Bersama Menikmati Alam Bahari Sehari Semalam

No Comments »

Siang yang cerah dan panas, perahu sudah bersandar dan menunggu di pelabuhan Maccini Baji. Sebentar lagi siap mengantarkan kami ke seberang, menuju Pulau Cambang-cambang. Perahu yang sudah kami pesan sehari sebelum berangkat ke tempat wisata yang berlokasi di desa Mattiro Baji, kecamatan Liukang Tupabiring Utara, Kabupaten Pangkep.
Kabupaten Pangkep, selain dikenal salah satu daerah penghasil ikan bandeng, juga memiliki begitu banyak potensi pariwisata. Terutama pulau-pulau eksotis yang memiliki keindahannya masing-masing.
Berkunjung ke Pulau Cambang-cambang, kami menyewa perahu rakyat atau dikenal dengan sebutan jolloro’ dengan tarif Rp150 ribu untuk pulang pergi ke pulau. Sambil menunggu pemberangkatan, beberapa orang teman dibantu satu awak yang punya perahu, terlebih dahulu membelikan dan beberapa persediaan makanan untuk dinikmati di pulau nanti.
Mesin perahu berderu, satu per satu dari kami sudah mengambil posisi ternyaman masing-masing di perahu yang ukurannya sudah cukup menampung kami sekitar 17 orang. Selasa,2 Juni lalu, kru FAJAR PENDIDIKAN memang mengagendakan jadwal liburan ke salah satu destinasi wisata bahari andalan di kabupaten Pangkep itu.
BERANGKAT. Mengatur posisi di duduk dalam perahu yang akan membawa kami ke Pulau Cambang-cambang
Tidak cukup lama kami berada di lautan, sekitar 15 menit, perahu yang kami tumpangi sudah tiba di lokasi yang kami tuju. Ramai. Begitulah suasana Pulau Cambang-cambang hari itu. Di dermaga sudah banyak wisatawan lain yang tengah sibuk lalu-lalang untuk mengangkut dan mempersiapkan barangnya untuk segera menikmati suasana pulau.
Hal yang pertama kami lakukan usai tiba di dermaga adalah segera mencari tempat yang nyaman untuk kami tempati di pulau itu. Di sana memang sudah banyak tersedia gazebo yang secara khusus disediakan bagi wisatawan.
Siapa cepat, dia yang dapat. Sepertinya, begitulah “hukum” yang berlaku di sana jika ingin menempati salah satu gazebo di sana. Maklum, belum ada peraturan khusus bagi wisatawan untuk menggunakan fasilitas tersebut, dengan menyewa, misalnya. Kami sendiri memilih salah satu gazebo yang berada di tepipulau. Itupun sesaat pengguna sebelumnya baru saja berberes dan meninggalkan tempat tersebut.


