Terpukau Keindahan Lembah Lowe

3 Comments »

Edisi Menelusuri Keindahan Kaki Gunung Bawakaraeng (Bagian - 2)

Cahaya matahari masih muda. Teman di luar tenda yang sudah bangun lebih dulu lantas meneriaki kami yang masih betah tidur merawat gigil di tubuh. Perjalanan masih berlanjut.


“Bangun...bangun...bangun! Sudah pagi. Ayo jalan,” begitu teriak seorang lelaki yang akrab disapa Bang Jack. Beberapa kali teriakan itu menggema di telinga. Saya terbangun, mencari telepon genggam dan melihat waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi. Sepagi ini, saya dan termasuk teman-teman seperjalanan lain sudah harus siap-siap untuk melanjutkan perjalanan kami ke tempat menarik lainnya.

“Ayo, bangun mi siap-siap pergi ke Lembah Lowe,” Bang Jack kembali mengimbau kami untuk bersegera bangkit dari tidur yang cuma beberapa jam saja. Perjalanan malam menuju Danau Tanralili cukup menguras tenaga. Lalu, pagi ini kami sudah mesti melanjutkan perjalanan yang memang sudah kami rencanakan sebelumnya: menuju Lembah Lowe.

Sayup-sayup di luar tenda sudah ramai terdengar orang berbincang-bincang. Rombongan kami yang berjumlah 10 orang sebagian sudah bangun dan sudah ada yang gesit menyiapkan sarapan. Membiarkan asap kopi mengepul di cangkir gelas dan menikmati bakwan yang digoreng oleh istri Bang Jack: Kak Alam, begitu namanya kami sapa.

Bang Jack beserta istrinya memang menjadi orang yang pertama kali merencanakan perjalanan ke kaki gunung Bawakareng. Selain mengunjungi Danau Tanralili, sepasang suami-istri ini juga yang menjadi “pelopor” perjalanan menuju keindahan tersembunyi di Lembah Lowe. Bang Jack sendiri menjadi leader dalam perjalanan karena lebih mengenal lokasi tersebut dibanding kami yang lain.

Menikmati secangkir kopi dan makanan ringan serta bakwan yang digoreng Kak Alam menjadi hidangan sarapan kami sebelum berangkat. Persiapan yang kami lakukan pun tidak serepot saat berangkat ke Danau Tanralili. Menuju Lembah Lowe kami sekadar mempersiapkan barang-barang seadanya yang diperlukan saja, semisal kamera untuk foto, begitupun makan dan minum selama perjalanan. Tenda dan beberapa peralatan pendakian lainnya sengaja kami simpan di dalam tenda biar barang bawaan tidak berat.

Dari Danau Tanralili menuju Lembah Lowe, kata Bang Jack, akan memakan waktu paling lambat dua jam perjalanan. “Itupun kalau jalannya santai,” sambungnya. Di sekitar Danau Tanralili, orang-orang di tendanya masing-masing masih menikmati sarapannya. Menikmati bincang-bincang pagi mereka, lalu kami yang bersegera menuju tempat yang oleh Bang Jack sebut “surga” tersembunyi lainnya di kaki Gunung Bawakaraeng.



Lembah Hijau

Lokasi Danau Tanralili berada di ketinggian 1.454 mdpl. Dari sini, perjalanan kami tentu bakal cukup panjang. Daerah yang bakal kami tuju bakal berada di ketinggian cukup jauh dari lokasi pemberangkatan kami. Menemui jalan tanjakan adalah hal yang pasti kami lalui.

Belum juga menapakkan kaki begitu jauh, kami sudah harus harus jalan mendaki. Baru saja menyeberangi sungai di dekat Danau Tanralili, kami harus siap menapaki jalan tanjakan nan licin. Tidak ingin memaksakan diri, kadang-kadang belum juga lama berjalan, kami harus berhenti sebentar karena kewalahan di perjalanan awal itu.

