MERDEKA(?)

No Comments »

[POS 12] Gunung Lompobattang, Sulawesi Selatan

Hari ini, sosial media sedang meriah. Semua status nyaris sama; satu tema tentang hari merdeka.

Berbagai macam harapan dibagi di dunia maya. Pasang status betapa cantik dan gagahnya mereka yang ikut upacara. Ada pula yang menyebar foto memegang bendera. Hormat merasa bangga menjadi Indonesia.

Maklum, Indonesia tengah bergembira. Tahun ini merayakan hari kemerdekaannya yang ke-72. Peringatan sakral yang menurut Soekarno dan Hatta pada tahun 1945, telah diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Semua orang tentu ingin merdeka. Dari hal apa saja yang menyiksa dirinya. Termasuk lepas dari tuntutan tanya, "kapan kamu menikah?"

Kalau pun ada yang tanya, apa yang sudah saya berikan kepada negara(?), setidaknya...tadi pagi, saya sudah ikut upacara. ðŸ˜‚ Sebenarnya masih ada, tapi itu saja dulu. Hahaha!

Dari lubuk hati yang paling dalam, saya ucapkan: Dirgahayu Republik Indonesia. Semoga wajahnya senantiasa ceria. Walau masih ada rakyatnya yang pura-pura bahagia. (*)

Semalam Bersama Gaspar

No Comments »


Tidurku semalam nyenyak betul. Menyenangkan sekali membaca novel ini sebagai pengantar tidur. "24 JAM BERSAMA GASPAR" adalah anti-tesa dari sebuah cerita detektif kebanyakan.

Alih-alih menampilkan kesan mengerikan bagi pembaca, bagi saya, ceritanya malah jadi menggemaskan. Ditambah lagi diisi berbagai tokoh yang penamaannya cukup aneh dengan karakter yang ganjil.

Namun, baik tokoh dan peristiwa,dikemas dengan rapi sehingga saya tak perlu membolak-balikkan halaman untuk kembali mengingat-ingat alur kejadian.

Siapapun yang berniat menjadi salah satu tokoh dalam cerita ini, kayaknya hanya menunggu waktu sebelum dirinya menjadi gila.


Dan salah satu kutipan favorit dalam buku: "Semua orang terlahir untuk menjadi keparat, dan siapa pun yang berkata sebaliknya pastilah delusional--atau kalau tidak, ya pendusta kelas berat." (Hlmn. 170)

RAISA (MANTAN TERINDAH)

No Comments »

sumber foto: instagram

Tulisan ini bukan dalam rangka ikut-ikutan menanggapi tulisan adek Afi maupun kakak Gilang yang--katanya--lagi numpang tenar dengan mengkritik tulisan perempuan muda yang tengah duduk di bangku SMA itu.

Ada perihal yang lebih kompleks dari bahasan itu saya kira. Bukan urusan yang jauh dari singgungan soal agama yang memantik sumbu di kepala. Tetapi, murni perkara cinta yang gaungnya bikin sesak dada. Ini soal kabar pertunangan Raisa!

Tanpa mengurangi kegalauan saya, izinkan saya mengucapkan selamat berbahagia atas pertunangan Raisa dengan lelaki-yang-tidak-disebutkan-namanya. Ucapan yang ingin kuutarakan langsung lewat video call, tapi sayang nomor HP-nya pun saya tak punya. Ungkapan tak ikhlas yang sebenarnya ingin saya sampaikan melalui DM (direct message) via instagram atau twitter milik Raisa, namun khawatir tak dijawabnya.

Jadi, demi meminimalisir rasa sakit hati berkelanjutan, saya tuliskan saja di sini. Raisa sepertinya tak punya waktu untuk sekadar membaca pesan personal dari salah satu dari sekian ratus juta penggemarnya di seluruh tanah air Indonesia.

Sebagai salah satu fans-garis-lembut Raisa, saat ini saya berada dalam keadaan yang ambigu. Perasaan jadi cenat-cenut rasanya. Sejak menerima kabar pertunangan ini semalam, makan serasa tak enak, tapi Alhamdulillah tidur tetap nyenyak. Saya bahagia melihat Raisa, lalu menjadi marah tiap kali membaca berita tentang lelaki yang kini bersamanya.

Saya tak ada niat mencaci-maki lelaki-yang-tidak-disebutkan-namanya itu. Tunangan Raisa ini kayaknya hanyalah lelaki kemarin sore. Baru muncul dan mendekati Raisa ketika putus dengan Keenan, saudara Pevita Pearce.

Saya bahkan sudah mengikuti Raisa sejak follower IG-nya masih berkisar di angka 150K. Saya mengaguminya jauh sebelum lagu "Jatuh Hati" diciptakan dan dinyanyikan di banyak televisi swasta. Entahlah, apakah ini sebuah bentuk kesombongan yang pantas dipamer atau tidak, tetapi saya sedang kesal, galau, dan butuh bahu untuk bersandar.