Pulau Cambang-cambang saat ini tengah memasuki tahap revitalisasi. Destinasi wisata di kabupaten ini digadang-gadang bakal menjadi salah satu kawasan wisata terbesar di Pangkep, bahkan Sulawesi Selatan. Master plan Pulau Cambang-cambang yang sudah tersebar di internet pun menampilkan betapa megahnya dan banyaknya fasilitas menarik yang bakal disuguhkan di tempat ini nantinya.
Penginapan di Pulau Cambang-cambang pun bisa digunakan secara bebas oleh pengunjung. Tempat yang diperuntukkan bagi para wisatawan ini belum dikomersilkan pemerintah setempat alias masih gratis. “Asalkan melapor dan meminta izin dulu sebelumnya ke petugas yang berjaga di pulau”. Begitu salah satu kata pria paruh baya yang menjajakan air tawar ke pengunjung untuk dipakai mandi usai berenang atau konsumsi air minum.
VILLA. Fasilitas penginapan (villa) yang disediakan di PulauCambang-cambang belum dikomersilkan pemerintah daerah setempat. Pengunjung (wisatawan) boleh menikmati fasilitas tersebut asalkan sebelumnya melapor ke petugas yang berjaga di pulau itu.
Setiap pengunjung punya caranya masing-masing menikmati Pulau Cambang-cambang. Ada yang menggelar lomba karaoke kecil-kecilan bersama keluarganya, berenang, atau hanya sekadar duduk memanfaatkan nikmat dan anugerah Tuhan yang dititipkan di pulau itu. Yang paling penting adalah bisa menikmati ikan bakar yang kami beli sebelum berangkat ke pulau. Semua serba sederhana namun terasa luar biasa.
Belum selesai juga berenang-renang atau sekadar bermain air usai menyantap ikan bakar, hujan akhirnya mengguyur Pulau Cambang-cambang. Bukannya berteduh, kami malah lanjut bermain bola. Apalagi lapangan dan gawangnya sudah tersedia di sana. Setelah membeli bola plastik, permainan pun dimulai. Hujan turun cukup lama, tapi kami baru berhenti setelah hujan reda. Lelah memang, tapi menyenangkan.
Hari sudah sore, kapal yang kami tumpangi sudah bersandar kembali di dermaga. Bersiap mengantar kami pulang. Namun, beberapa dari kami memutuskan menetap. Ingin merasakan bermalam di PulauCambang-cambang.Tenda dan beberapa peralatan penunjang memang sudah disiapkan. Ada lima orang dari kami yang memutuskan menginap di sana.
NIKMAT. Makan siang di Pulau Cambang-cambang dengan menyantap ikan bakar yang sebelumnya dibeli di pelabuhan Maccini Baji.
Kami mendirikan tenda tidak jauh dari gazebo yang kami tempati sebelumnya. Tepatnya di bawah lampu penerangan yang ada di sana. Kami juga bersegera membeli beberapa persediaan makan malam di salah satu toko yang tersedia. Pasalnya, toko yang ada di Pulau Cambang-cambang bakal tutup dan pemiliknya pulang ke seberang pulau.

Bisa dibilang, Pulau Cambang-cambang malam itu, serasa milik kami berlima. Sepi. Hanya desir dan deburan ombak yang menemani kami yang tengah asyik bermain kartu remi. Tidak banyak kegiatan yang kami lakukan malam itu. Dinginnya udara membuat kami ngantuk dan bersegera tidur di dalam tenda dengan tujuan terbangun esok pagi untuk menikmati sunrise. (*)

Menunggu sunrise (matahari terbit) di Pulau Cambang-cambang.

Menikmati Panorama Alam Air Terjun Wae Sai

No Comments »

Perjalanan pulang dari Soppeng ke Makassar sepertinya bakal merugikan jika tidak singgah ke tempat wisata. Lelah menjalankan tugas kantor seharian, sepertinya pas untuk menikmati keindahan alam di salah satu destinasi yang belum pernah dikunjungi sebelumnya.


Begitulah kira-kira pemikiran yang terlintas di dalam benak saya usai menjalankan tugas peliputan kantor di daerah berjuluk “Kota Kalong”. Kabupaten Soppeng. Dalam perjalanan pulang ke Makassar, saya dan seorang teman yang berboncengan motor memutuskan untuk pergi ke salah satu tempat wisata di kabupaten Barru. Air terjun Wae Sai, namanya. “Hitung-hitung itu menyegarkan diri dan menghilangkan stres usai bekerja,” pikirku. Sore itu, Selasa, 9 Juni lalu, kami berdua memutuskan pergi ke sana.
Destinasi wisata ini saya tahu, setelah sebelumnya memeroleh sedikit informasi di salah satu grup pejalan di media sosial bernama Makassar Backpacker. Sebuah grup di facebook. Baik saya maupun teman, sama-sama tidak pernah mengunjungi tempat itu. Namun air terjun Wae Sai terdengar begitu menarik untuk tidak dilewatkan. Apalagi, perjalanan pulang ke Makassar, melewati jalur menuju lokasi air terjun tersebut.

Pemandangan desa Libureng. Daerah di mana lokasi air terjun Wae Sai berada didukung pemandangan alam yang indah dan udara yang sejuk serta bersih.