Meski lelah, kami senantiasa memotivasi diri sendiri: awal perjalanan yang berat akan berakhir dengan tempat tujuan yang indah. Yah, Lembah Lowe memang disebut-sebut sebagai keindahan tersembunyi di sini. Pesona Gunung Bawakaraeng tidak hanya sebatas keindahan puncak, lekukan gunung yang menarik dan pepohonan hijau yang tumbuh subur. Di kaki gunungnya saja, sudah banyak menawarkan destinasi wisata yang membuat para pejalan (wisatawan) tak betah tinggal di rumah. Lembah Lowe, salah satunya.

Lembah Lowe adalah sebuah lembah tersembunyi dan jarang terekspose, terletak di Gowa Sulawesi Selatan. Wisata alam ini sebenarnya berada di himpitan dua gunung yakni Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang. Karena belum begitu jelasnya jalur pendakian menuju Lembah Lowe, maka disarankan untuk tidak melakukan perjalanan malam dan dianjurkan untuk didampingi oleh pemandu yang telah mengenal medan ini.

Belum juga sampai di lokasi yang dituju, mata kami beberapa kali dimanjakan dengan pemandangan indah. Momen untuk berfoto tentu tidak bisa dilewatkan begitu saja. Lembah hijau yang luas. Saya kira mirip lapangan sepak bola, hanya saja lebih luas dan indah karena dikelilingi deretan gunung. Selain Danau Tanralili, kami juga melewati setidaknya dua danau lagi (yang entah namanya apa) menuju Lembah Lowe.


Lupa Peralatan

Tak perlu khawatir kekurangan air minum. Di daerah pegunungan, terlebih dalam perjalanan menuju Lembah Lowe, sungai yang jernih menjadi sumber air yang mampu melegakan dahaga dari lelah  selama menempuh perjalanan. Tinggal mengisi botol yang kosong, lalu rasakan kesegaran air sungai di pegunungan yang dinginnya alami dibanding lemari es yang ada di rumah.

“Sudah dekat mi ini. Ayo jalan lagi,” Bang Jack beberapa kali mengimbau untuk tidak terlalu lama beristirahat. Imbauannya itu sebenarnya lebih kepada memberi kami semangat agar terus melangkahkan kaki. Lembah Lowe memang sudah dekat, tapi kalimat itu sudah beberapa kali disampaikan Bang Jack meski sebenarnya yang kami rasakan masih cukup jauh. “Berapa lagi jauhnya, Bang?” tanya saya dalam hati.

Saya baru yakin dan percaya kalau Lembah Lowe memang sudah tidak jauh lagi sejak lokasi yang kami tuju itu sudah berada di depan mata. Perasaan senang menyeruak di dalam dada. Rasa bahagia mengalahkan lelah di tubuh kami.

Lembah lowe, lembah hijau yang dipenuhi rerumputan, sepaket dengan aliran sungai dan pepohonan yang mengelilinya menjadi tempat istirahat paling pas. Sepi dan damai rasanya. Hanya kami yang berada di lembah hijau nan luas ini.

“Keluarkan makanan. Ayo memasak. Lapar!” ucap salah seorang teman saat tiba di sebuah pohon dekat sungai untuk beristirahat. Namun, kekecewaan segera saja menyelimuti kami semua. Peralatan masak tertinggal di dalam tenda di Danau Tanralili. Sekali lagi, kami memeriksa tas masing-masing. Memang tak ada yang membawa barang tersebut. Jadilah kami hanya menikmati makanan ringan yang kami dan sisa bakwan yang digoreng Kak Alam pagi tadi di Danau Tanralili.


Di Lembah Lowe, kami menertawakan kealpaan masing-masing. Tak ada yang mengecek. Tidak ada yang saling mengingatkan kalau peralatan masak seharusnya tak luput dari tas bawaan kami. Mau bagaimana lagi, Lembah Lowe sudah terlanjur membuat kami terpesona. Segala hal yang membuat lelah dan kecewa tidak menjadi alasan bagi kami untuk tidak berlama-lama menikmati keindahan Lembah Lowe. (*)


Menyapa Pagi di Danau Tanralili

No Comments »

Edisi Menelusuri Keindahan Kaki Gunung Bawakaraeng (Bagian - 1)

Pagi hari di Danau Tanralili, udara cukup membuat tubuh menggigil. Sleeping bag (kantong tidur) seakan tak cukup menghindarkan diri dari suhu dingin. Dari luar tenda, terdengar beberapa percakapan tentang pagi dan juga teriakan mencari secangkir kopi.


