indonesia yang dijuluki Ratu Dangdut. Kenal tidaknya, tak masalah. Saya tidak sedang membahas tentangnya dan betapa merdu suaranya. Status ini tentang selfie (swafoto). Memotret diri sendiri.

Ada cukup banyak indikator untuk menjadi orang baik. Sedikit di antaranya (menurut sebagian warga Indonesia) minimal memenuhi dua parameter ini: rajin menabung dan tidak makan sabun. Saya tidak yakin, apakah rajin ber-selfie termasuk ke dalam variabel tersebut. Tetapi, sependek sepengetahuan saya, beberapa perempuan menolak lelaki dengan alasan terlalu baik, bukan karena sedikit-banyaknya koleksi foto selfie di telepon genggamnya. *bahas apa ini, woey?!*

Ada berapa banyak koleksi foto selfie (swafoto) di telepon genggammu? Tidak usah dijawab. Cuma basa-basi. Saya pribadi belum menghitungnya, tetapi bisa dipastikan, jumlah koleksi foto selfie saya tak lebih dari hitungan jari tangan dan kaki. Sedikit saja, memang. Apakah itu sebuah bentuk ketertinggalan saya di era kekinian? Entahlah.

Hanya saja, saya seringkali berpikir, swafoto (bisa jadi) adalah sebuah bakat. Di luar dari jenis kamera, agaknya hanya orang berkemampuan khusus sajalah yang bisa melakukannya. Jika benar begitu, kayaknya saya tidak dianugerahi bakat dari Tuhan untuk ber-swafoto.

Saya suka iri dengan kawan lain yang memiliki kemampuan itu. Wajah bahagia, tanpa beban, lepas, dan bebas. Seperti itulah interpretasi saya melihat foto-foto selfie teman-teman. Dengannya, membuat saya terprovokasi untuk ikut melakukannya.

Pernah suatu waktu saya menyiapkan jadwal khusus untuk latihan selfie. Mengasah kemampuan agar tercipta foto pribadi yang ketjeh, beradab, dan berketampanan sosial. Perbuatan ini dilakukan secara diam-diam. Tanpa sepengetahuan keluarga, teman, kecuali Tuhan.

Salah satu foto yang saya unggah ini, termasuk salah satu swafoto dari cukup banyak percobaan yang tidak diharapkan. Di mana, saat kulihat hasil jepretannya, ada perasaan berdesir di dada. Kuyakin itu bukan cinta, tetapi semacam perasaan ingin menonjok muka sendiri. Fotonya sengaja saya edit sedemikian rupa, agar tak tampak hina. Sungguh, saya kelihatan bangsat kalau lagi selfie. Seperti bukan Syachrul Arsyad yang kalem sebagaimana biasanya. Hahaha *muntah*

Barangkali saya termasuk generasi yang patut dikasihani, karena tak berkompeten menghasilkan foto selfie yang bisa mendulang banyak tanda "love" di instagram. Disebut kurang percaya diri mungkin ada benarnya. Tetapi, selfie sepertinya memang bukan gayaku. Pegang tongsis saja, tangan saya bisa sampai gemetaran.

Kini kau tahu, selfie bukan bakatku. Tapi kalau diajak wefie sama kamu, sepertinya saya mau.

KISAH MASA BELIA (Sebuah Cerita Tak Penting)

No Comments »

Siapa yang tidak kenal Syachrul Arsyad? Tentu saja tidak ada. Wajar. Dia bukan artis. Bukan pula sejenis ‘oppa-oppa’ macam manusia Korea. Tetapi...ada sebuah cerita, yang olehnya direkomendasikan jangan dibaca, karena mengandung unsur tidak penting. Begini...

Ada foto. Itu. Penampakan Syachrul Arsyad waktu masih belia. Wajah semasa masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), yang dipotret dalam keadaan jomblo. Ketika masih kanak-kanak dulu, urusan pacaran belumlah terlintas di dalam kepalanya yang masih agak suci itu. Dipakai berpikir menjawab soal Matematika saja susah, apalagi buat memahami logika para wanita. Tetapi, itu dulu. Sekarang, masih... :v

Foto diri ini diambil dari ijazah SD. Di umur yang–kalau tidak salah ingat–sementara 12 tahun tersebut, Syachrul Arsyad belumlah akil baligh. Usia yang menurut kantor dinas kependudukan dan catatan sipil di daerah kelahirannya tidak bisa dibuatkan kartu tanda penduduk (KTP). Sebuah tanda pengenal memajang foto diri yang menunjukkan betapa kebebasan berekspresi manusia dibelenggu di situ.