Jujur saja, Saya kurang ahli memberikan petunjuk penjelasan mengenai lokasi keberadaan air terjun Wae Sai. Untuk bisa tiba di air terjun yang berjarak 40 km dari Kota Barru ini, perlu menempuh jalur pegunungan menuju Kabupaten Soppeng. Tapi berdasarkan informasi yang saya peroleh dari salah satu orang yang pernah ke air terjun Wae Sai menjelaskannya di grup FB Makassar Backpacker seperti ini;

Ikuti jalur trans Sulawesi sampai ketemu kota Barru di perempatan pertama. Dapat tugu adipura, belok kanan. Ikuti jalur itu sepanjang kurang lebih 20 km. Sebelum tanjakan ke Buludua, ada percabangan ke kanan. Ada plang (papan informasi, red) masuk ke lokasi air terjun sebelah kanan. Dari sini jalan mulai menanjak sampai sekitar 5-7 km. Ikuti jalan terus yang berganti dari aspal ke beton dan jalan berbatu. Sepanjang jalur ini kita disuguhkan pemandangan yang “wuiihh!”
Di ujung jalan, ada rumah sebelah kanan berwarna kuning. Nah, kendaraan bisa diparkir sekitar area situ. Trip dilanjutkan dengan jalan kaki melintasi sawah dan bamboo kurang lebih 10 menit. Setelah melewati sawah hutan bamboo akan tampak dua bangunan peristirahatan yang sudah tidak terurus.
Kita bisa menikmati indahnya air terjun Waisae dari sini atau turun menikmati hempasan airnya atau mencelupkan badan di area air terjun. Tergantung cara kita bermain,, main main main,, huraaa!


Informasi itulah kemudian yang saya jadikan petunjuk dan menjadi tertarik menuju tempat tersebut. Namun, petunjuk yang saya sadur dari grup Makassar Backpacker tersebut ternyata tidak semudah membacanya. Yah, perjalanan memasuki kawasan air terjun Wae Sai masih jauh.
“Masih ada sekitar 4-5 km masuk itu.” Begitu kata salah seorang perempuan paruh baya di sana yang kami temui saat hendak memarkir motor di salah satu rumah warga. Dikarenakan ada perbaikan jalan, motor harus diparkir dan mengharuskan kami berjalan kaki untuk melanjutkan perjalanan.
Usai melalui jalan yang menanjak dan berbatu, kami pun sudah memasuki sebuah daerah yang kelihatannya minim pemukiman warga. Di daerah di mana air terjun Wae Sai terletak. Tepatnya, di desa Libureng, kelurahan Lamporiaja, kecamatan Tanete Riaja di Kabupaten Barru. Namun, lokasi yang hendak kami tuju ini benar-benar masih jauh.

ANTAR. Akses jalan untuk melihat air terjun Wae Sai lebih dekat, sempat membuat bingung. Jadinya, salah seorang warga berbaik hati mengantar kami menuju jalan yang tepat.
Perkataan perempuan yang kami temui tadi, yang mengaku lokasi air terjun Wae Sai masih jauh itu terbayang-bayang di kepala. Sempat ada rasa putus asa untuk tidak melanjutkan perjalanan. Kami khawatir, malam akan tiba saat kami baru saja berada di lokasi itu nanti. Namun, rasa penasaran akan air terjun yang belum kami kunjungi sebelumnya mengalahkan niat untuk menghentikan perjalanan. Jadilah kami terus berjalan melewati jalan yang baru dibeton beberapa ratus meter, kemudian jalan berbatu di sepanjang jalan setelahnya.
Saya pikir, perjalanan panjang yang ditempuh dengan jalan kaki tidak ada ruginya juga. Selama perjalanan, kami disuguhi keindahan alam yang masih natural di desa itu. Hijau dari sawah dan pepohonan, awan putih, serta langit yang masih cerah membiru menaungi kami.

TEDUH. Suasana sore itu cerah tapi tak panas, namun meneduhkan.
Di tempat ini, jika kota nyaris jadi neraka, maka di desa ini boleh dikata nyaris jadi surga. Tak ada gedung-gedung tinggi yang berani mencakar langit, yang ada cuma gunung dan pepohonan yang menjulang tinggi melengkapi cerahnya pemandangan langit.
Selang berjalan cukup lama, pemandangan air terjun yang ingin kami kunjungi mulai terlihat dari kejauhan. Diapit oleh dua tebing tinggi. Menemukan air terjun Wae Sai benar-benar tidak mudah bagi saya dan teman. Niat menuju air terjun dan melihat lebih dekat, cukup membuat kami bingung. Entah berapa kali kami menjalani jembatan gantung yang ada di sana, dan melewati jalan menanjak yang sama untuk melihat puncak air terjun Wae Sai dari dekat.