Mata enggan tertutup lagi. Suhu dingin tak cukup ampuh membuat saya betah di dalam kantong tidur. Cahaya matahari masih muda. Belum begitu terik, tapi cukup sebagai penanda dari dalam tenda kalau pagi telah tiba. Saya beranjak keluar, bangun dari lelap usai mengistirahatkan lelah dari perjalanan malam hari yang menguras tenaga.

Saya bukan orang pertama yang bangun pagi hari itu. Beberapa orang sudah lebih dulu beranjak dari tendanya masing-masing. Bahkan, banyak di antaranya yang sudah membuka pagi dengan percakapan, memainkan musik, menyiapkan sarapan, dan memasak air panas untuk menyeduh teh maupun kopi.

Di tempat saya sendiri memasang tenda, teman rombongan yang melakukan perjalan bersama ke tempat ini pun juga mulai melakukan hal yang sama. Menikmati pagi di Danau Tanralili terlalu singkat jika hanya menikmati air putih dan sepotong roti.

Pagi yang indah. Segelas teh dan juga kopi mengawali aktivitas kami di tempat ini. Kami mengisinya dengan perbincangan tentang rencana perjalanan selepas sarapan nanti. Tapi, pengalaman melakukan perjalanan untuk sampai mendirikan tenda beristirahat di Danau Tanralili tak luput dari pembicaraan kami.


Waspada! Jalur Terjal

Perjalanan menuju Danau Tanralili memang tak mudah. Letaknya di daerah pegunungan, tepatnya di kaki Gunung Bawakaraeng. Meski sebutannya di “kaki gunung”, bukan berarti kita tidak melakukan pendakian. Beberapa trek agak curam dan terjal. Perlu kehati-hatian dan kewaspadaan mencari pijakan kaki yang pas. Salah-salah menginjak batu dan tanah yang licin, bisa-bisa kaki terpleset.

Akan tetapi, sulitnya trek menuju Danau Tanralili serta-merta tak membuat para pengunjung melewatkan “surga” di kaki Gunung Bawakaraeng. Beberapa pendaki bahkan ada yang menyebut; Danau Tanralili di kaki Gunung Bawakaraeng adalah “Ranu Kumbolo”-nya Gunung Semeru, tapi versi Kabupaten Gowa, Sulsel. Entahlah, saya sendiri belum pernah berkunjung ke Jawa Timur di mana Danau Ranu Kumbolo berada.

Sejak keindahan lokasi wisata alam ini mulai terekspos ke masyarakat luas berkat bantuan internet dan media sosial, orang-orang mulai tertarik ke tempat yang berlokasi di Desa Lengkese, Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan ini. Jika dari Makassar menuju Malino, menghabiskan waktu kurang lebih 2-3 jam perjalanan hingga tiba di Desa Lengkese.

Di desa inilah, para pendaki yang hendak ke Danau Tanralili memarkir kendaraannya di rumah warga yang memang menyediakan lahan parkir. Di Desa Lengkese merupakan tempat para pengunjung melakukan registrasi (pendaftaran). Biaya masuk pendakian dikenakan tarif Rp2.000 per orang. Di tempat ini pula, barang-barang bawaan pengunjung yang berpotensi menjadi sampah akan dicatat untuk kembali diperiksa sepulang pendakian.

Saya bersama teman rombongan lain yang berjumlah delapan orang juga melakukan alur registrasi yang sama. Sebelumnya, kami sudah bersepakat akan melakukan pendakian pada malam hari. Beberapa teman di antara rombongan kami berujar, melakukan pendakian di malam hari lebih dinikmati dan tidak begitu menguras tenaga ketimbang pagi hari. Salah satu alasannya, katanya, trek perjalanan yang terjal itu tidak mengganggu psikologis diri (khawatir atau mungkin ketakutan) selama melakukan pendakian.