Rasa-rasanya, saya tak sanggup lagi mau bilang apa. Kalau mau lebay, kata-kata, kini...nyaris menjadi air mata. Cinta seakan kehilangan defenisi. Kehilangan ruang untuk sekadar singgah di hati. *omong kosong apa ini?!*

Raisa...adalah kamu yang bikin saya belajar. Seperti bahagia, galau juga sepertinya sederhana; cukup dengan melihat kabar pertunanganmu dengannya.

Mau dikatakan apa lagi, kita tak akan pernah satu. Engkau di sana, aku di sini, meski hatiku memilihmu. Yang telah kau buat sungguhlah indah, buat diriku susah lupa.

Lagu "Mantan Terindah" tidak seperti biasanya. Malam ini, syair dan iramanya serasa bikin pedas telinga, menyayat sanubari di dalam dada, kemudian ingin menangis dari balik jendela. (*)



#HariPatahHatiNasional

*p.s.: tulisan ini tidak untuk ditanggapi atau dikritik. Buang-buang waktu!

JOMBLO, NASIBMU KINI...

No Comments »

Jomblo itu tercipta sebagai pengamat. Ya, pengamat hubungan orang lain. Tak heran, jomblo itu kadang-kadang lebih tahu (atau lebih tepatnya getol berkomentar) persoalan pelik dunia per-pacaran yang adil dan beradab.

Mengapa demikian? Sebab, jomblo tidak berada dan menjadi laiknya katak dalam tempurung. Posisi "bebas" membuat jomblo bisa melihat banyak masalah dari berbagai sudut pandang. Tanpa harus terganggu atau diintervensi pacar ataupun selingkuhan orang lain.

Jomblo itu independen. Berdiri sendiri. Bukan keputusan yang keliru, jika ada lelaki atau wanita kasmaran yang sedang bermasalah dalam soal asmara, meminta saran dan kalimat-kalimat super dari kaum jomblo. Sebagai pengamat yang dituntut berpandangan obyektif, jomblo selayaknya adil sejak dalam pikiran dan perbuatan.

Soal memberi solusi hubungan percintaan orang lain, jangan ditanya lagi. Jomblo bisa menjelma bak Pegadaian; mengatasi masalah tanpa masalah. Berbagai pengalaman "mengamati" etika dan tata cara pacaran orang lain, akan diakumulasikan menjadi sebuah saran yang konstruktif bagi pasangan Anda. Mau pisah atau menikah, insya Allah, jomblo siap diajak bekerjasama.

Jomblo itu kuat, tetapi juga sosok yang mudah lelah. Ya iyalah, karena banyak hal yang mesti diurusi dan diteliti. Mulai dari agenda kerja menguntit (stalking) di sosmed ataukah mencuri-dengar sebab-musabab pertengkaran pasangan orang lain. Sungguh, program kerja yang menghabiskan kuota (internet) dan tenaga.

Saking banyaknya energi yang meluap-luap, jomblo sengaja menjadi pengamat. Sebuah "pekerjaan" yang menjadi medium pengalihan energi melimpah yang seharusnya digunakan untuk pacaran, lalu sibuk mengantar pasangan ke sana-ke mari mencari alamat dan tempat makan.

Menjadi pengamat bukan pilihan mudah bagi jomblo. Jalan kehidupannya rumit. Hinaan dan cacian bagai makanan sehari-hari yang senantiasa berpaket dengan kesabaran. Tetapi, tidak banyak yang tahu, beberapa orang memutuskan sendiri sebab inginnya begitu. Jomblo adalah jalan hidup. Bukan makhluk jalang, lagi hidup. Hahaha.

Alih-alih memutuskan pacaran, spesies jomblo punya alasan atas konsistennya dalam kesendirian. Kau tahu kenapa? Karena jomblo adalah makhluk berbudi luhur. Merebut pacar orang lain atau mengganggu seseorang yang ingin membangun sebuah mahligai pacaran, hanya akan mencoreng status dan nama baik jomblo.

Kau boleh tidak percaya, tapi mari saya beritahu, cukup banyak jamaah jomblo yang sudah tercerahkan hidupnya. Kaum jomblo jenis ini boleh dikata telah mencapai taraf makrifat kehidupan. Mementingkan kebahagiaan seseorang dengan membukakannya jalan menuju hati orang lain--walaupun sebenarnya dia pun punya kesempatan besar untuk itu. Sungguh sebuah tujuan mulia dengan dalih yang cukup sialan rasanya. Boleh muntah? Ya. Hahaha.

Jadi, wahai...kalian-kalian makhluk-berpasangan...berhentilah kiranya menghina jomblo. Sekali kau caci, jomblo punya 1.001 macam cara untuk membuatmu putus dengan kekasih hati. Ancaman yang cukup menyeramkan, memang. Tetapi, itu pun akan dilakukan kalau insan jomblo yang semoga dirahmati Tuhan, merasa terdesak.

Kau tahu?! Ibarat sabar, jomblo (sendiri) juga ada batasnya.

---ALHAMDULILLAH TAMAT---