KUDA. Meski tidak sedang berkunjung ke kebun binatang, menemui dan memotret seekor kuda juga menjadi kesenangan tersendiri.
Di tengah kebingungan, ada salah satu warga yang kebetulan melewati kami. Setelah bertanya padanya, ia mengantar kami sebentar meski tak sampai di lokasi. Tak lama berjalan, kami pun akhirnya bisa menemukan dan sampai ke tempat yang kami mau. Yeah! Melihat air terjun Wae Sai dari dekat. Menikmati dan mencintai alam ciptaan Tuhan begitu lekat. (*)

AIR TERJUN WAE SAI. Ketinggian air terjun ini mencapai puluhan meter. Akses menuju lokasi harus ditempuh berjalan kaki sekitar 20 menit ke titik air terjun.
MENGALIR. Air terjun Wae Sai berasal dari sungai Waruwue yang letaknya berada di dusun Wae Sai. Tak heran jika air terjun ini juga dimanfaatkan sebagai sumber air bersih bagi warga.

Benteng Pertahanan yang Bertahan dari Gempuran Zaman

No Comments »


Benteng Rotterdam masih berdiri kokoh di badan jalan kota Makassar. Mengeluhkan kisah, merengkuh sejarah budaya kontemporer. Bangunan tegak nan kokoh memunggungi kota seakan malu menatap zaman yang mulai tergerus era globalisasi.



Pagi menjelang siang, Rotterdam terlihat sepi pengunjung. Hanya pengelola/petugas yang sibuk merawat bahkan membersihkan beberapa bangunan maupun benda-benda purbakala. Sesekali terdengar teriakan segerombolan anak SD memecah sunyi di ujung jalan koridor yang pada pagi itu usai mengunjungi Museum La Galigo. Sebelumnya, di awal pintu masuk gerbang terlihat seorang lelaki dengan cekatannya membersihkan lumut menempel di dinding tembok.

Benteng Rotterdam atau Fort Rotterdam berlokasi di kelurahan Baru, kecamatan Ujung Pandang atau tepatnya di jalan Ujung Pandang Makassar, Sulawesi Selatan. Benteng Rotterdam sangat mudah dijangkau karena terletak di jalan yang dilalui kendaraan umum, berjarak 500 meter ke arah barat dari lapangan Karebosi.

Paling tidak berdasarkan perjalanan penulis, butuh sekitar 5-10 menit jikalau berangkat mulai Balaikota untuk tiba di lokasi tersebut. Terletak di tepi laut dan berhadapan langsung dengan pantai losari.

Memiliki luas areal 28.595,55 m2 dengan luas keseluruhan bangunan 11.805,85 m2, Benteng Rotterdam denah dasar segi empat dengan pintu besar di sebelah barat menghadap ke laut dan pintu kecil di sebelah timur. Bagian tembok dinding yang tertinggi 7 m dan bagian yang terendah 5 m, dengan ketebalan dinding 2 meter.

Sekilas dinding-dinding tembok benteng berwarna kehijauan. Mencoba menelusur lebih dekat mengitari sepanjang tembok mengitari bangunan-bangunan dalam kawasan benteng, ternyata warna kehijauan adalah lumut yang mulai menyelimuti tembok tersebut.

Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang?

Fort Rotterdam adalah nama yang diberikan Belanda setelah memenangkan perang dengan Kerajaan Gowa yang berakhir dengan penandatanganan perjanjian Bongaya, 18 November 1667. Benteng tersebut kemudian dikuasai oleh VOC (Perhimpunan Dagang Hindia-Belanda) dan benteng-benteng pengawal lainnya dihancurkan. Benteng ini kemudian diubah namanya menjad Fort Rotterdam, nama kota tempat kelahiran Gubernur Jenderal VOC, Cornelis Speelman.

Benteng Rotterdam adapula yang menyebutnya Benteng Ujung Pandang. Dinamakan demikian karena letaknya berada di sebuah ‘Tanjung’ yang dalam bahasa Makassar disebut ‘Ujung’ dan pada masa lampau di sekitar benteng banyak ditumbuhi hutan ‘Pandang’. Pandang di kota Makassar berarti Nenas. Dari sinilah cikal bakal penamaan Benteng yang juga kemudian dikenal dengan nama Benteng Rotterdam.