Lelah dan rasa haus beberapa kali membuat kami harus singgah. Ada beberapa tanjakan yang memang cukup tinggi dan sulit dicapai. Menguras tenaga–dan tentu saja juga pikiran–karena  tetap saja rasa khawatir itu muncul. Di beberapa rute perjalanan memang bisa membuat kita rawan jatuh ke dalam jurang jika tak hati-hati. Tanah di sini rawan mengundang longsor. Beberapa petugas yang bertanggung jawab terhadap Danau Tanralili bahkan memagari beberapa lokasi jalan yang dianggap rawan bagi para pendaki.


Mendirikan Tenda

Ada sekitar dua jam waktu yang kami habiskan dari tempat registrasi di Desa Lengkese dengan berjalan hingga akhirnya tiba di Danau Tanralili. Saya menyempatkan diri melihat telepon genggam dan melihat waktu menunjukkan pukul setengah 12 malam. Sebelum mencari tempat mendirikan tenda, kami menunggu teman yang ketinggalan.

Tak mudah mencari lokasi tempat kami menginap di sini. Apalagi sudah tengah malam. Beberapa pendaki yang lebih dulu tiba di lokasi ini, sudah mendirikan tendanya di tempat terbaik untuk beristirahat. Kami agak bingung juga rasanya. Segera ingin mengistirahatkan lelah, tapi masih mencari tempat untuk mendirikan tenda. Tak mau berlama-lama, kami akhirnya menetapkan tempat. Beberapa meter dari Danau Tanralili. Kontur tanahnya memang tidak rata dan sedikit berbatu. Tak mau ambil pusing, tenda akhirnya didirikan.

Tidak luput, bahan makanan dan peralatan masak-memasak juga segera dikeluarkan dari tas. Lapar menjalar di perut kami sedari tadi. Teman dalam rombongan kami yang berstatus suami-istri sengaja menyiapkan makanan yang istimewa. Ada ayam yang bersiap digoreng, sayur-sayuran yang bakal dibuat bakwan, dan atau ditumis, serta beberapa penganan kue sebagai pengganjal perut sebelum menyantap makan malam kami yang sudah kelewatan waktunya.

Begitulah kami melewatkan perjalanan malam menuju Danau Tanralili. Makan malam telah tandas, usai dengan sabar merawat lapar selama perjalanan melelahkan. Tidak ada yang lebih nikmat selain melewati malam dengan menyeduh secangkir kopi sambil menikmati dinginnya malam Danau Tanralili.

Di tempat ini, malam terasa panjang. Rombongan kami baru mulai beristirahat menjelang subuh. Kondisi Danau Tanralili yang tak pernah hening dari keramaian dan perbincangan para pendaki lain saat itu, membuat saya salah mengira pagi nyatanya hampir menyapa kembali. Tubuh juga butuh istirahat. Rencana perjalanan di pagi hari masih akan berlanjut.

Meski tersisa beberapa jam lagi hingga pagi tiba, tidur menjadi salah satu agenda penting untuk memulai aktivitas baru. Agenda perjalanan pagi hari akan jauh lebih seru tentunya. Selain menikmati Danau Tanralili, rombongan kami berencana mengunjungi “surga” di kaki Gunung Bawakaraeng yang lain. Lembah Lowe, namanya. (*)



Melepas Penat di Air Terjun Pelangi

No Comments »

Kabupaten Gowa boleh dibilang surganya wisata air terjun. Entah sudah ada berapa air terjun yang di sana. Tapi yang jelas semuanya indah dan menarik minat pengunjung. Melalui Air Terjun Pelangi, daerah Gowa ini lagi-lagi menunjukkan pesonanya.


Berwisata sudah menjadi tren. Bahkan seolah berubah menjadi life style anak muda atau bersama keluarga. Melakukan perjalanan mencari, menemukan, dan menikmati keindahan alam seakan kebutuhan; beristirahat dari kepenatan pekerjaan nyaris seminggu atau mencoba menghibur diri sendiri.

