Saya menamatkan buku ini kemarin malam. Tuntas dalam sehari. Novel tentang rencana pendakian ke Puncak Cartensz di Papua. Namun, dalam perjalanan berubah menjadi...(*lihat selengkapnya di google*).
Saya kira, tidak banyak novel perjalanan yang saya baca dengan latar gunung dan skenario pendakian yang menarik seperti dikisahkan dalam buku setebal 324 halaman ini. Cerita yang disuguhkan keren, isinya informatif, dan mungkin tak berlebihan kalau saya sebut sebagai novel yang cerdas meski bergenre fiksi.
Konflik yang ditawarkan pun tak biasa. Tentang persahabatan, namun semakin kompleks dengan adanya persekongkolan terselebung yang menyeret-nyeret pemerintah dan pabrik tambang sekelas Freeport. Tema percintaan yang ditawarkan pun bukan sesederhana perasaan hubungan sentimentil antara pria dan wanita, tapi lebih jauh lagi melibatkan urusan kecintaan kepada negara.
Membaca The Secret of Cartensz membuat saya ingin mengenal Papua lebih jauh lagi secara langsung. Impian terbang ke wilayah paling Timur Indonesia dan mendaki ke salah satu puncak tertinggi di dunia, Cartensz...semakin "unchunchunch"!
[KOLEKSI] IL PRINCIPE - Niccolo Machiavelli
Kalau sudah terlanjur jatuh cinta dengan isi sebuah buku, rasanya saya tak puas jika hanya membacanya dua atau tiga kali. Entah "kelainan" macam apa ini, tetapi saya senang betul dan seringkali terpanggil mengoleksi buku yang saya senangi dalam bentuk maupun versi yang berbeda.
Seperti halnya buku yang ditulis Niccolo Machiavelli ini. Untuk buku dengan judul serupa, saya sudah punya tiga versi dari penerbit yang berbeda. Selain tampilan sampul yang tidak sama, salah satu dari tiga buku yang saya punya ini ada pula yang dikemas dalam bentuk manga (komik).
Sudah. Itu saja dulu.
😄
Seperti halnya buku yang ditulis Niccolo Machiavelli ini. Untuk buku dengan judul serupa, saya sudah punya tiga versi dari penerbit yang berbeda. Selain tampilan sampul yang tidak sama, salah satu dari tiga buku yang saya punya ini ada pula yang dikemas dalam bentuk manga (komik).
Sudah. Itu saja dulu.
MAJALAH NATGEO EDISI JUNI 2017
Dijelaskan, berdusta agaknya sudah menjadi kebutuhan. Kita melakukannya sebab itu mudah. Manusia senang "mengeksploitasi" kebohongan demi keuntungan pribadi; menyembunyikan kekurangan, menjaga perasaan, dan untuk urusan pencitraan. Intinya, berbohong itu candu!
Ada cukup banyak kajian dan hasil penelitian ilmiah yang membeberkan betapa kebohongan itu begitu sulit dihindari. Sebab, seperti belajar berjalan atau berbicara, berbohong merupakan tonggak perkembangan manusia yang dimulai sejak masa kanak-kanak. Setidaknya, begitu menurut Kang Lee, psikolog University of Toronto.
Jadi, apa cara terbaik untuk menghambat gerak lincah kebohongan? Sayang sekali, jawabannya: tidak jelas. Layaknya cinta, dusta pun terlalu kompleks untuk masuk di ranah pembahasan ilmiah. Hahaha!
MERDEKA(?)
![]() |
| [POS 12] Gunung Lompobattang, Sulawesi Selatan |
Hari ini, sosial media sedang meriah. Semua status nyaris sama; satu tema tentang hari merdeka.
Berbagai macam harapan dibagi di dunia maya. Pasang status betapa cantik dan gagahnya mereka yang ikut upacara. Ada pula yang menyebar foto memegang bendera. Hormat merasa bangga menjadi Indonesia.
Maklum, Indonesia tengah bergembira. Tahun ini merayakan hari kemerdekaannya yang ke-72. Peringatan sakral yang menurut Soekarno dan Hatta pada tahun 1945, telah diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Semua orang tentu ingin merdeka. Dari hal apa saja yang menyiksa dirinya. Termasuk lepas dari tuntutan tanya, "kapan kamu menikah?"
Kalau pun ada yang tanya, apa yang sudah saya berikan kepada negara(?), setidaknya...tadi pagi, saya sudah ikut upacara.
😂 Sebenarnya masih ada, tapi itu saja dulu. Hahaha!
Dari lubuk hati yang paling dalam, saya ucapkan: Dirgahayu Republik Indonesia. Semoga wajahnya senantiasa ceria. Walau masih ada rakyatnya yang pura-pura bahagia. (*)