Sumber lisan yang berkembang di masyarakat, adapula yang menyebutnya ‘Benteng Pannyuwa (Penyu)’ karena bentuknya menyerupai Penyu, yang oleh masyarakat Makassar penyu menjadi simbol bermakna jaya di darat dan luat. Penyu merupakan hewan yang dapat hidup di dua alam, yakni di darat dan laut. Ini memberi pengertian bahwa Kerajaan Gowa dulu ingin memegang hegemoni di darat dan di laut.

Kini bangunan yang ada dalam kawasan benteng rotterdam tersebut dapat diidentifikasi dengan penamaan huruf abjad. Tentunya setiap penamaan huruf abjad gedung memiliki fungsi gedung yang berbeda. Pemberian abjad dari jumlah 16 gedung tersebut diberi penamaan A-P.

Secara keseluruhan bangunan dalam kawasan Benteng Rotterdam terdapat sebanyak 16 dimana 1 buah bangunan diantaranya didirikan pada zaman Jepang. Dari 16 gedung, juga diperkuat dengan lima sudut yang disebut Bastion masing-masing 5 Bastion.

Hampir tiap hari Benteng Rotterdam ramai pengunjung namun jika memasuki masa hari kerja, pegawai dari UPTD (Unit Pelaksana Teknis Dinas) Museum La Galigo dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar yang tengah sibuk lalu lalang di koridor gedung. Para pegawai ini memang berkantor di dalam benteng tersebut. Berkeliling memantau kawasan ataukah sesekali memandu pengunjung.

Tapi pagi itu, sebagian pegawai tengah sibuk membersihkan tembok maupun gedung, memindahkan barang purbakala hanya untuk sekedar dibersihkan ataukah memperbaiki bila barang dinilai rusak. Menurut pekerja yang tengah sibuk pada saat itu mengatakan bahwa barang yang diperbaiki tersebut memang sudah saatnya untuk perbaikan, tergantung dari kondisi benda maupun gedung tersebut.

Nilai Estetika Tetap Dijaga

Benteng Rotterdam mulai dibangun pada tahun 1545 pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-IX, Karaeng Tumapa’risi Kallonna dan pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-X, bahan dasar dinding pada awal pembangunan adalah dari tanah liat kemudian bertahap berganti dengan bata. Namun pada tahun 1667 pada masa pemerintahan Kolonial Belanda dinding benteng pertama kali mengalami perubahan dari bahan dasar bata menjadi padas.

Seiring berjalannya waktu dan proses perkembangan zaman seolah termakan usia, bangunan di Benteng Rotterdam yang berusia lebih dari empat abad tersebut sejatinya tetap saja butuh pemugaran. Hal ini dilakukan demi menjaga bentuk benteng sesuai sejak pertama kali dibentuk.

“Zaman boleh berubah, tetapi peninggalan zaman tetap dijaga sesuai bentuk aslinya. Oleh karena itu diadakan pemeliharaan dan perawatan secara berkala. Perawatan ini dilakukan tergantung dari kondisi benda maupun gedung tersebut,” ujar Muhammad Natsir, Staff Dokumentasi dan Publikasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Makassar.

Demi menjaga untuh berdirinya bangunan dan tanpa menghilangkan nilai geming (estetika)  dari setiap sudut gedung maupun barang yang ada di dalamnya. Setiap melakukan renovasi atau ataupun pemeliharaan, ada ketentuan tersendiri sebelumnya.

Perawatan dan pemeliharaan cagar budaya di kawasan (Benteng Rotterdam) dilakukan dilakukan dengan pembersihan, pengawetan dan perbaikan atas kerusakan dengan memperhatikan keaslian bentuk, tat letak, gaya, bahan dan/atau teknologi cagar budaya. Penulis mencoba menelisik hal ini dalam UU RI Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, dan memang benar hal inilah yang coba diterapkan dalam Benteng Rotterdam dalam hal pelestarian cagar budaya.

“Misalnya ingin mengganti bahan kayu yang digunakan di dalam gedung. Menggantinya itu harus dengan kayu yang sejenis dan ukuran yang sama sesuai aslinya, Menjaga nilai estitika gedung” kata Natsir. Begitupun dengan pemindahan ataupun pembersihan barang-barang, lanjut Natsir, mesti pakai aturan atau melihat data referensi suatu barang terdahulu untuk kemudian disesuaikan.