Air Terjun Pelangi bukanlah pilihan terburuk untuk mengentaskan stres yang anda alami. Destinasi wisata di Kabupaten Gowa ini menawarkan pemandangan alam yang masih asri dan alami. Wajar saja, lokasi ini baru dibuka dan diperkenalkan sekitar sebulan yang lalu. Destinasi wisata ini terletak di Desa Jonjo, Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa. Jika dari Makassar, jarak tempuh menuju lokasi ini sekitar 60 km atau sekitar 2 jam dengan berkendara motor atau mobil.

Setiba di Desa Jonjo, sebelum memasuki daerah Air Terjun Pelangi, kendaraan harus diparkir di pekarangan rumah yang dimanfaatkan warga. Biaya parkir sebesar Rp3.000. Itu belum termasuk biaya karcis masuk Rp5.000.

Meski tergolong destinasi wisata baru, akses jalan menuju Air Terjun Pelangi sudah agak baik. Berkat swakelola warga desa di sana. “Biasanya kan yang dikeluhkan pengunjung itu kalau ke tempat (wisata) baru jalan masuknya yang susah, makanya itu dulu yang kita perbaiki,” tutur salah seorang warga yang ditemui di sana.

Nama ‘pelangi’ untuk air terjun ini sendiri, menurut penuturan salah seorang warga asli di sana, sengaja diambil untuk menarik minat perhatian warga. Bisa jadi, keindahan pelangi juga menjadi representasi tempat wisata ini. “Sebenarnya biasa ada juga muncul pelangi di sekitar air terjun itu, makanya dinamakan Air Terjun Pelangi,” tuturnya.

Bahkan, pondok-pondok bambu tempat warga berjualan dan sebagai tempat peristirahatan pengunjung telah dibangun. Sesampai di sini, pondok sederhana sebagai tempat peristirahatan itu disewakan Rp20.000 setiap petaknya. Pun disediakan ban karet untuk berenang bagi dengan harga sewa Rp10.000.

Bagi anda yang ingin berenang diharapkan tetap hati-hati. Sebab ke dalaman air di dekat air terjun mencapai 6-7 meter. Papan peringatan di sekitar air terjun sengaja dipasang untuk mengingatkan warga maupun para wisatawan. (*)

Di lokasi Air Terjun Pelangi, sudah banyak berdiri kios/warung sederhana dan juga gazebo bagi para pengunjung yang ingin beristirihat.
Seusai makan siang, beristirahat dan menikmati aliran sungai yang berada di sekitar Air Terjun Pelangi.

TNI Jadi Pejuang Literasi

No Comments »

Siapa bilang TNI hanya sekadar berjuang mempertahankan kedaulatan bangsa dengan senjata api di daerah konflik? Di Kabupaten Sinjai, TNI Angkatan Darat juga bisa menjadi pejuang literasi: membawa buku, menebar ilmu.
Salah satu kendaraan Babinsa Koramil 1424-01/Sinjai yang dijadikan perpustakaan keliling. (*FOTO: Kiriman Kasdim 1424/Sinjai)
Motor dinas yang dijadikan kendaraan operasional TNI Angkatan Darat dimodifikasi sedemikian rupa. Motor berbalut cat hijau tua itu diberi tambahan rak mini di bagian jok belakang. Rak itu berisi buku-buku yang akan dibawa berkeliling di wilayah terpencil.

Adalah Kodim 1424/Sinjai. Melalui Bintara Pembina Desa (Babinsa) Koramil 1424/Sinjai, motor yang disulap jadi perpustakaan keliling itu berkeliling di tiap kecamatan Kabupaten Sinjai. Menebarkan “virus” literasi.

Budaya literasi memang menjadi agenda penting dalam membangun peradaban bangsa, khusunya bagi para generasi muda. Hal ini jugalah yang kemudian memotivasi TNI untuk ikut terjun langsung di lingkungan masyarakat menyediakan bahan bacaan bagi anak-anak yang belum memiliki perpustakaan di daerahnya. “Program ini sebenarnya program Kodam VII/Wirabuana. Bukan hanya di Sinjai saja, di beberapa kodim di Sulsel juga sudah mulai menjalankan perpustakaan keliling ini,” tutur Kepala Staf Kodim 1424/Sinjai, Mayor Infanteri Mansur saat diwawancara via selulernya, Selasa (19/7) lalu.