Saya tidak mengajak untuk menatap dan menilai potret lelaki kecil yang dosanya belumlah banyak-banyak seperti sekarang. Tetapi, menurut pandangan objektif bapak dan mamaknya, terpampang nyata penampilan sosok lelaki cilik berwajah lucu, polos, lugu, (insya Allah) gagah, dan kalau mau narsis disebut manis juga boleh.

Itu perkataan orang tua. Saya percaya kekuatan kata-kata orang tua. Termasuk pengakuan barusan. Ucapan yang di dalamnya mengandung kejujuran, meski ada pula yang mungkin merasa ingin muntah saking tidak percayanya. Beberapa di antara pembaca yang budiman mungkin mengalami apa yang saya katakan tadi. Tidak ada yang memaksa, toh selera orang fitrahnya memang berbeda-beda.

Semasa SD, cita-cita Syachrul Arsyad termasuk tinggi. Sebab, kata ibu gurunya kala itu, bercita-cita mesti sampai setinggi langit. Kalau hanya setinggi arena panggung dangdutan, jatuhnya jadi Cita Citata. Hahaha! Garing? Iyes!!! *krik...krik...krik*

Menjadi dokter atau tentara termasuk dua dari cukup banyak impian mulia bagi lelaki yang lahir di benua Asia ini. Mengapa dokter dan tentara? Entah apa yang dipikirkannya saat itu, tetapi kedua profesi ini dipilih atas asas ke-keren-an semata; mulai dari tampilan seragam, hingga pekerjaan yang dilakukan.

Jika saja guru SD yang sama kembali mempertanyakan cita-cita tersebut kepada Syachrul Arsyad yang sekarang, tentu akan sedikit malu jadinya. Impian kerennya itu tidaklah tercapai, sebab dirinya tidak berusaha sekuat Satria Baja Hitam untuk menggapainya.

Akan tetapi, Syachrul Arsyad masih mengharapkan impian tersebut. Kalaupun tidak “menjadi”, paling tidak bisa “merasakan” hidup berdua bersama kekasih hati yang menjalani salah satu profesi tadi. Asem, eh, ehem! Namun, profesi dan dari kalangan manapun sebenarnya tidak jadi soal, asalkan ia perempuan. Dapat Raisa, Alhamdulillah, kebagian Pevita Pearce pun tidak masalah. Hahaha!

Sungguh, waktu begitu terasa sekali jalannya kalau hidup susah. Yang bahagia, pasti bilangnya hidup ini indah dilalui tanpa terasa. Apapun, Syachrul Arsyad wajib bersyukur menjalani masa keduanya. Sebab, ia sudah besar sekarang. Apanya? Itu, tinggi badannya nyaris 170 centimeter. Ia bisa begitu karena masih diberikan kesempatan bernapas oleh Yang Mahakuasa, rajin diberi makan orang tua dan tak lupa minum sehabis kenyang.

Selain tidur dan mandi sendiri, lelaki yang biasa disapa Syachrul ini juga sudah bisa bikin akun facebook dan mengingat password-nya sampai sekarang. Begitulah dia hidup di dua dunia, kini: nyata dan maya. Sebuah dunia di mana masing-masing orang boleh bersandiwara, berbahagia, atau saling menghina.

Entah dengan status tulisan ini–yang kisahnya dijalani di dunia nyata dan disebar ke dunia maya. Sebenarnya tulisan ini untuk konsumsi (arsip) pribadi semata. Tidak ada kepentingan pihak siapapun di dalamnya.

Bahkan sebenarnya saya yakin, impian jadi presiden malah bisa diraih seketika, jika ada orang tidak membuang waktunya membaca kisah seperti ini. Cerita yang tentu saja tidak penting dan jauh dari kesan menarik karena tidak membahas soal pilkada dan perselisihan agama–seperti status kebanyakan di facebook. (*)