Rotterdam Milik Siapa?

Walaupun letaknya di Makassar, Sulawesi Selatan, kawasan cagar budaya Benteng Rotterdam termasuk asset kepemilikan nasional dalam hal ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Dimana unit pelaksana di kawasan tersebut adalah Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Makassar yang berkantor di kawasan benteng. Unit inilah yang kemudian secara teknis pelaksanaan diberikan tanggung jawab untuk menjaga maupun mengurus pemeliharaan Benteng Rottterdam.

Lain lagi dengan Museum La Galigo. Museum yang dulunya bernama Celebes Museum didirikan oleh pemerintahan Hindia-Belanda tahun 1938, kini secara resmi berubah nama menjadi Museum La Galigo sejak 1 Mei 1970. Selanjutnya di era otonomi daerah Museum La Galigo berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sulsel nomor 166 tahun 2001.

Meski pada 28 Juni 2001 berubah nama menjadi UPTD Museum La Galigo Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, organisasi tata kerja UPTD Museum La Galigo ini diatur berdasarkan Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 40 Tahun 2009, tanggal 28 Februari sampai sekarang.

Meski demikian, Benteng Rotterdam maupun Museum La Galigo toh tetap saja dapat dinikmati setiap pengunjung baik lokal maupun mancanegara. Mengutip kata Natsir, meski negara atau pemerintah tetap bertanggung jawab dalam hal ini, cagar budaya Benteng Rotterdam  tetap diyakini sebagai bagian masyarakat, untuk mensejahterakan dan dinikmati oleh masyarakat. Tugas khusus untuk menjaga harmoni dan pelestarian cagar budaya adalah masyarakat pula.

Sama halnya dengan Museum La Galigo. Bukan hanya sebagai tempat untuk memamerkan peralatan permainan rakyat, peralatan rumah tangga, maupun peralatan kesenian. Tetapi Museum La Galigo ini diharapkan mampu mengambil peran strategis untuk mencerdaskan bangsa, memperkuat kepribadian bangsa dan ketahanan nasional.

Pukul 11:45 Wita, matahari meninggi dan panas mulai menggerayangi. Sejenak penulis melepas lelah di salah satu warung yang berada tepat di depan benteng. Warung tersebut hanyalah satu satu dari sekian warung/kios yang banyak berjejer di pinggir jalan depan benteng. Sekumpulan warung/kios yang sengaja dibangun bagi para pengnjung yang ingin istirahat melapas dahaga dan lapar sehabis berkeliling di cagar budaya Benteng Rotterdam.

“Pak, es kelapa ta’ satu gelas nah,” ucapku memesan. “Oh, iye. Kita’ tunggu mi sebentar di’,” jawabnya sembari mempersilahkan ku duduk di tempat yang telah disediakan. Tak butuh waktu lama tuk menunggu, minuman dingin penyegar dahaga seharga Rp 5.000,- itu kini telah hadir disajikan di meja tempat saya duduk.

Sembari duduk menikmati es kelapa ditemani pemandangan lalu lalang kendaraan, penulis kembali mencoba memecah kesendirian dengan mencoba meresapi hasil percakapan dengan Natsir yang diakhiri dengan senyum sapa beberapa menit yang lalu. Tak ayal mata pun kembali melirik Benteng Rotterdam dari luar.

Pikirku, mungkin sengaja bangunan Benteng Rotterdam dibuat membelakangi/memunggungi kota. Agar suatu saat di masa depan jika ada masyarakat penasaran dengan wajah Rotterdam, harus terlebih dahulu masuk ke dalam kawasan benteng untuk memandangi wajah Rotterdam sebenarnya. Benteng Rotterdam, benteng pertahanan yang kini bertahan dari gempuran pengaruh globalisasi. Cagar budaya yang tetap lestari karena masih ada masyarakat yang tetap ikut peduli melestarikan.*)


SELAMAT PAGI

No Comments »

Apa kabarnya pagi esok hari?
|"Dini hari masih terlampau muda, upil bahkan belum kering sekarang"|


01.17 Wita [8 Maret 2014]