Dituturkan Mansur, perpustakaan keliling oleh Kodim 1424/Sinjai ini sudah berjalan sejak 14 Juli lalu. Setidaknya, masing-masing koramil memiliki satu motor yang dijadikan perpustakaan keliling. “Motor yang jalan untuk sementara ini ada enam. Masing-masing koramil 1 motor. Ke depannya, kita harap semua Babinsa sudah harus punya,” ungkapnya.

Perpustakaan Babinsa Kodim 1424/Sinjai ini beraktivitas tiap hari. Kunjungannya memang diutamakan ke wilayah-wilayah terpencil. Hal itu melihat di daerah terpencil belum banyak buku bacaan yang menjangkau anak-anak di sana.

“Kita juga jalan di sekolah. Tapi fokus di wilayah terpencil. Masyarakat kita tentu butuh ilmu pengetahuan, namun buku-buku bacaan seringkali tak menjangkau wilayah terpencil,” beber Mansur. “Makanya, kita membantu membawakan buku-buku yang dibutuhkan masyarakat.

Setidaknya ada puluhan judul buku dalam satu motor yang dibawa dengan genre yang berbeda pula. Tidak hanya anak-anak, orang tua pun diharapkan bisa terbantu dengan gerakan ini. Bagi masyarakat yang berprofesi sebagai petani, misalnya, juga disediakan buku tentang pertanian ataukah perkebunan. Pun buku tentang pengetahuan agama. Untuk bantuan buku-bukunya sendiri, Kodim 1424/Sinjai bekerjasama dengan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Sinjai, Perpustakaan Daerah, dan Kemenag Sinjai.

Perpustakaan keliling ini, lanjut Mansur, juga punya misi mengalihkan perhatian anak-anak dari dunia game di smartphone. “Sekarang inikan banyak game yang membuat anak-anak tergiur. Makanya dengan program ini kita berusaha untuk mengalihkan perhatian anak-anak dengan menjalankan program perpustakaan keliling. Membaca lebih baik daripada hanya bermain game. Dengan membaca, waktu tidak terbuang sia-sia,” terangnya.
Kehadiran perpustakaan keliling oleh Babinsa Kodim 1424/Sinjai inipun disambut baik. Animo masyarakat, khususnya anak-anak cukup tinggi. “Anak-anak senang. Selama inikan anak-anak mungkin lihatnya yang pakai motor di daerahnya barangkali cuma tukang bakso. Nah, sekarang ini buku. Masyarakat senang, termasuk orang tua. Dimana kita lihat tempat keramaian. Di situ kita akan singgah,” terang Mansur.

“Harapan kami mudah-mudahan adik-adik di sekolah bisa giat dan termotivasi belajar, serta masyarakat terbantu dengan adanya Babinsa yang melaksanakan perpustakaan keliling. Sehingga bangsa ini tidak ada yang luput dari ilmu pengetahuan, baik ilmu agama, bela negara, kebangsaan, dan ilmu yang lain,” tambahnya.
*FOTO: Kiriman Kasdim 1424/Sinjai
Fasilitas Internet

Tidak hanya menjalankan program perpustakaan keliling, dikatakan Mayor Infanteri Mansur, Kodim 1424/Sinjai dalam waktu dekat juga akan menyediakan jaringan internet bagi masyarakat di daerah terpencil. “Jadi kita juga akan jalan dengan membawa smartphone, misalnya, modem atau fasilitas Wi-Fi nantinya,” kata Mansur.
Dengan disediakannya fasilitas jaringan internet ini, masyarakat juga akan dibimbing untuk menjadi masyarakat cerdas dengan ber-internet secara sehat. Dibimbing menggunakan jaringan internet untuk berselencar di dunia maya: mencari dan menambah ilmu.

“Masyarakat akan dibimbing menggunakan internet, kemudian kita memberikan petunjuk untuk membuka website tentang bela negara. Jadi pengetahuan tentang bela negara bisa juga pahami,” pungkasnya. (*)